Cara Dosen UIN Walisongo Hasan Labiqul Aqil Menjaga Sikap Kritis di Tengah Derasnya Arus Informasi

Foto Hasan Labiqul Aqil

Setiap hari, kita menerima berbagai informasi melalui media sosial, grup percakapan, hingga portal berita. Ada berita yang langsung kita percaya, ada pula unggahan yang memancing emosi atau membuat kita ingin segera membagikannya kepada orang lain.

Di tengah situasi tersebut, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Kita tidak hanya perlu memeriksa apakah suatu informasi benar, tetapi juga memahami konteks, sumber, dan kepentingan di baliknya.

Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya begitu saja. Sebagian informasi bisa kehilangan konteks, mengandung klaim yang belum terbukti, atau sengaja disajikan untuk membentuk opini tertentu.

Hal inilah yang menjadi perhatian Hasan Labiqul Aqil, dosen Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Walisongo Semarang yang akrab disapa Labiq. Melalui kegiatan mengajar, ia berupaya membangun cara berpikir kritis di kalangan mahasiswa agar mereka tidak mudah menerima informasi tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

RadVoice Indonesia berkesempatan mewawancarai Labiq untuk membahas cara menumbuhkan sikap kritis sekaligus menjaga identitas diri di tengah derasnya arus informasi.

Baca juga: Nila Febrianti dan Strategi Komunikasi Budaya Indonesia di Amerika Serikat

Berpikir Kritis Bukan Berarti Harus Meragukan Semua Informasi

Foto Hasan Labiqul Aqil 2

Sikap kritis bagi Labiq berarti memeriksa konteks dan bukti sebelum mengambil kesimpulan. (Foto oleh Hasan Labiqul Aqil)

Labiq memiliki minat di bidang media dan mengajar beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan bidang tersebut. Baginya, media memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat saat ini.

“Melalui media, kita tidak hanya memperoleh informasi, tetapi sekaligus belajar memahami peristiwa, orang lain, bahkan diri sendiri,” kata Labiq.

Menurut Labiq, media dan masyarakat saling memengaruhi. Media membentuk cara seseorang memandang dunia, sedangkan masyarakat turut menentukan bagaimana pesan media dipahami dan dimaknai.

Dalam situasi ketika informasi terus mengalir, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Karena itu, Labiq mengajak mahasiswanya untuk tidak sekadar membedakan informasi yang benar dan salah, tetapi juga memahami konteks di baliknya.

“Kita juga perlu melihat siapa yang berwenang menentukan apa yang dianggap benar, bagaimana suatu pandangan mendapat legitimasi, serta kepentingan apa yang bekerja di baliknya,”ujarnya.

Meski demikian, berpikir kritis bukan berarti mencurigai semua informasi yang beredar. Tidak semua informasi di media mengandung manipulasi.

Bagi Labiq, sikap kritis berarti memeriksa konteks dan bukti sebelum menarik kesimpulan. Sikap ini juga menuntut seseorang untuk terbuka mengubah pandangan ketika menemukan bukti atau alasan yang lebih kuat.

Baca juga: Di Balik Topeng dan Cermin Kamar, Begini Cara Kayuwa Membawa Tari Tradisional ke Media Sosial

Menilai Informasi Secara Objektif dan Mengenali Bias Konfirmasi

Untuk membangun sikap kritis, Labiq mengajak mahasiswanya memahami proses di balik sebuah informasi, mulai dari cara informasi dibuat, dan disebarkan hingga diterima masyarakat.

Menurutnya, tantangan di era digital bukan hanya misinformasi, tetapi juga bias konfirmasi. Bias ini membuat seseorang cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan pandangannya.

Dikutip dari MyEduSolve, bias konfirmasi dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika kita mencari informasi di internet.

Sebagai contoh, seseorang yang sudah meyakini bahwa suatu produk lebih baik daripada produk lain mungkin hanya mencari ulasan positif tentang produk pilihannya dan mengabaikan ulasan yang menunjukkan kekurangannya. Akibatnya, ia bisa semakin yakin pada pendapat awal tanpa mempertimbangkan informasi secara menyeluruh

Karena itu, menilai informasi secara objektif membutuhkan kesediaan untuk melihat berbagai sudut pandang.

Salah satu caranya adalah mencari informasi dari sumber lain, mengajukan pertanyaan yang netral, dan memeriksa bukti sebelum mengambil kesimpulan. Langkah ini juga dapat membantu kita mengurangi kecenderungan untuk hanya mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi.

Bagaimana Tetap Kritis Tanpa Merasa Paling Benar?

Bagi Labiq, upaya memahami informasi secara objektif juga menuntut kesadaran akan bias pribadi.

Prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui beberapa langkah sederhana.

