Dari Sepeda Rakitan ke Solusi Transisi Energi: Strategi Brand Storytelling Azizah di Astro Bike

CMO Astro Bike Azizah Durroh Fauz

Berawal dari keinginan sederhana, yaitu agar seorang mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan bisa berangkat ke kampus, siapa sangka gagasan tersebut justru berkembang menjadi solusi transisi energi?

Wacana transisi ke kendaraan listrik (EV) di Indonesia sering kali didominasi oleh mobil dan motor listrik dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Akibatnya, kendaraan ramah lingkungan masih terasa seperti pilihan yang mahal bagi sebagian masyarakat. 

Melihat peluang tersebut, Azizah Durroh Fauz bersama teman-temannya mendirikan Astro Bike, sebuah startup yang berfokus pada penyediaan kit konversi sepeda konvensional menjadi sepeda listrik.

Sebagai Chief Marketing Officer (CMO), Azizah tidak hanya berupaya mengembangkan bisnis, tetapi juga membangun cerita di balik Astro Bike.

Melalui pendekatan brand storytelling yang autentik dan dekat dengan realitas masyarakat, ia ingin memperkenalkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari solusi sederhana yang lebih terjangkau.

Baca juga: Peran Content Designer Andi Niaa dalam Membangun Citra Brand

Dari Sepeda Rakitan Kampus Jadi Solusi Transisi Energi

Astro Bike Azizah

Azizah (kiri) dalam salah satu acara Grand Opening Astro Bike. (Foto oleh Astro Bike)

Kisah Astro Bike dimulai pada 2015 di Yogyakarta oleh sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Narasi yang diangkat bukan sebagai startup dengan kucuran dana bombastis, tetapi Azizah dan tim mengawalinya justru dari keterbatasan ekonomi.

Perjalanan para pendirinya tidak dimulai dengan modal besar atau dukungan investasi yang melimpah. Sebaliknya, mereka justru merintis Astro Bike ketika sedang menghadapi berbagai persoalan pribadi dan ekonomi.

Beberapa pendirinya tengah berada dalam fase kehidupan yang sulit, mulai dari tekanan ekonomi, patah hati, hingga kehilangan orang terdekat. Namun, alih-alih larut dalam keadaan tersebut, mereka memilih untuk tetap produktif dengan membangun sesuatu bersama.

Dengan bantuan modal dari dosen, mereka kemudian merakit sepeda konvensional menjadi sepeda listrik agar bisa digunakan untuk berangkat ke kampus.

“Bagi kami, para founder Astro itu beda. Kami menyikapinya keterpurukan itu sebagai bahan bakar terbesar bagi kami. Kami memilih untuk menyibukkan diri untuk bikin Astro,” kata Azizah.

Pengalaman merintis bisnis dari keterbatasan tersebut turut membentuk cara Astro Bike memandang kebutuhan pasar. Azizah menyadari bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dengan membeli kendaraan listrik baru yang harganya relatif mahal.

Bagi masyarakat kelas menengah dan menengah ke bawah, diperlukan alternatif yang lebih terjangkau sekaligus sesuai dengan kebutuhan mobilitas sehari-hari.

“Buat orang-orang menengah dan menengah ke bawah, transisi paling tepat sebenarnya adalah di sepeda listrik. Karena ketika baterainya habis, masih bisa digowes. Sepeda listrik juga fleksibel. Maka dari itu, kami konsen ke konversi sepeda,” jelas Azizah.

Melalui layanan konversi tersebut, Astro Bike ingin menawarkan pilihan bagi masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan listrik tanpa harus membeli kendaraan baru.

Dengan begitu, upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) dapat dimulai dari solusi yang lebih realistis dan terjangkau.

Baca juga: Di Balik Peran Cakra Sebagai MC, Ada Seni Berkomunikasi dan Bercerita

Membuka Celah After-Sales dan Merawat Kepercayaan

Azizah Durroh Fauz

Azizah berupaya membaca tren teknologi dan perilaku manusia yang terus berubah. (Foto oleh Azizah Durroh Fauz)

Setelah lebih dari 10 tahun menjalani berbagai tantangan bisnis, perjalanan Astro Bike tidak berhenti pada penyediaan kit konversi sepeda listrik.

