Memahami Isu Internasional: Tantangan bagi Jurnalis dan Pembaca

MOSCOW – Berita internasional kini semakin mudah diakses dan dibagikan. Namun, memahami sebuah peristiwa tidak cukup dengan mengetahui apa yang diberitakan.

Pembaca juga perlu memperhatikan sumber informasi, memahami konteks kejadian, dan memastikan bahwa informasi yang diterima telah diverifikasi. Tanpa hal-hal tersebut, sebuah berita bisa dipahami secara tidak utuh.

Dalam peliputan isu internasional, jurnalis perlu memahami latar belakang peristiwa dan memeriksa informasi sebelum menyampaikannya kepada publik. Pembaca pun perlu bersikap kritis, terutama ketika mengonsumsi berita yang disadur media nasional dari media asing.

Publik pun perlu bersikap kritis terhadap berita yang mereka baca, termasuk ketika media nasional mengadaptasi pemberitaan dari media asing. 

Baca juga: Saat Retorika Bakom Soal Karhutla Disorot Media Asing: Catatan untuk Komunikasi Krisis Pemerintah Indonesia

Founder dan CEO RadVoice Indonesia, Randy Mulyanto, sempat berbincang dengan Fauzan Al-Rasyid, produser di RT International, dan Alvin Qobulsyah, pendiri sekaligus Managing Editor The Southeast Asia Desk di sela-sela acara II Global Digital Forum di Moscow, Rusia.

Keduanya membagikan pandangan mereka tentang tantangan meliput isu internasional, pentingnya verifikasi, serta cara memahami berita dengan lebih kritis.

Meliput Isu Internasional Membutuhkan Riset Mendalam

Meliput isu internasional tidak cukup dengan mendatangi lokasi dan melaporkan apa yang terlihat. Jurnalis perlu memahami latar belakang peristiwa, dinamika politik, serta perspektif pihak-pihak yang terlibat agar dapat menyampaikan informasi secara lebih utuh.

Alvin Qobulsyah berbagi soal pentingnya riset sebelum jurnalis bertemu narasumber atau terjun langsung ke lapangan. “Untuk peliputan yang sedapat mungkin imparsial, berimbang, dan memberikan ruang bagi semua pihak, kita tidak bisa datang dan memberitakan apa yang hanya kita lihat. Risetnya harus cukup dalam,” jelasnya.

Alvin Qobulsyah berbagi bahwa konteks dan posisi berbagai pihak menjadi bekal bagi jurnalis untuk menghasilkan pemberitaan yang berimbang. (Foto oleh Randy Mulyanto)

Pengalamannya meliput di Donbas menunjukkan bahwa jurnalis perlu memahami konteks historis dan kondisi lokal sebelum memberitakan suatu peristiwa. Pengetahuan ini juga membantu jurnalis mengenali hal-hal yang sensitif bagi masyarakat setempat, termasuk penyebutan nama tempat.

Tantangan lainnya muncul ketika jurnalis Indonesia meliput konflik yang melibatkan negara-negara yang memiliki hubungan berbeda dengan Indonesia. 

Alvin menjelaskan bahwa jurnalis Indonesia perlu berhati-hati ketika meliput Rusia, mengingat negara tersebut sedang berseteru dengan negara lain yang juga memiliki hubungan baik dengan Indonesia. 

Dalam situasi seperti ini, jurnalis perlu menempatkan diri agar dapat meliput berbagai pihak tanpa kehilangan sikap kritis. Alvin menekankan pentingnya sikap tersebut, terutama bagi jurnalis yang berasal dari negara di luar pihak-pihak yang berkonflik. 

Pemahaman terhadap konteks dan posisi berbagai pihak menjadi bekal bagi jurnalis untuk menghasilkan pemberitaan yang berimbang. Prinsip ini juga penting ketika media nasional mengadaptasi berita internasional dari sumber lain, terutama jika tidak memiliki akses langsung ke lokasi kejadian.

Sebelum Menyebarkan Berita, Periksa Sumber dan Konteksnya

Salah satu tantangan dalam pemberitaan internasional adalah keterbatasan akses media nasional terhadap peristiwa di luar negeri. Alvin menjelaskan bahwa tidak banyak media Indonesia yang memiliki koresponden tetap atau biro luar negeri.

Akibatnya, pemberitaan internasional kerap mengandalkan kantor berita asing atau penyedia layanan berita (news agency).

“Sumber-sumber tersebut pasti sudah punya perspektif, sudut pemberitaan, dan sudah punya framing dan lain-lain,” kata Alvin.

Karena itu, berita yang berasal dari media asing tidak seharusnya langsung diterjemahkan dan disebarkan tanpa verifikasi lebih dalam. Redaksi perlu menilai informasi yang diperoleh, memeriksa klaim, dan memastikan konteks penting tidak hilang ketika berita diterjemahkan atau disadur.

Fauzan Al-Rasyid menyoroti persoalan tersebut melalui contoh pemberitaan mengenai dugaan kebocoran laboratorium biologis di Siberia. Ia menjelaskan bahwa pemberitaan yang menonjolkan dugaan wabah tanpa konteks lokasi fasilitas dan penanganan kejadian dapat membentuk pemahaman publik yang tidak lengkap.

