Master of ceremony (MC) memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran sebuah acara. Kehadiran MC membuat rangkaian kegiatan bisa terasa lebih terarah karena mampu menghubungkan satu agenda dengan agenda berikutnya.
Namun, tugas sebagai MC tidak berhenti pada memastikan acara berjalan sesuai susunan dan jadwal yang telah direncanakan. Cara seorang MC menyampaikan informasi, membangun suasana, dan berinteraksi dengan audiens turut memengaruhi bagaimana sebuah acara dirasakan oleh orang-orang yang hadir.
Oleh karena itu, kemampuan public speaking yang diimbangi dengan keterampilan mendengarkan, memahami konteks, dan storytelling sangat diperlukan bagi seorang MC
Kemampuan tersebut juga diterapkan oleh Cakra, seorang MC multibahasa yang mulai menekuni profesi ini sejak 2023. Berawal dari rasa penasaran dan minatnya terhadap public speaking, Cakra mengawali perjalanannya sebagai freelancer.
Kepada RadVoice Indonesia, Cakra bercerita bagaimana seorang MC membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berbicara di depan banyak orang.
Jadi MC Bilingual Bukan Sekadar Bisa Dua Bahasa
Bagi MC yang bisa membawakan acara dengan menggunakan lebih dari satu bahasa, tantangannya bukan sekadar menguasai kosakata atau menerjemahkan kalimat dari satu bahasa ke bahasa lain. Cakra melihat bahwa kemampuan utama yang dibutuhkan adalah menyesuaikan cara berkomunikasi dengan audiens yang hadir.
“Kalau sebatas menerjemahkan setiap kata, tidak ada bedanya dengan Google Translate. Yang paling penting itu mengubah cara kita berkomunikasi, menyesuaikannya. Soalnya setiap bahasa itu punya karakter masing-masing,” ujar Cakra.
Penyesuaian itu mencakup nada bicara dan cara penyampaian. Ia memberikan contoh melalui pengalaman personal, misalnya saat membawakan sebuah acara pernikahan. Menurutnya, selama acara berlangsung ada informasi yang lebih efektif disampaikan dalam bahasa Inggris, lalu poin pentingnya ditegaskan kembali dalam bahasa Indonesia.

Dalam situasi lain, pendekatannya bisa berlaku sebaliknya. Tujuannya bukan sekadar memastikan kedua bahasa digunakan, tetapi membuat pesan tetap tersampaikan dengan baik.
“Begitu juga ketika aku mendapat tawaran untuk membawakan acara wedding Indonesia – Italia. Aku akhirnya belajar bahasa Italia karena ingin keluarga dari Italia benar-benar merasa included dalam acara tersebut. Apalagi soal detail prosesi dari A sampai B, agar mereka bukan sekadar mengikuti acara, melainkan memahami pesan dan makna dari setiap prosesi yang dilangsungkan,” kata Cakra.
Oleh karena itu, selain public speaking, kemampuan bahasa, dan storytelling, Cakra menilai bahwa keterampilan mendengarkan dan kepekaan terhadap situasi menjadi fondasi penting bagi seorang MC.
“Kemampuan mengatur waktu memang penting. Namun, kemampuan untuk mendengarkan dan peka terhadap situasi yang terjadi itu sangat dibutuhkan, karena selama acara berlangsung kita sebagai MC itu terlibat komunikasi dengan banyak pihak. Dari wedding organizer (WO) atau event organizer (EO), keluarga, sampai para tamu,” jelas Cakra.
Menguasai kemampuan-kemampuan tersebut dapat membantu seorang MC untuk menentukan apa yang perlu dilakukan saat situasi tidak sesuai rencana yang sudah disiapkan.
Baca juga: RadVoice Mendukung Media Relations Plan Indonesia untuk Future Mobility Educators Workshop 2026
MC Perlu Memahami Cerita di Balik Setiap Acara
Kepekaan terhadap situasi tidak muncul begitu saja ketika acara berlangsung. Bagi Cakra, persiapan sebelum acara merupakan bagian penting dari pekerjaan MC.
Ia biasanya mempelajari susunan acara, latar belakang kegiatan, karakter audiens, hingga detail seperti pelafalan nama dan unsur budaya yang berkaitan dengan acara tersebut.
Pemahaman ini membantunya menyampaikan informasi dengan lebih kontekstual, bukan sekadar membacakan naskah. Dengan mengenali cerita di balik sebuah acara, MC juga dapat menentukan pendekatan komunikasi yang tepat.
“Mengenali detail dan konteks setiap acara sangat membantu menjaga perhatian para tamu. Dengan begitu, mereka tidak mudah bosan dan bisa tetap terlibat sepanjang acara,” sampai Cakra.
Apa yang Harus Dilakukan MC Ketika Acara Tidak Berjalan Sesuai Rundown?
Namun, persiapan yang matang tidak menjamin seluruh rangkaian acara akan berjalan sesuai rencana. Cakra pernah menghadapi situasi seperti audiens yang tidak merespons, perubahan mendadak pada tamu undangan penting, hingga pergeseran susunan acara.
Dalam kondisi seperti itu, MC perlu tetap tenang sekaligus cepat menentukan langkah. Cakra biasanya berkoordinasi dengan WO atau EO untuk mengetahui berapa lama waktu yang perlu diisi dan perubahan apa yang harus dilakukan.

