Di Balik Topeng dan Cermin Kamar, Begini Cara Kayuwa Membawa Tari Tradisional ke Media Sosial

Konten yang ada di media sosial setiap hari semakin ramai dan beragam. Kondisi ini membuat tantangan dalam menciptakan konten juga ikut berkembang, termasuk bagaimana seorang kreator dapat membuat karyanya tetap relevan di tengah derasnya arus konten.

Detik dalam ulasannya soal tren konten 2026 mencatat bahwa persaingan di ranah ini bukan lagi soal siapa yang paling vokal, melainkan siapa yang paling mampu menyentuh sisi humanis penontonnya, sebuah pergeseran yang membuat setiap kreator perlu menemukan cara untuk tetap relevan dan dekat dengan audiens.

Di tengah lanskap itulah Kayuwa sebagai penari memilih jalannya sendiri dengan membawa tari topeng ke media sosial. Ia memperkenalkan dan membagikan tari topeng dengan pendekatan yang sederhana: melalui ruang kamarnya dan cermin khas yang justru membuat konten-kontennya mudah diingat. 

Baca juga: Dari Insiden Atlet ke Krisis Brand: Bagaimana Hyrox Menangani Kontroversi Beijing?

Dari Mana Kecintaan Kayuwa pada Tari Topeng Bermula?

Ketertarikan Kayuwa pada dunia tari sudah muncul sejak Sekolah Dasar, bahkan ia sempat mencoba balet lebih dulu. Beranjak remaja, ia memulai kariernya sebagai modern dancer dan bergabung dengan sebuah sanggar.

Kayuwa menikmati setiap prosesnya. Selama beberapa tahun, ia mengikuti berbagai perlombaan dan tampil di sejumlah acara.. Namun, menginjak tahun terakhir Sekolah Dasar, ia justru menemukan dirinya begitu tertarik dan penasaran dengan tari tradisional.

“Panggilan itulah yang membuat aku mulai beralih ikut kelas (tari) tradisional. Masih di sanggar yang sama, dari situ aku ketemu dengan tari topeng dan sejak kelas pertama sampai sekarang masih aku tekuni,” katanya. 

Kayuwa pun mengatakan bahwa semakin ia mengenali dan sering berlatih tari topeng, semakin besar pula rasa cintanya untuk membagikan keindahan tarian tersebut kepada lebih banyak orang. 

Baca juga: Ketika Pernikahan Influencer Menjadi Konten Komersial

Kayuwa mengatakan bahwa semakin ia mengenali tari topeng, semakin besar pula rasa cintanya untuk membagikan keindahan tarian tersebut. (Foto oleh Kayuwa)

Oleh karena itu, saat menginjak SMA Kayuwa mencoba membagikan video menarinya di media sosial. “Awalnya tidak langsung tari topeng. Saat itu kan ramainya K-pop ya, aku pun ikut-ikutan. Tapi, akhirnya aku penasaran, kalau aku upload tari tradisional, responnya bagaimana?”

Konten Kayuwa yang semula sudah cukup stabil dengan penikmat tari modern menjadi semakin ramai ketika ia mulai mengunggah video menari topeng. Respons yang lebih besar dari perkiraan itu kemudian membuat Kayuwa memutuskan untuk fokus membagikan dan membuat konten tentang tari topeng saja.

Menerjemahkan Gerakan Tari Menjadi Konten

Memindahkan sebuah tarian dari panggung ke layar berukuran kecil bukan proses yang sederhana. Ada banyak pertimbangan yang harus dilalui sebelum sebuah gerakan siap direkam dan dibagikan.

Bagi Kayuwa, semuanya dimulai dari memikirkan sisi audiens terlebih dahulu. “Pertama itu mencari bagian yang paling menarik buat audiens, baru kemudian sesuaikan sama style badan aku. Terakhir aku juga harus menyesuaikan dengan space yang tersedia alias kamarku,” jelasnya, menggambarkan urutan pertimbangan yang ia jalani setiap kali menyiapkan konten baru.