Fauzan Al-Rasyid menyampaikan jika verifikasi kini menjadi tanggung jawab bersama. (Foto oleh Fauzan Al-Rasyid)

Dalam kasus tersebut, pembaca perlu mengetahui di mana fasilitas berada, bagaimana kondisi di sekitarnya, serta sejauh mana informasi mengenai kejadian itu telah dikonfirmasi. Tanpa konteks tersebut, publik berisiko menarik kesimpulan hanya berdasarkan informasi yang ditonjolkan dalam pemberitaan.

Karena itu, verifikasi menjadi langkah penting sebelum informasi diterima sebagai fakta. Fauzan mengingatkan, “Yang penting adalah kita harus selalu check dan recheck. Kita harus melakukan verifikasi.”

Kebutuhan untuk memeriksa informasi juga muncul di tengah tingginya penggunaan media sosial. Laporan dari We Are Social 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 21 jam 50 menit per minggu di media sosial, artinya lebih dari 3 jam dalam sehari dengan rentang perhatian yang semakin singkat. 

Tingginya penggunaan media sosial membuat masyarakat memiliki banyak kesempatan untuk mengakses berita. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut pembaca untuk lebih cermat dalam menilai informasi yang beredar, termasuk memeriksa sumber dan memastikan kebenaran klaim yang disampaikan. 

Baca juga: Mengapa Empati Penting dalam Komunikasi Politik?

Verifikasi Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Bagi Fauzan, verifikasi tidak lagi cukup jika hanya mengandalkan jurnalis atau media. Ketika siapa pun dapat membuat konten dan menyebarkan informasi, setiap orang juga perlu mengambil peran dalam memeriksa kebenaran informasi yang diterimanya.

“Dulu memang verifikasi itu adalah tugasnya jurnalisme, tugasnya dari media atau pers. Tapi sekarang, semua orang harus dan bertanggung jawab untuk bisa verifikasi sendiri, mandiri,” katanya.

Pembaca dapat memulainya dengan menelusuri sumber asli berita, membandingkan laporan dari beberapa media, dan mencari informasi tambahan mengenai latar belakang peristiwa. 

Langkah-langkah ini membantu pembaca menilai apakah informasi yang diterima memiliki dasar yang kuat atau masih berupa klaim yang perlu diperiksa lebih lanjut.

algoritma media sosial
Media sosial menjadi persebaran berita yang cepat sehingga publik perlu memeriksa sumber, membandingkan pemberitaan, dan mencari perspektif lain sebelum menerima suatu informasi sebagai kebenaran. (Foto oleh Freepik)

Selain memeriksa kebenaran informasi, pembaca juga perlu menyadari bahwa setiap pemberitaan memiliki sudut pandang dan keterbatasan. Alvin menjelaskan bahwa publik perlu keluar dari echo chamber, yaitu lingkungan informasi yang didominasi oleh pandangan yang sudah mereka sukai atau percayai.

Salah satu caranya adalah dengan mencari dan membaca sumber yang memiliki sudut pandang berbeda, termasuk sumber yang tidak selalu sejalan dengan pandangan pribadi. Dengan begitu, pembaca memiliki kesempatan untuk memahami suatu peristiwa dari perspektif yang lebih beragam.

Menurut Alvin, keterbatasan ruang dan waktu turut memengaruhi bagaimana berita disajikan. Artikel memiliki batas panjang tulisan, siaran televisi dan radio dibatasi durasi, sementara media digital juga menghadapi keterbatasan perhatian pembaca. Akibatnya, satu berita tidak selalu dapat memuat seluruh informasi dan perspektif mengenai suatu peristiwa.

Alvin mengibaratkan informasi dari berbagai pemberitaan sebagai potongan puzzle yang perlu dilengkapi oleh pembaca. “Jadi tugasnya audiens adalah melengkapi puzzle itu dengan membaca sebanyak-banyaknya.”

Membaca dari berbagai sumber membantu publik melengkapi potongan informasi yang tidak tersedia dalam satu berita. Namun, langkah ini tetap perlu disertai pemeriksaan terhadap kualitas sumber dan bukti, bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin pemberitaan.

Baca juga: Di Balik Bahasa Gaul Gen Z: Fenomena ‘Orang Have, Enough, dan Haven’t’ yang Viral

Oleh karena itu, di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan digital saat ini, memahami peristiwa internasional membutuhkan upaya dari jurnalis maupun publik sebagai audiens.

Jurnalis perlu melakukan riset, memverifikasi informasi dan sumber internasional yang digunakan, serta menyampaikan konteks yang memadai. Sementara itu, pembaca perlu memeriksa sumber, membandingkan pemberitaan, dan mencari perspektif lain sebelum menerima suatu informasi sebagai kebenaran. 

Dengan demikian, memahami berita internasional bukan hanya soal mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami konteksnya, memeriksa kebenaran informasi, dan menyadari bahwa setiap sumber memiliki keterbatasan. Sikap kritis inilah yang membantu publik membangun pemahaman yang lebih utuh terhadap berbagai isu internasional. 

Randy Mulyanto menghadiri II Global Digital Forum atas undangan pemerintah Rusia.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.