Belajar dari Kaspersky, Cara Jurnalis Menulis Berita Cybersecurity yang Relevan bagi Pembaca

MOSCOW – Isu cybersecurity kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari perlindungan data pribadi hingga risiko penipuan digital.

Namun, menjelaskan ancaman siber tidak cukup dengan memaparkan istilah teknis atau perkembangan teknologi terbaru. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan isu tersebut dengan pengalaman, kebutuhan, dan kepentingan pembaca.

Founder dan CEO RadVoice Indonesia, Randy Mulyanto, menghadiri sesi panel Kommersant Publishing House yang bertajuk A Map of IT Journalism in Russia – Who Shapes the Agenda, and How Leading Newsrooms Work with Technology Topics. 

Sesi ini menjadi bagian dari II Global Digital Forum (GDF) yang berlangsung di Moscow, Rusia, pada 8-10 Oktober 2026. Forum yang diselenggarakan oleh pemerintah Rusia ini mempertemukan para ahli, praktisi, pelaku industri teknologi, dan perwakilan berbagai organisasi untuk membahas perkembangan teknologi digital. 

Di antara beragam topik yang dibahas, panel jurnalisme IT menghadirkan satu pelajaran penting: berita teknologi tidak cukup hanya akurat secara teknis, tetapi juga harus relevan bagi pembacanya. Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi jurnalis, tetapi juga bagi tim komunikasi yang bekerja sama dengan media untuk menyampaikan informasi teknologi.

Lantas, bagaimana jurnalis bisa mengangkat isu cybersecurity agar lebih dekat dengan kehidupan pembaca? Berikut beberapa pelajaran dari diskusi tersebut. 

Baca juga: RadVoice Berbagi Perspektif Lokal di Kancah Internasional dalam II Global Digital Forum di Moscow

Mengangkat Dampak di Balik Ancaman Siber

Jurnalis perlu menjelaskan dampak ancaman siber dan relevansinya bagi kehidupan sehari-hari pembaca, bukan sekadar aspek teknisnya. (Foto oleh Ilya Pitalev/Sputnik)

Hampir setiap pekan ada kabar serangan siber baru, mulai dari kebocoran data, ransomware, hingga malware di ponsel. Bagi jurnalis, isu yang bisa diangkat seolah tidak ada habisnya. Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar menemukan ancaman baru, melainkan menjelaskan mengapa ancaman tersebut perlu diperhatikan oleh pembaca.

Menurut Yuliya Shlychkova, Vice President, Government Affairs and Public Policy di Kaspersky, perusahaan cybersecurity global dan penyedia antivirus, berita yang menarik harus mampu menjawab satu pertanyaan mendasar: “Mengapa ini penting bagi saya?” 

Pertanyaan ini menjadi penting karena pembaca bisa saja menganggap berita tentang ancaman siber sebagai informasi teknis yang tidak berkaitan langsung dengan kehidupan mereka. Di sinilah jurnalis berperan menerjemahkan isu yang kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami dan terasa relevan. Shlychkova menyebut pendekatan ini sebagai prinsip emas dalam peliputan.

Dengan pendekatan tersebut, nama malware atau kelompok hacker tidak perlu menjadi fokus utama di awal berita. Jurnalis perlu lebih dulu menjelaskan dampak ancaman tersebut, siapa yang berisiko terdampak, serta langkah yang bisa dilakukan pembaca untuk melindungi diri.   

Mengenali Isu Sebelum Menjadi Perhatian Global 

Memantau perkembangan isu sejak dini membantu menemukan sudut pemberitaan yang relevan sebelum suatu topik menjadi perhatian global. (Foto oleh Ilya Pitalev/Sputnik)

Selain memahami dampak ancaman siber, jurnalis juga perlu mengenali isu yang berpotensi menjadi perhatian lebih luas, bahkan sebelum isu tersebut ramai dibicarakan. 

Salah satu contoh yang Shlychkova tunjukkan adalah riset Wi-Fi publik saat Piala Dunia di Meksiko 2026. Peneliti Kaspersky memeriksa titik Wi-Fi di ruang publik untuk mengidentifikasi jaringan yang tidak aman. Riset ini relevan karena banyak wisatawan diperkirakan akan mengunjungi Meksiko untuk menonton pertandingan.

Saat terhubung ke jaringan Wi-Fi publik yang tidak aman, mereka berisiko mengekspos data pribadi. Dengan mengangkat risiko tersebut dalam konteks perhelatan olahraga internasional, riset yang dilakukan di tingkat lokal pun memiliki relevansi bagi audiens global. 

Relevansi itu juga terlihat dalam sesi tanya jawab. Seorang jurnalis investigasi dari Afrika Selatan menceritakan bahwa akunnya diretas setelah menggunakan internet di bandara. Menanggapi pengalaman tersebut, Kaspersky menyarankan agar pengguna menghindari Wi-Fi publik untuk aktivitas sensitif, seperti transaksi perbankan. 

Contoh lain adalah isu pembatasan usia di media sosial. Kini lebih dari 40 negara membahasnya, sementara dua tahun lalu baru sekitar 12 negara.