Berdasarkan informasi tersebut, ia dapat memutuskan apakah perlu menjembatani waktu dengan narasi, mengajak audiens berinteraksi, memperpanjang segmen tertentu, atau langsung beralih ke agenda lain.
Keputusan ini penting karena tidak semua situasi membutuhkan respons yang sama. Mengisi waktu dengan terus berbicara, misalnya, belum tentu menjadi pilihan terbaik. Seperti yang dikutip dari RRI, MC perlu mempertimbangkan suasana acara, kebutuhan audiens, dan arahan penyelenggara sebelum menentukan cara melanjutkan acara.
“Jangan sampai audiens tahu kalau ada yang salah atau berubah, jangan panik. Makannya kemampuan improvisasi itu dibutuhkan. Tapi improvisasi bukan berarti kita harus pandai berbicara panjang lebar, melainkan tahu mana yang tepat untuk dilakukan.”
Tantangan MC Bilingual Di Era Digital
Perkembangan teknologi turut mengubah cara audiens menikmati sebuah acara. Kini, pengalaman sebuah kegiatan tidak selalu terbatas pada orang-orang yang hadir di lokasi.
Sebuah acara dapat disiarkan melalui livestream, ditonton oleh audiens dari negara lain, dan diunggah melalui potongan video yang dibagikan di media sosial setelah kegiatan selesai.
Sebagai MC multibahasa, situasi ini pun menuntut ketelitian dan konsentrasi tinggi, agar pesan dan tujuan acara bisa tetap tersampaikan dengan baik.

Meski begitu, Cakra mengingatkan agar kebutuhan digital tidak menggeser fokus utama MC dalam memandu acara secara langsung.
“Orang-orang yang hadir di ruangan tetap menjadi prioritas utama. Menurutku, jangan sampai karena acara semakin digital, cara kita membawakannya justru terasa seperti sedang membuat konten,” tambahnya.
Baca juga: Cara Dosen UIN Walisongo Hasan Labiqul Aqil Menjaga Sikap Kritis di Tengah Derasnya Arus Informasi
Menjadi MC Berarti Menjadi Penghubung dalam Sebuah Acara
Hampir lima tahun menekuni profesi ini, Cakra menyadari bahwa peran utama MC adalah menjadi penghubung di antara berbagai elemen acara.
MC menjembatani penyelenggara dengan audiens, menghubungkan satu proses dengan proses berikutnya, serta memastikan rencana yang disusun di balik panggung dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang dipahami dan dirasakan oleh orang-orang yang hadir.
Peran ini terasa semakin penting dalam acara yang bersifat personal, seperti pernikahan. MC perlu memahami kapan harus mengarahkan perhatian, kapan membangun suasana, dan kapan memberi ruang agar sebuah momen dapat dinikmati tanpa terlalu banyak intervensi.

“Aku sekarang lebih suka gaya penyampaian yang singkat, jelas, tetapi tetap bermakna. Membantuku memahami bahwa komunikasi yang efektif tidak selalu membutuhkan lebih banyak kata atau energi,” jelas Cakra.
Dari pengalamannya juga, Cakra mengatakan bahwa kemauan untuk terus belajar menjadi prinsip penting untuk siapapun yang ingin mengembangkan karier sebagai MC.
“Jangan cuma belajar bahasa atau cara berbicara, tetapi pahami juga apa yang sedang dibicarakan.”
Sebab, komunikasi yang baik berangkat dari pemahaman terhadap pesan, konteks, dan mengenali siapa yang menerima pesan tersebut. Semakin dalam seseorang memahami hal yang ingin disampaikan, semakin baik pula ia dapat mengkomunikasikannya.
Wawancara dengan Cakra dilakukan pada 13 Oktober 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.