Bagaimana Hobi Membaca Shiva Berkembang Menjadi Toko Buku Impor Online

Ide bisnis bisa datang dari mana saja, termasuk dari kebiasaan sederhana seperti menjual kembali buku-buku yang sudah dibaca. Hal ini dilakukan oleh Shiva, pendiri toko buku online, Booksheesh

Kepada RadVoice Indonesia, Shiva berbagi cerita tentang perjalanan Booksheesh yang berdiri sejak 2021, mulai dari proses kurasi judul-judul literary fiction, perubahan cara pembaca menemukan rekomendasi buku lewat media sosial, hingga tantangan menjalankan bisnis buku impor di tengah pajak yang naik dan nilai rupiah yang melemah. 

Simak wawancara selengkapnya berikut ini.

Dari Hobi Membaca ke Booksheesh

Berawal dari hobi membaca, Shiva kemudian membangun Booksheesh sebagai toko buku impor online yang berkembang melalui komunitas pembaca dan kurasi berdasarkan minatnya pada literary fiction. (Foto oleh Shiva)

Bisnis toko buku online yang dijalankan Shiva berawal dari hobi membaca yang sudah ia sukai sejak kecil. Meski sempat berhenti dari kegiatan membaca karena kesibukan saat kuliah, ketertarikannya pada buku tetap membawanya kembali pada aktivitas tersebut.

Seiring bertambahnya koleksi buku yang telah ia baca, Shiva mulai mencari cara agar buku-buku tersebut tetap bermanfaat. Ia kemudian menitipkan buku-buku yang sudah selesai dibaca ke toko online untuk dijual kembali.


Dari kebiasaan tersebut, muncul ide untuk membuat toko buku online sendiri. Shiva mulai menjalankan Booksheesh pada awal Juli 2021, ketika pandemi Covid-19 membuat orang-orang lebih banyak beraktivitas dari rumah dan mencoba berbagai kegiatan baru, termasuk membaca. Hal tersebut turut menjadi konteks yang mendukung perkembangan Booksheesh.

Riset World Reading Habits 2020 dari Global English Editing menunjukkan bahwa sekitar 35% responden mengaku membaca lebih banyak buku selama pandemi.

Meski awalnya tidak berniat menjadikan Booksheesh sebagai bisnis yang serius, Shiva perlahan menemukan kenyamanan melalui komunitas pembaca yang terbentuk di sekitarnya.

Dari sana, Booksheesh berkembang bukan hanya sebagai tempat menjual buku, tetapi juga sebagai ruang bagi Shiva untuk berbagi ketertarikannya terhadap buku.

Saat Booksheesh semakin berkembang, Shiva mulai melihat peluang untuk menghadirkan lebih banyak buku impor, khususnya dari genre literary fiction yang ia sukai. Menurutnya, saat itu belum banyak toko yang menawarkan judul-judul literary fiction yang sesuai dengan seleranya.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam membentuk identitas dan kurasi Booksheesh hingga sekarang.

Baca juga: Bukan Pamer Pencapaian, Begini Cara Timothy Warokka Membangun Personal Branding di LinkedIn

Dari Tren hingga Kurasi Pribadi

Booksheesh mengandalkan kurasi yang memadukan tren, permintaan pelanggan, dan selera pribadi Shiva sebagai pembaca dalam menentukan pilihan judul. (Tangkapan layar @booksheesh di Instagram oleh Radvoice)

Kurasi menjadi bagian penting dalam membentuk pilihan judul Booksheesh. Shiva memadukan tren dan new releases dengan permintaan pelanggan, sebelum kemudian memasukkan selera pribadinya sebagai pembaca.

Permintaan pelanggan dapat terlihat dari judul yang paling banyak dipesan ketika Booksheesh membuka pre-order. Sementara itu, selera pribadi Shiva tercermin dari buku yang ia rekomendasikan kepada pelanggan. Setelah selesai membaca buku yang menurutnya menarik, ia terkadang membagikan ulasan singkat dan rekomendasinya melalui Instagram.

Pilihan pelanggan juga tidak selalu ditentukan oleh ketersediaan terjemahan. Sebagian pelanggan tetap memilih edisi bahasa Inggris meski terjemahannya sudah tersedia karena ingin membaca karya dalam bahasa aslinya.

Baca juga: Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental, Ini Kata Gracya Rudiman

Tantangan Menjalankan Toko Buku Impor

Booksheesh menghadapi tantangan berupa kenaikan harga buku impor, biaya kepabeanan dan pengiriman, serta persaingan dengan toko buku besar. (Tangkapan layar @booksheesh di Instagram oleh Radvoice)

Menjalankan toko buku impor membuat Booksheesh harus menghadapi tantangan dari sisi biaya dan proses impor. Menurut Shiva, melemahnya nilai rupiah membuat harga buku impor terus meningkat, ditambah pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12% yang harus ditanggung penjual untuk.

“Ini pastinya sudah sangat jelas: harga buku impor terus naik, sedangkan mata uang kita, rupiah, terus melemah,” ujar Shiva.

Proses kepabeanan juga dapat membuat biaya dan waktu pengiriman sulit diprediksi. Pemeriksaan atau redline dari Bea Cukai dapat terjadi secara acak, sementara ketersediaan beberapa judul juga terbatas. 

Buku yang sedang ramai dibicarakan terkadang hanya tersedia dalam edisi hardcover atau large paperback dengan harga di atas Rp300.000. Biaya pengiriman dari luar negeri menjadi pertimbangan lain, sehingga Shiva perlu mencari forwarder yang sesuai agar harga akhir buku tetap masuk akal.

Di sisi lain, persaingan dengan toko buku besar juga semakin ketat. Menurut Shiva, toko-toko besar kini membawa lebih banyak judul impor yang sebelumnya sulit ditemukan di Indonesia, sekaligus menawarkan harga yang semakin kompetitif.

Ia melihat perkembangan ini sebagai hal positif karena membuat buku lebih mudah diakses oleh pembaca. Namun, bagi Booksheesh sebagai indie bookstore yang dikelola sendiri, kondisi tersebut juga membuat persaingan menjadi lebih sulit.

Baca juga: Di Tengah Ramainya Tren Membaca, Sheilla Njoto Memilih Merawat Rasa Ingin Tahu

Kesimpulan

Booksheesh berkembang dari kecintaan Shiva terhadap buku dan kedekatannya dengan komunitas pembaca. (Foto oleh Pexels)

Booksheesh bukan sekedar bisnis yang lahir dari hobi membaca, tetapi berkembang dari kencintaan Shiva terhadap buku dan keinginnya untuk

Kedekatan dengan komunitas pembaca juga turut membuat Booksheesh berkembang mengikuti minat mereka, tanpa kehilangan sisi personal yang dibawa Shiva sebagai pembaca. 

Pada akhirnya, perjalanan Booksheesh menunjukkan bagaimana hobi dapat menjadi fondasi bisnis ketika dibangun dari minat yang kuat dan hubungan yang dekat dengan komunitasnya. 

Wawancara dengan Shiva dilakukan pada 21 Agustus 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.