  • Pilah Jenis Informasi: Biasakan membedakan mana yang merupakan fakta, opini, interpretasi, atau sekadar klaim yang belum terbukti kebenarannya.
  • Uji dengan Berbagai Sudut Pandang: Jangan cepat puas dengan satu sumber. Periksa kebenaran data dan bandingkan keterangan dari berbagai pihak sebelum mengambil kesimpulan.
  • Kenali Bias Konfirmasi Diri: Kita harus menyadari ada kecenderungan untuk hanya menyukai informasi yang sejalan dengan keyakinan pribadi. Mengenali bias ini membantu kita tetap terbuka pada fakta baru.
  • Objektif Tanpa Membuang Nilai Diri: Menjadi objektif bukan berarti harus melepas seluruh nilai atau latar belakang pribadi. Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa sudut pandang selalu punya keterbatasan.
  • Berani Memperbaiki Kesimpulan: Sikap kritis yang sehat lahir dari keberanian menguji pemikiran sendiri. Jika menemukan bukti yang lebih valid dan alasan yang lebih kuat, jangan ragu untuk merevisi pendapat.

Kemampuan berpikir kritis juga dibutuhkan dalam dunia kerja. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, seseorang perlu memastikan bahwa informasi yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan memiliki sumber yang jelas dan bukti yang memadai.

Hal ini juga berlaku dalam komunikasi publik. Sebuah informasi tidak cukup hanya terdengar meyakinkan, tetapi perlu disampaikan dengan konteks yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dengan begitu, sikap kritis membantu masyarakat menjadi penerima informasi yang lebih cermat sekaligus mendorong komunikasi yang lebih bertanggung jawab.

Baca juga: Bukan Soal Grammar Sempurna, Ini Cara Miss Hafsah Runtuhkan Tembok Ketakutan Bicara Bahasa Inggris

Mengapa Sikap Kritis Perlu Disertai Kerendahan Hati?

Foto Hasan Labiqul Aqil 3

Sikap kritis dan spiritualitas merupakan dua hal yang bisa saling menguatkan dan membentuk kita sebagai manusia. (Foto oleh Hasan Labiqul Aqil)

Bagi Labiq, berpikir kritis tidak cukup hanya dengan mempertanyakan kebenaran suatu informasi atau pandangan. Seseorang juga perlu menyadari bahwa pemikirannya sendiri bisa keliru. Kesadaran inilah yang membuat sikap kritis perlu disertai kerendahan hati.

Di lingkungan kampus Islam, Labiq menekankan bahwa sikap kritis juga perlu berjalan beriringan dengan kesadaran etis dan spiritual.

“Spiritualitas dapat menjadi sumber perenungan, sedangkan sikap kritis membantu kita menilai apakah pemahaman dan praktik keagamaan sudah mencerminkan nilai yang kita yakini,” ujarnya.

Menurut Labiq, spiritualitas dan sikap kritis bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat saling melengkapi dalam membantu seseorang memahami diri sendiri dan menjalani kehidupan.

Dalam kehidupan beragama, misalnya, seseorang tidak cukup hanya mempertanyakan apakah suatu tindakan sesuai dengan ajaran yang diyakininya. Ia juga perlu melihat apakah tindakan tersebut mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan agama.

Nilai-nilai itu antara lain keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Contoh nyata integrasi aspek spiritual dan sikap kritis ini misalnya saat seseorang berhadapan dengan narasi sensitif yang menyangkut kelompok agama tertentu di media sosial.

Dibanding langsung terprovokasi orang lain, nalar kritis mendorongnya untuk memverifikasi kebenaran informasi tersebut terlebih dahulu. Di saat yang bersamaan, kesadaran spiritual menuntunnya untuk tetap menghormati adanya perbedaan pendapat.

“Sikap kritis bukan untuk meruntuhkan keyakinan, melainkan untuk mencegah kita merasa paling benar, menutup diri dari dialog, atau memakai agama untuk membenarkan kepentingan sendiri,” katanya.

Pandangan ini juga tercermin dalam pendekatan Labiq saat mengajar. Baginya, diskusi kritis merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang berkembang melalui perdebatan, pertukaran gagasan, dan penalaran.

Karena itu, menurut Labiq, kampus Islam memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menghubungkan ajaran yang mereka yakini dengan persoalan nyata di masyarakat.

Dengan demikian, menjaga identitas diri bukan berarti menjauh dari kehidupan modern atau menutup diri terhadap pandangan yang berbeda. Sebaliknya, identitas dapat menjadi landasan bagi mahasiswa untuk tetap terbuka terhadap gagasan baru, mempertimbangkan nilai-nilai etis, dan bertanggung jawab atas keputusan mereka.

Wawancara dengan Hasan Labiqul Aqil dilakukan pada 6 Oktober 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.