Kaspersky sudah mengikuti isu ini sejak beberapa tahun lalu. Ketika pembatasan usia di media sosial mulai menjadi perhatian global, Kaspersky sudah memiliki narasi dan argumen yang dapat dibagikan kepada media dan regulator. 

Kedua contoh tersebut menunjukkan pentingnya memantau perkembangan isu sejak dini. Topik yang awalnya muncul di satu wilayah bisa berkembang menjadi perhatian global.

Sebaliknya, isu internasional juga bisa memiliki dampak yang sangat spesifik bagi masyarakat di suatu negara. Bagi jurnalis, kepekaan terhadap perkembangan ini membantu mereka mengenali sudut pemberitaan yang relevan sebelum suatu isu menjadi arus utama. 

Baca juga: Menjawab Tantangan Kepercayaan Terhadap Informasi di Era AI dalam II Global Digital Forum Moscow

Mengantisipasi Risiko di Tengah Adopsi AI

Keamanan AI menjadi peluang pemberitaan baru, terutama terkait risiko manipulasi agen AI yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses atau mengirimkan data organisasi. (Foto oleh Ilya Pitalev/Sputnik)

Perkembangan teknologi juga menuntut jurnalis untuk terus memperluas cakupan liputannya. Salah satu topik yang menurut Shlychkova perlu mendapat perhatian lebih adalah keamanan kecerdasan buatan (AI).

Adopsi teknologi ini meningkat cepat, sementara keamanan siber dan keselamatannya masih menghadapi berbagai tantangan.

Kondisi ini membuka peluang bagi jurnalis untuk mengangkat risiko penggunaan AI, bukan hanya manfaat dan inovasi yang ditawarkannya. 

Sebagai salah satu contoh, pada pekan penyelenggaraan forum, Kaspersky merilis panduan keamanan agen AI (AI agent). Panduan tersebut berawal dari pekerjaan peneliti di Rusia, kemudian diperkenalkan kepada audiens internasional melalui acara AI di Abu Dhabi dan siaran pers dalam berbagai bahasa. 

Shlychkova juga menyoroti insiden ketika peretas menyusup ke jaringan sebuah organisasi, menargetkan agen AI yang beroperasi di dalamnya, lalu memanipulasi agen tersebut agar mengirimkan data ke luar jaringan. 

Contoh ini memperlihatkan bahwa agen AI bukan sekadar alat untuk mengotomatisasi pekerjaan. Jika tidak diamankan dengan baik, teknologi tersebut juga dapat menjadi celah yang dimanfaatkan penyerang untuk mengakses atau mengirimkan data organisasi. 

Bagi pembaca Indonesia, risiko manipulasi agen AI pun relevan untuk dipahami, terutama ketika bisnis mulai mengandalkan AI untuk menjalankan berbagai proses kerja.  Persoalannya bukan lagi bagaimana menggunakan teknologi tersebut, tetapi juga bagaimana memastikan penggunaannya tetap aman.

“Kita bisa menikmati otomatisasi dan memakai AI agent, tetapi kita juga harus melakukannya dengan aman,” ujar Shlychkova.

Melihat Isu Teknologi dari Perspektif Global

Satu isu dapat dikembangkan menjadi berbagai format konten untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkaya sudut pandang pemberitaan. (Foto oleh Ilya Pitalev/Sputnik)

Selain menentukan topik yang relevan, jurnalis juga perlu memikirkan cara menyampaikan informasi agar dapat menjangkau audiens melalui berbagai format. 

Soal format, Shlychkova menyarankan para produsen konten untuk bereksperimen dengan long read, tulisan pendek, video, hingga webinar.

Menurut pendekatan ini, satu topik tidak harus berhenti sebagai satu berita. Dengan mengemasnya dalam berbagai format, jurnalis dapat memperpanjang relevansi sebuah isu sekaligus menjangkau audiens dengan kebutuhan informasi yang berbeda 

Sebagai contoh, satu riset keamanan dapat diolah menjadi berita singkat saat hasilnya dirilis, artikel mendalam pada pekan berikutnya, video penjelasan, hingga webinar bersama peneliti. Dengan demikian, satu temuan dapat menjadi bahan untuk beberapa konten yang saling melengkapi.

Shlychkova juga mendorong jurnalis untuk memperluas perspektif dengan mengikuti pemberitaan media teknologi di negara lain dan memantau publikasi dari perusahaan teknologi besar, termasuk Kaspersky.

Banyak isu keamanan siber melampaui batas negara. Karena itu, memahami bagaimana suatu isu dibahas di berbagai wilayah dapat membantu jurnalis menemukan sudut pandang baru dan menyajikan liputan yang lebih kaya.

Pada akhirnya, kecanggihan teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keamanan siber. Perilaku manusia juga berperan penting dan kerap menjadi salah satu titik paling rentan dalam sistem keamanan. Karena itu, Shlychkova mengajak media untuk menyertakan setidaknya satu saran literasi siber di akhir setiap artikel tentang isu digital. 

“Mari kita bersama-sama menjadikan cyber hygiene sebagai kebiasaan, seperti menyikat gigi atau memasang sabuk pengaman,” ujarnya.

Randy Mulyanto menghadiri II Global Digital Forum atas undangan pemerintah Rusia.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.