Bagi beberapa anak muda, produktif sering kali diartikan sebagai terus bergerak. Menyelesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke pekerjaan berikutnya, mengisi waktu luang dengan aktivitas yang dianggap bermanfaat, hingga merasa bersalah ketika beristirahat.
Padahal, menurut Gracya Rudiman, peneliti dan advokat kesehatan mental, anggapan tersebut justru menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang akhirnya mengalami kelelahan, baik secara mental maupun fisik.
Melalui pekerjaannya, Grace banyak mempelajari hubungan antara kesehatan mental dan produktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
RadVoice Indonesia berkesempatan berbincang dengan Grace mengenai hubungan antara kesehatan mental dan produktivitas, mengapa keduanya tidak bisa dipisahkan, serta kebiasaan sederhana yang dapat membantu anak muda tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan diri.
Produktivitas Bukan Berarti Terus Sibuk

Menurut Grace, produktivitas tidak diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan dalam sehari, melainkan dari kemampuan untuk memberikan yang terbaik sambil tetap menjaga tubuh dan pikiran agar dapat berfungsi dalam jangka panjang.
Karena itu, ia menilai anggapan bahwa seseorang harus terus bekerja tanpa henti agar terlihat produktif merupakan kekeliruan.
“Kamu tidak bisa memaksa diri bekerja terus-menerus seperti mesin,” ujar Gracya yang merupakan salah satu peneliti di berbagai proyek riset bersama National University of Singapore dan Georgetown University, Amerika Serikat.
Karena itu, memahami keterbatasan diri bukan tanda seseorang kurang ambisius. Sebaliknya, menurut Grace, hal tersebut justru menjadi bagian dari produktivitas yang sehat.
Menurut Grace, masih banyak orang menganggap kesehatan mental hanya berkaitan dengan emosi atau gangguan psikologis.
Padahal, kondisi mental memengaruhi hampir seluruh proses berpikir seseorang. Mulai dari kemampuan berkonsentrasi, membuat keputusan, hingga berpikir kreatif.
Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan atau kurang tidur, ia akan lebih sulit berkonsentrasi, berpikir jernih, dan mengambil keputusan.
Akibatnya, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi pun menjadi lebih sulit diselesaikan.
“Kesehatan mental memengaruhi hampir setiap keputusan yang kita ambil setiap hari,” ujarnya.
Baca juga: Bukan Pamer Pencapaian, Begini Cara Timothy Warokka Membangun Personal Branding di LinkedIn
Saat Stres Mulai Berbicara Lewat Tubuh

Kesehatan mental, kondisi fisik dan produktivitas memang memiliki keterkaitan satu sama lain. Hubungan ketiganya menciptakan tekanan atau stres yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan seorang individu.
Namun, perlu diingat bahwa yang terpenting bukan bagaimana kita menghilangkan stres sepenuhnya. Melainkan memahami dan mengelola stres agar tidak berdampak lebih jauh pada kesehatan maupun kemampuan untuk tetap produktif.
Wanita yang akrab disapa Grace ini menjelaskan bahwa stres yang terus dipendam tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi fisik sehingga membuat seseorang lebih sulit menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia mengaku pernah mengalami sendiri bagaimana tekanan yang terus menumpuk akhirnya memengaruhi kesehatan fisiknya.
“Tubuh tidak mengidentifikasi stres emosional dan stres fisik sebagai dua hal yang berbeda. Bagi tubuh, semuanya tetap dianggap sebagai stres,” ujarnya.
Ketika tubuh terus berada dalam kondisi stres, energi dan kemampuan untuk berpikir jernih ikut menurun. Akibatnya, seseorang menjadi kesulitan dalam fokus, mengambil keputusan, dan menyelesaikan pekerjaan secara optimal.
Ia menambahkan, banyak anak muda belum menyadari dampak tersebut karena tubuh mereka masih mampu pulih dengan relatif cepat. Namun, jika kebiasaan mengabaikan stres terus berlanjut, dampaknya dapat terasa dalam jangka panjang, baik terhadap kesehatan maupun kemampuan untuk tetap produktif.
Baca juga: Mengapa Komunitas Semakin Populer? Memahami Fenomena Orang Berkumpul karena Hobi
Memahami Batas Diri Adalah Bentuk Self-care

Salah satu cara menjaga kesehatan mental adalah dengan memahami batas kemampuan diri. Ketika otak sudah tidak mampu berkonsentrasi, memaksakan diri untuk terus bekerja belum tentu memberikan hasil akhir yang maksimal.
Dalam kondisi tersebut, beristirahat sering kali menjadi pilihan yang jauh lebih efektif karena otak membutuhkan waktu untuk memproses informasi dan memulihkan diri.
“Kalau otakmu sudah tidak bisa berpikir lagi, jangan dipaksakan dan langsung tidur,” ungkap Grace.
Ia menambahkan, tidur bukan bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan biologis yang tidak bisa dikompromikan.
Pendapat Grace ini juga didukung oleh studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology (2024) yang menyebutkan bahwa tidur, termasuk tidur siang yang dilakukan selama 30 sampai 60 menit, dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, memperkuat memori, meningkatkan kemampuan belajar, serta mendukung pemulihan dari stres.
Selain tidur yang cukup, Grace menyarankan untuk rutin berolahraga dan memiliki hobi di luar pekerjaan.
“Olahraga atau hobi yang benar-benar dinikmati akan lebih efektif sehingga lebih mudah dilakukan secara konsisten.”
Ia juga menyarankan untuk memulai kebiasaan positif ini dengan langkah kecil. Misalnya, bergabung dengan komunitas lari, mengikuti kelas olahraga bersama teman, membaca buku, menulis jurnal, atau mencoba aktivitas kreatif lainnya.
Kesimpulan

Menjaga kesehatan mental bukan berarti mengurangi produktivitas. Sebaliknya, keduanya saling berkaitan dan saling memengaruhi.
Menurut Grace, produktivitas yang sehat dimulai dari kemampuan mengenali batas diri, mengelola stres, serta memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat ketika dibutuhkan.
Kebiasaan sederhana seperti tidur yang cukup, rutin berolahraga, dan memiliki aktivitas yang disukai dapat menjadi langkah awal untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Dengan memahami bahwa produktivitas bukan sekadar terus sibuk, tetapi juga menjaga diri agar tetap dapat berfungsi dengan baik dalam jangka panjang, anak muda dapat bekerja secara lebih optimal tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalnya.
Wawancara dengan Gracya Rudiman dilakukan pada Rabu, 5 Agustus 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.
