Desain visual sering dianggap sebagai urusan tampilan semata. Padahal di balik sebuah konten yang berhasil menarik perhatian, ada pesan yang ingin disampaikan dan audiens yang ingin dijangkau.
Dalam komunikasi dan public relations (PR), visual menjadi salah satu elemen pertama yang membentuk kesan audiens terhadap sebuah brand, bahkan sebelum mereka membaca satu kata pun.
Hal inilah yang dijalani Andi Niaa, content dan branding designer yang berfokus pada layout dan konten visual untuk kreator dan bisnis.
Kepada RadVoice Indonesia, Andi bercerita tentang perjalanan kariernya, peran desain dalam membentuk persepsi audiens, hingga bagaimana ia menyikapi perbedaan selera dengan klien.
Dari Katalog Jahitan Ibu hingga Menjadi Content Designer

Ketertarikan Andi pada desain tidak berasal dari rencana yang matang. Saat pandemi Covid-19, ia membuat akun Instagram fesyen untuk menampilkan pakaian hasil jahitan ibunya. Ia kemudian menata setiap unggahan agar profil akun tersebut terlihat seperti katalog.
“Awalnya saya sebenarnya tidak sadar punya ketertarikan pada visual design,” kata Andi.
Ia kemudian mengembangkan akun tersebut untuk memasarkan masker kain dan strap. Meski produknya berubah, ia tetap memperhatikan kerapian tampilan profil Instagram-nya.
Pada 2020, Andi baru lulus kuliah di tengah terbatasnya kesempatan kerja. Saat itu, Balai Latihan Kerja (BLK) Makassar, yang kini bernama Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Peningkatan Produktivitas (BBPVP) di bawah Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), membuka pelatihan sertifikasi Desainer Grafis Muda.
Andi ikut seleksi dan diterima hingga pengalaman tersebut menjadi titik awal yang membuatnya semakin tertarik pada dunia desain.
Setelah sekitar dua tahun berkarier, Andi menyadari dunia desain memiliki cakupan yang sangat luas. Ia pun memilih untuk berfokus pada desain konten media sosial.
Spesialisasi itu kerap disamakan dengan pekerjaan desainer grafis pada umumnya. Padahal, menurut Andi, content designer dalam graphic merupakan salah satu bidang dalam graphic designer.
Sementara itu, ia membedakan peran graphic designer dan creative designer berdasarkan keterlibatan keduanya dalam proses kreatif. Adapun branding designer memiliki fokus tersendiri, yaitu membangun identitas dan citra brand.
Dalam pemahamannya, graphic designer berfokus pada eksekusi brief yang sudah ada dengan kualitas desain akhir sebagai prioritas. Sementara itu, creative designer terlibat sejak tahap pengembangan konsep, dengan mempertimbangkan dampak dan pesan yang ingin disampaikan.
Perbedaan pemahaman tentang peran desainer ini juga kerap muncul saat bekerja dengan klien.
Andi mengaku beberapa kali bertemu brand baru yang menginginkan engagement tinggi dengan cepat, padahal membangun keterlibatan audiens membutuhkan proses. Selain itu, banyak klien yang mengira desainer grafis ikut bertanggung jawab atas pemasaran brand.
“Padahal tugas kami memvisualkan dan membantu mengembangkan ide dari campaign yang sudah dibuat,” ujarnya. Ia menggambarkan peran desainer sebagai pembuka gerbang yang membawa leads (calon pelanggan) ke brand.
Andi mengibaratkan desainer sebagai pihak yang membantu menarik perhatian audiens dan mengarahkan calon pelanggan kepada brand.
“Begitu leads masuk, itu sudah menjadi tugas tim internal brand.” Karena itu, menurutnya, masalah sering muncul pada kerja sama antara tim internal brand dan desainer.
Menurutnya, pembagian tanggung jawab yang kurang jelas antara desainer dan tim internal brand dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam proses kerja sama.
Baca juga: Di Balik Peran Cakra Sebagai MC, Ada Seni Berkomunikasi dan Bercerita
Strategi Desain yang Membuat Brand Lebih Dikenal

