Menyampaikan informasi kepada publik bukan sekadar soal memastikan sebuah informasi tersampaikan. Bagi seorang humas, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan, mulai dari ketepatan informasi hingga dampak yang mungkin muncul setelah informasi tersebut diterima masyarakat.
Hal tersebut juga dirasakan Silvy Dian Setiawan, yang sebelumnya berkarier wartawan dan saat ini bertugas sebagai humas di TVRI.
Perpindahan peran tersebut membuatnya harus beradaptasi, terutama dalam menyampaikan informasi secara transparan tanpa menimbulkan salah tafsir.
Kepada RadVoice Indonesia, Silvy menceritakan pengalamannya menjalankan peran sebagai humas, termasuk bagaimana ia menentukan informasi yang perlu disampaikan kepada publik, dan cara menyampaikannya agar tetap proporsional.
Berawal dari Wartawan Menjadi Humas TVRI
Silvy mengawali kariernya sebagai wartawan di salah satu media nasional.
Seiring berjalannya waktu, ia melanjutkan karier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kemudian bertugas sebagai humas di TVRI.
Menurut Silvy, pengalamannya menjadi wartawan merupakan modal yang kuat baginya dalam mejalankan tugasnya saat ini.
“Banyak adaptasi yang harus saya lakukan selama bekerja menjadi humas, apalagi di lembaga publik,” kata dia.
Ia menjelaskan, wartawan dan humas memiliki pekerjaan yang beririsan, tetapi memiliki peran yang berbeda.
Sebagai wartawan, ia harus kritis dan lugas ketika menyampaikan informasi kepada masyarakat. Ada pula tahapan jurnalistik yang dijalankan salah satunya cover both sides.
Hal ini cukup berbeda ketika bekerja sebagai humas. Silvy mengungkapkan, sebagai perwakilan institusi ia harus berhati-hati menyampaikan informasi agar tidak memicu polemik atau salah tafsir.
“Sebagai humas, saya harus berpikir strategis dalam menjaga citra lembaga dan harus patuh terhadap aturan lembaga tempat saya bekerja,” katanya.
Peralihan tersebut menjadi pengalaman baru baginya. Sebab, sebagai wartawan, pekerjaannya berfokus pada mencari informasi sebelum ditulis dan disampaikan ke publik.
Sementara itu, tugas dan peran humas lebih dari sekadar mencari dan menyampaikan informasi. Selain mengatur strategi komunikasi, Silvy juga harus membangun relasi dengan media, publik, dan pihak internal di TVRI.
Baca juga: Kisah Dipa Karno Membangun Warm Wishes Club, Komunitas Agar Terus Relevan
Menjaga Informasi Tersampaikan kepada Publik agar Tak Salah Tafsir

Silvy terus belajar untuk menjadi humas yang bijaksana dalam menyampaikan informasi. (Foto oleh Silvy Dian Setiawan)
Silvy menyadari bahwa tugas humas adalah menjaga citra dan reputasi lembaga. Namun, ia juga tidak boleh melupakan hak publik untuk mendapatkan informasi.
“Ini penting dan saya terapkan untuk menjamin hak publik atas keterbukaan informasi,” ujarnya.
Dalam menyusun strategi komunikasi, ia juga harus berhati-hati memilah informasi mana yang harus ditahan dan mana yang bisa langsung disampaikan.
Ia mengatakan, menyaring informasi bukan berarti menyembunyikan kebenaran dari publik. Namun, hal itu dilakukan untuk memastikan informasi dapat diterima masyarakat dengan baik dan tidak menimbulkan dampak negatif.
“Saya harus menimbang kapan informasi cukup disampaikan, kapan perlu ditahan, dan bagaimana menyampaikannya secara proporsional agar tidak salah tafsir, tidak menimbulkan dampak negatif dan kegaduhan,” kata Silvy menambahkan.
Meski mengalami kesulitan di awal, Silvy terus belajar untuk menjadi humas yang bijaksana dalam menyampaikan informasi. Perlahan, ia memahami bahwa tidak semua hal perlu disampaikan secara langsung.
