Dari Jurnalis ke Digital Marketing: Curhatan Intan Kemalasari Hadapi Tantangan Saat Career Switch

Memutuskan pindah haluan karier (career switch) setelah bertahun-tahun berada di zona nyaman bukanlah perkara mudah. Banyak jurnalis yang pernah bertanya-tanya, “Apakah kemampuan yang saya miliki cukup untuk pindah ke bidang lain?”

Hal inilah yang dialami oleh Intan Kemalasari, seorang mantan jurnalis yang kini memantapkan langkahnya di dunia digital marketing.

Setelah 7 tahun berkecimpung di industri media massa, Intan memilih untuk melompat ke industri yang sama sekali baru. Namun, alih-alih melihat perpindahan karier sebagai langkah yang menakutkan, Intan justru menganggapnya sebagai kesempatan untuk mempelajari dan mendapatkan skill baru.

Bagaimana ia menghadapi culture shock saat mempelajari dunia digital marketing? Simak obrolan lengkap bersama RadVoice Indonesia berikut ini.

Baca juga: Insight Gadizsa Zselamart Menjadi Praktisi Komunikasi

Berani Memulai Lagi dari Nol

Menurut Intan, bisnis tetap punya tujuan menghasilkan penjualan. Tapi tidak semua orang di digital marketing punya KPI berupa sales. (Seluruh foto oleh Intan Kemalasari).

Keputusan untuk keluar dari dunia jurnalistik bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Setelah hampir tujuh tahun bekerja sebagai jurnalis, Intan merasa perkembangan kariernya mulai berjalan di tempat. Meski telah mencoba berbagai cara untuk berkembang, ia merasa membutuhkan tantangan baru.

“Saat itu aku merasa karierku stuck. Aku akhirnya berpikir mungkin ini saatnya belajar skill baru yang masih berhubungan dengan kemampuan menulis yang sudah aku punya.”

Kesempatan itu datang ketika ia menerima tawaran untuk bergabung di bidang digital marketing. Tanpa berpikir panjang, Intan memutuskan menerima tawaran tersebut karena melihat adanya peluang untuk mengembangkan kemampuan yang selama ini sudah dimiliki.

Sebelum benar-benar terjun ke dunia marketing, Intan mengaku memiliki gambaran yang cukup sederhana mengenai profesi tersebut. Ia mengira pekerjaan marketing hanya berfokus pada aktivitas menjual dan mengejar angka penjualan. Namun setelah menjalaninya, ia menyadari bahwa digital marketing memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas.

“Memang pada akhirnya bisnis tetap punya tujuan menghasilkan penjualan. Tapi tidak semua orang di digital marketing punya KPI berupa sales.”

Meski begitu, proses adaptasi tetap menjadi tantangan tersendiri. Intan harus mempelajari berbagai istilah dan konsep baru yang sebelumnya belum pernah ia temui. Ia merasa benar-benar memulai dari nol.

Beruntung, lingkungan kerja yang suportif membuat proses belajar menjadi lebih mudah. Rekan kerja hingga founder perusahaan rutin mengadakan diskusi untuk membahas perkembangan terbaru di dunia digital marketing maupun AI, sehingga setiap anggota tim bisa terus memperbarui pengetahuan mereka.

Baca juga: Cerita Jurnalis Investor Trust Sasya Ramadhani: Berlayar Antar Media, Adaptasi Perjalanan Karier

Saat Cara Menulis Harus Berubah

Meski format penulisannya berubah, kemampuan storytelling yang dimiliki sebagai jurnalis tetap menjadi bekal penting.

Perbedaan paling besar yang langsung dirasakan Intan adalah cara menulis. Sebagai jurnalis, ia terbiasa menyusun artikel yang panjang, detail, dan kaya informasi. Di dunia marketing, pendekatan tersebut justru tidak selalu efektif.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat copy yang singkat, powerful, tapi tetap engaging.”

Selain belajar menulis secara lebih ringkas, ia juga harus terus mengikuti perkembangan bahasa yang digunakan audiens. Mulai dari jargon yang sedang populer hingga tren di media sosial menjadi hal yang perlu dipahami agar pesan yang disampaikan terasa relevan.

Meski format penulisannya berubah, kemampuan storytelling yang dimiliki sebagai jurnalis tetap menjadi bekal penting. Bedanya, cerita yang dibangun kini harus mendukung tujuan bisnis sekaligus tetap terasa autentik.

Untuk mencapai keseimbangan tersebut, Intan banyak berdiskusi dengan tim, terutama brand team yang bertugas menyusun strategi komunikasi. Dari proses kolaborasi itulah ia belajar bahwa konten yang baik bukan hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga mampu membantu brand mencapai tujuannya.

Baca juga: Cerita Jurnalis Investor Trust Sasya Ramadhani: Berlayar Antar Media, Adaptasi Perjalanan Karier

Belajar Mengukur Keberhasilan dengan Cara yang Berbeda

Setiap orang memiliki peran masing-masing sehingga proses belajar maupun pencapaian target tidak menjadi beban individu semata.

Perubahan lainnya adalah cara mengukur hasil pekerjaan. Jika sebelumnya keberhasilan sebagai jurnalis lebih banyak dinilai dari kualitas liputan dan kecepatan menyampaikan informasi, kini pekerjaannya berkaitan dengan berbagai metrik digital seperti performa kampanye, engagement, hingga konversi.

Pada awalnya, berbagai istilah tersebut sempat membuat Intan kebingungan. Namun seiring waktu, ia mulai menikmati proses belajar yang menurutnya sangat mengandalkan trial and error.

“Awalnya memang bingung memahami cara kerja semua metrik itu, tapi lama-lama justru jadi menarik.”

Menurutnya, tantangan tersebut terasa lebih ringan karena seluruh tim bekerja bersama untuk mencapai target yang sama. Setiap orang memiliki peran masing-masing sehingga proses belajar maupun pencapaian target tidak menjadi beban individu semata.

Baca juga: Cerita Jurnalis Investor Trust Sasya Ramadhani: Berlayar Antar Media, Adaptasi Perjalanan Karier

Bekal Jurnalis Tetap Relevan untuk Karier Baru

Kemampuan menulis, melakukan riset, berpikir kritis, hingga menyusun cerita merupakan bekal yang dibutuhkan di banyak industri.

Di akhir wawancara, Intan berbagi pesan bagi para jurnalis yang sedang mempertimbangkan untuk berpindah karier. Menurutnya, langkah pertama bukanlah mencari lowongan pekerjaan, melainkan memahami alasan mengapa ingin melakukan perubahan.

“Pastikan dulu apakah memang ingin mencoba hal baru atau sebenarnya hanya sedang burnout menjadi jurnalis.”

Setelah memahami motivasi tersebut, langkah berikutnya adalah memperbanyak riset mengenai bidang yang ingin dituju. Dengan begitu, proses transisi dapat dipersiapkan dengan lebih matang.

Intan juga mengingatkan agar para jurnalis tidak meremehkan keterampilan yang telah mereka miliki. Kemampuan menulis, melakukan riset, berpikir kritis, hingga menyusun cerita merupakan bekal yang dibutuhkan di banyak industri.

Baca juga: Strategi Digital Marketing Bisnis F&B ala Aulia Haryadi

Karena itu, menurutnya, latar belakang sebagai jurnalis bukanlah hambatan untuk memulai karier baru. Justru pengalaman tersebut bisa menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia kerja yang berbeda.

Gimana, apakah Anda juga semakin tertarik untuk switch career?

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.