Azizah terus berupaya membaca perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat untuk menemukan peluang baru.

Salah satu peluang yang kemudian dikembangkan adalah layanan servis motor listrik. Langkah ini diambil setelah Azizah melihat bahwa pertumbuhan penggunaan motor listrik di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan layanan purna jual (after-sales) yang memadai.

“Kami melihat peluang ketika after-sales motor listrik di Indonesia belum terlalu tergarap. Jadi selain konversi, kita ambil peluang di servis. Apapun yang menjadi peluang untuk kesejahteraan karyawan dan menjawab kebutuhan pasar, pasti kita ambil,” ungkapnya.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Astro Bike tidak hanya berorientasi pada produk utama, tetapi juga pada kebutuhan ekosistem kendaraan listrik secara lebih luas.

Bagi Azizah, memahami kebutuhan pasar menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Brand tidak cukup hanya dikenal melalui produk yang ditawarkan, tetapi juga perlu hadir untuk menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi konsumennya.

Baca juga: Cara Dosen UIN Walisongo Hasan Labiqul Aqil Menjaga Sikap Kritis di Tengah Derasnya Arus Informasi

Strategi Branding: Mengandalkan Konten Autentik Tanpa Iklan

Azizah Durroh Fauz

Azizah (tengah) saat menjadi pembicara di #OpenHouseYK, dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo (kiri). (Foto oleh Bagian Administrasi dan Keuangan Sekda Yogyakarta)

Setelah memiliki produk dan layanan yang menjawab kebutuhan pasar, tantangan berikutnya adalah bagaimana memperkenalkan solusi tersebut kepada masyarakat.

Salah satu strategi yang diterapkan Azizah adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi sekaligus edukasi. Ia mengungkapkan bahwa sepanjang 2026, Astro Bike bahkan tidak mengalokasikan anggaran untuk iklan berbayar.

Sebagai gantinya, mereka mengandalkan konten organik yang edukatif dan relevan dengan kebutuhan audiens. Pendekatan ini memungkinkan Astro Bike membangun komunikasi dengan calon konsumen tanpa harus selalu bergantung pada promosi berbayar.

Di balik strategi tersebut, Azizah juga menilai keberadaan tim yang solid sebagai salah satu faktor penting dalam perkembangan bisnis. Mulai dari tim pembuat konten, desainer grafis, sales, hingga teknisi servis dan konversi, setiap bagian memiliki kontribusi dalam membangun Astro Bike.

“Jadi menurutku tidak hanya dari teknologi, tapi teman-teman yang anak-anak muda ini yang berjuang, yang gaspol, bahkan kalau di Astro itu sampai punya slogan ‘gaspol‘. Karena kami anak-anak muda yang ingin terus berlari,” katanya.

Bagi Azizah, kekuatan sebuah brand tidak hanya terletak pada teknologi atau produk yang ditawarkan. Orang-orang di baliknya juga memiliki peran besar dalam menjaga semangat, konsistensi, dan arah perkembangan bisnis.

Kesimpulan

Perjalanan Azizah bersama Astro Bike menunjukkan bahwa brand storytelling tidak harus dibangun dari kisah kesuksesan yang serba gemilang.

Cerita yang berangkat dari keterbatasan, pengalaman nyata, dan kebutuhan masyarakat justru dapat menjadi fondasi komunikasi brand yang kuat.

Melalui Astro Bike, Azizah berupaya membawa isu transisi energi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Alih-alih menjadikannya sebagai wacana yang identik dengan teknologi mahal, ia menawarkan sudut pandang bahwa perubahan juga bisa dimulai dari solusi sederhana seperti mengonversi sepeda konvensional menjadi sepeda listrik.

Berawal dari sepeda rakitan untuk kebutuhan kuliah, Astro Bike kini berkembang dengan menawarkan produk dan layanan yang mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa brand yang kuat bukan hanya tentang apa yang dijual, tetapi juga cerita, nilai, dan solusi yang dibawanya bagi masyarakat.

Wawancara dengan Azizah Durroh Fauz dilakukan pada 31 Oktober 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.