Tak cuma memikirkan konten informasi yang perlu disampaikan, Silvy dan tim humas TVRI juga harus menyusun strategi untuk menyampaikannya.
Salah satu pengalaman Silvy adalah ketika perhelatan Piala Dunia 2026 berlangsung dan TVRI dipercaya sebagai lembaga penyiaran resmi di Indonesia.
Dalam hal ini, Silvy bertugas menyebarluaskan informasi penayangan Piala Dunia 2026 di TVRI agar publik mengetahui saluran resmi untuk menyaksikan ajang sepak bola tersebut.
Salah satu cara untuk menyebarkan informasi tersebut adalah dengan mengirimkan press release atau siaran pers ke media massa.
Ia harus memastikan press release itu mengandung informasi yang relevan dan menarik bagi media, tanpa meninggalkan pesan utamanya.
Selama prosesnya, Silvy harus menghubungi media atau jurnalis yang memiliki fokus liputan olahraga.
Sebagai humas, ia juga wajib memberikan informasi yang dibutuhkan para jurnalis tersebut supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan nantinya.
Selain melalui media massa, tim humas TVRI juga melakukan strategi komunikasi lain yakni mengadakan event saat acara car free day (CFD) Sudirman-Thamrin, Jakarta.
Event tersebut merupakan momen bagi TVRI untuk menyapa langsung masyarakat dan mengabarkan soal penyiaran Piala Dunia 2026.
Sesi bincang-bincang, hingga live music diadakan dalam event tersebut supaya menarik perhatian masyarakat yang berlalu-lalang di CFD.
Tentunya dengan berbagai strategi itu, Silvy dan tim humas TVRI berharap informasi soal penyiaran Piala Dunia 2026 bisa tersampaikan kepada masyarakat secara lebih luas.
“Alhamdulillah, siaran Piala Dunia ini berjalan sukses dan tentunya saya beruntung bisa terlibat dalam program tersebut,” katanya.
Baca juga: Bagaimana Hobi Membaca Shiva Berkembang Menjadi Toko Buku Impor Online
Di Balik Status PNS: Realita dan Harapan

Silvy berharap agar diberi ruang untuk terus berkembang sehingga lebih banyak berkontribusi nyata melayani masyarakat. (Foto oleh Silvy Dian Setiawan)
Pengalaman Silvy sebagai PNS selama beberapa bulan terakhir tak dipungkiri memberikan banyak pelajaran baru yang tidak pernah didapatkannya ketika menjadi wartawan.
Ia pun menilai pekerjaan barunya ini sama sekali tidak mudah. Menurutnya, anggapan bahwa PNS bekerja santai tidak bisa digeneralisasi.
Bagi Silvy, anggapan tersebut terlalu disamaratakan. Sebab, meski baru diangkat pada 2026, pekerjaannya saat ini tetap membutuhkan tanggung jawab besar.
Sebagai PNS di lembaga pusat, ia mengatakan tugasnya cukup menumpuk. Bahkan, ia kerap harus bekerja lebih dari delapan jam.
Silvy juga menegaskan, fakta bahwa PNS digaji dari APBN seharusnya menjadi beban moral yang dipikirkan setiap rekan sejawatnya.
“Saya berharap PNS Indonesia tetap menjalankan tugas dan fungsinya sesuai ketentuan untuk memberikan pelayanan ke publik, karena kita sejatinya ‘pelayan publik’ yang digaji dari uang rakyat,” tuturnya.
Sebagai PNS muda ia juga berharap diberi ruang untuk terus berkembang agar dapat lebih banyak berkontribusi nyata dalam melayani masyarakat.
Baca juga: Ketika Ibadah Harus Berjalan Berdampingan dengan Deadline, Cerita Gigih Liputan di Tanah Suci
Wawancara dengan Silvy Dian Setiawan dilakukan pada 4 September 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.