Salah satu tantangan Kayuwa adalah memastikan setiap gerakan yang ia bawakan tidak menyalahi pakem tari topeng yang ada. (Foto oleh Kayuwa)

Ruang kamar yang terbatas pun akhirnya menjadi bagian dari proses kreatifnya, bukan halangan yang perlu dihindari. Pilihan untuk merekam di depan cermin lahir dari pertimbangan yang sangat praktis.

“Sebenarnya aku merekam depan cermin karena itu adalah cara yang paling mudah bagiku untuk membuat video sekaligus melihat gerakanku sendiri,” paparnya.

Tantangan Membawa Tari Tradisional ke Media Sosial

“Konten aku terlihat sederhana, cuma kamar, topeng, dan ya ponsel buat merekam. Namun, pertimbangan yang aku lakukan untuk sebuah konten itu cukup hati-hati,” ujarnya.

Salah satu tantangan terbesarnya adalah memastikan setiap gerakan yang ia bawakan tidak menyalahi pakem tari topeng yang sesungguhnya. Kayuwa bahkan sampai bertanya kepada banyak orang, termasuk para seniornya, juga sepupunya yang memang menggeluti bidang tersebut. 

Tantangan lain datang dari sisi teknis pengambilan gambar. Karena topeng membatasi penglihatannya, Kayuwa kerap kesulitan memastikan posisi tubuhnya sudah pas di depan kamera.

Proses ini menuntutnya untuk lebih peka terhadap ruang dan gerakan tubuhnya sendiri, meski tidak bisa melihat hasilnya secara langsung selama rekaman berlangsung.

Tantangan berikutnya datang dari tren media sosial yang bergerak cepat. Kayuwa mengakui pernah banyak membuat konten terburu-buru karena ingin mengejar traffic tren yang sedang diminati. 

Baca juga: Di Balik Bahasa Gaul Gen Z: Fenomena ‘Orang Have, Enough, dan Haven’t’ yang Viral

“Masa awal-awal membangun branding di media sosial saat itu, ternyata melelahkan sekali. Aku merasa terus dikejar sesuatu, proses menari pun jadi tidak pakai rasa, tidak tulus. Akhirnya aku memilih untuk fokus membuat konten yang memang aku genuinely mau bagikan, bukan lagi mengikuti tren apa yang muncul,” jelas Kayuwa. 

Dari tantangan-tantangan ini juga Kayuwa akhirnya memahami bahwa sebuah konten akan lebih bisa dinikmati dan mendapatkan hasil yang baik ketika sang pembuatnya juga dapat menikmati proses pembuatannya. 

Dari Tari Topeng, Pelajaran tentang Membuat Konten

Perjalanan Kayuwa membawa tari topeng ke media sosial pada akhirnya menghadirkan sejumlah pelajaran yang relevan tidak hanya untuk penari, tetapi juga untuk siapa pun yang ingin mulai membagikan hal yang mereka sukai di media sosial.

“Jangan ragu buat mulai, jangan langsung fokus apa kata orang, nikmati dulu prosesnya. Hobi yang kita punya itu bisa menjadi sesuatu yang juga disukai dan mungkin bermanfaat bagi orang lain,” katanya. 

Ia pun menekankan pentingnya membangun konsistensi sejak awal, “Akun yang aku miliki itu dimulai dari nol, bisa ramai seperti sekarang itu karena konsistensi. Jadi saranku jaga konsisten itu, baru ketika sudah mengenali audiensnya, bisa merancang pendekatan yang strategis sesuai dengan tujuan konten yang mau dibuat.”

Pendekatan yang strategis dibutuhkan untuk membuat koten semakin mudah dikenali dan diingat sehingga membantu kreator membangun visibilitas dan sustainability dalam berkarya.

Wawancara dengan Kayuwa dilakukan pada 15 September 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.