Peran desain dalam membentuk persepsi audiens dapat dilihat dari pengalaman Andi menangani sejumlah proyek.
Andi pernah membantu seorang kreator yang kontennya sudah bagus dan sering masuk beranda For You Page (FYP), tetapi belum memiliki tampilan visual yang cukup menarik dan konsisten.
“Setelah saya bantu visualkan ulang dengan lebih menarik, engagement-nya naik berkali-kali lipat. Sekarang dia sudah punya ciri khas visual untuk personal branding-nya,” kata Andi.
Pengalaman serupa ia temui saat menangani sebuah brand makanan dan minuman (F&B) di Makassar. Andi membantu membangun konsistensi visual konten brand tersebut sehingga audiens dapat mengenalinya tanpa harus melihat logo.
Kedua pengalaman ini menunjukkan bahwa desain visual tidak hanya berfungsi untuk mempercantik konten. Jika dirancang secara konsisten, visual juga dapat membantu membangun identitas brand dan membuatnya lebih mudah dikenali oleh audiens.
Mengelola Revisi dan Selera dengan Audiens sebagai Penentu

Andi mengerjakan sebagian proyek sendiri dan sebagian lainnya dalam tim.Dalam proyek tim, ia dan rekan-rekannya biasanya mendiskusikan brief terlebih dahulu untuk menentukan arah konten yang sesuai dengan kebutuhan brand, termasuk topik yang akan diangkat dalam satu minggu.
Setelah itu, ia mencari referensi dari Pinterest dan media sosial, lalu mengolahnya menjadi konsep visual baru yang ditetapkan sesuai dengan ciri khas brand.
“Saya lumayan gengsi kalau harus meniru referensi persis,” ujarnya.
Selain mengembangkan konsep visual, Andi juga perlu menghadapi perbedaan selera dengan klien. “Desain itu tergantung selera, dan tidak semua selera orang bagus,” kata Andi.
Ia biasanya memberikan kesempatan revisi sebanyak dua kali. Pada versi pertama, Andi menyajikan desain yang menurutnya paling sesuai dengan kebutuhan proyek.
Jika klien meminta perubahan, ia terlebih dahulu menjelaskan alasan di balik pilihan desain tersebut. Namun, jika klien tetap tidak setuju, ia akan menyesuaikan desain dengan keinginan klien.
Untuk menghindari perdebatan yang berlarut-larut , Andi sering menawarkan A/B testing, yaitu menguji dua versi desain kepada audiens untuk melihat mana yang mendapat respons lebih baik.
“Ukuran keberhasilan desain adalah apakah ia mampu menarik atensi. Jadi biar audiens yang menentukan sendiri versi mana yang lebih disukai,” jelasnya.
Pengalaman tersebut juga membentuk pandangan tentang sikap yang perlu dimiliki seorang desainer. Menutup perbincangan, Andi berpesan kepada calon desainer agar tidak terlalu idealis.
“Karya visualmu bukan untuk dirimu sendiri,” katanya.
Bagi Andi, desain perlu mempertimbangkan kebutuhan brand dan respons audiens, bukan hanya selera pribadi pembuatnya. Meski perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi industri kreatif, ia tetap optimistis terhadap masa depan profesi desainer.
Menurutnya, desain tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh AI karena ada satu hal yang membedakan manusia, yaitu taste atau kepekaan dalam menilai dan menentukan pilihan visual.
Baca juga: Cara Dosen UIN Walisongo Hasan Labiqul Aqil Menjaga Sikap Kritis di Tengah Derasnya Arus Informasi
Kesimpulan

Kisah Andi menunjukkan bahwa desain visual memiliki peran lebih luas daripada sekadar mempercantik tampilan konten. Desain dapat membantu membentuk kesan pertama, memperkuat identitas, dan membuat sebuah brand lebih mudah dikenali oleh audiens.
Karena itu, tim brand dan desainer perlu bekerja selaras. Tim brand bertanggung jawab merumuskan pesan dan strategi komunikasi, sedangkan desainer menerjemahkannya ke dalam visual yang sesuai dengan karakter brand dan kebutuhan audiens.
Pada akhirnya, desain yang baik bukan semata-mata desain yang paling indah menurut pembuatnya, melainkan desain yang mampu menyampaikan pesan dan menarik perhatian audiens.
Wawancara dengan Andi Niaa dilakukan pada 22 Oktober 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.
