Menjawab Tantangan Kepercayaan Terhadap Informasi di Era AI dalam II Global Digital Forum Moscow

Panel Humans Need Humans: Trust In Media The Age Of AI, II Global Digital Forum Moscow

MOSCOW – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berjalan begitu pesat. Di saat yang sama, kesiapan masyarakat global terhadap pertumbuhan ini masih dipertanyakan.

Semakin hari, konten yang dihasilkan lewat AI semakin banyak dan sulit dikonfirmasi kebenarannya sehingga menimbulkan kebingungan. Arus informasi yang begitu cepat pun memperparah situasi ini.

Sebagai upaya menjawab masalah itu, II Global Digital Forum menggelar panel berjudul “Humans Need Humans: Trust in Media in the Age of AI” di Moscow, Rusia. Diskusi ini mengangkat gagasan bahwa peran manusia dalam proses produksi konten melalui AI masih sangat penting.

Founder dan CEO RadVoice Indonesia, Randy Mulyanto, hadir sebagai salah satu undangan. Di dalam kesempatan itu, ia turut berbagi pandangan sekaligus memperluas pemahaman mengenai media di tengah perkembangan AI.

Baca juga: RadVoice Berbagi Perspektif Lokal di Kancah Internasional dalam II Global Digital Forum di Moscow

Di Tengah Kepungan Konten Buatan AI

II Global Digital Forum

Panel “Humans Need Humans: Trust in Media in the Age of AI” dalam II Global Digital Forum di Moscow. (Foto oleh Randy Mulyanto/RadVoice)

Penggunaan AI dalam kehidupan sehari-sehari oleh masyarakat modern semakin masif. Jika beberapa waktu lalu kita mencari informasi melalui Google atau Yahoo, kini AI bisa melakukannya dengan lebih cepat.

Tak hanya itu, AI juga semakin canggih membuat konten mulai tulisan, musik, gambar, hingga video. Bahkan terkadang kita tidak menyadari bahwa konten yang dikonsumsi adalah AI-generated.

Siapa pun bisa menggunakan AI untuk membuat konten yang kita konsumsi di media. Jika dulu seseorang harus lihai menggunakan Photoshop untuk mengganti wajah orang lain, kini hanya dengan menuliskan kalimat prompt, maka AI akan mengubah foto seperti yang diinginkan.

Kecanggihan AI ini juga tidak jarang disalahgunakan, membuat suatu konten seakan benar-benar terjadi atau asli. Padahal konten tersebut sudah diubah sedemikian rupa. 

Founder dan CEO Ionz Creative Digital, Giri Maulana, mengakui bahwa AI memiliki berbagai kecanggihan. Meski begitu, kapasitas manusia dalam memahami konteks dan informasi sebenarnya jauh lebih luas.

“AI bisa membantu membuat narasi, gambar, video, hingga memberi saran konten yang disukai audiens. AI punya banyak kecanggihan yang tidak kita miliki, tetapi di sinilah peran kita. Makin banyak informasi yang kita terima, makin bingung dan skeptis pula kita terhadap apa yang muncul di media sosial,” kata Giri dalam panel “Humans Need Humans: Trust in Media in the Age of AI” di II Global Digital Forum Moscow.

Menurut Giri, sebenarnya ada paradoks di tengah perkembangan teknologi ini. Semakin banyak teknologi digunakan untuk membuat informasi, semakin besar pula kebutuhan peran manusia untuk menjaga agar informasi tersebut sesuai konteks.

Giri mengatakan, masa depan yang terlihat cenderung menunjukkan bahwa bukan manusia melawan AI, tapi keduanya berjalan bersama-sama.

AI merupakan alat bantu manusia menganalisis dan mendapatkan sumber dengan lebih cepat. Di saat bersamaan, manusia tetap menjadi pihak yang menentukan, menyusun konteks, berempati, hingga bertanggung jawab atas informasi yang beredar di media.

“Di tengah kemampuan mesin menghasilkan hampir segalanya, kredibilitas akan tetap lahir dari manusia yang berani bertanggung jawab atas apa yang mereka ciptakan,” tutur Giri.

Baca juga: Strategi RadVoice Hadirkan The Straits Times di Media Trip Amartha ke Flores 

Humans Need Humans: Peran Editor hingga Jurnalis 

3 Tips Menghindari di-Blacklist Jurnalis, Jangan Paksa Menerbitkan Artikel!

Profesi jurnalis pun muncul sebagai upaya manusia untuk mengungkapkan kebenaran di tengah berbagai gosip. (Foto oleh Magnific)

Ada satu hal krusial yang sampai saat ini tidak bisa dilakukan AI, yakni membentuk konteks sosial budaya terkait konten atau informasi yang dibuat

“AI tidak bisa menilai makna suatu informasi dalam konteks sosial dan budaya tertentu, apalagi membuat pertimbangan moral. Kitalah yang harus menentukan apa yang aman, bukan sekadar menerima apa yang bisa dihasilkan oleh AI,” ungkap Giri.

Senada, Co-Founder, Reviewing Editor, Seychelles News Agency, Srdjana Janosevic menilai salah satu hal yang menjadi keunggulan manusia adalah memiliki kebijakan dan pengetahuan.

Selama peradaban manusia, selalu muncul gosip dan rumor. Di saat yang sama, manusia juga selalu berusaha mengungkap hal yang sebenarnya terjadi di balik gosip tersebut.

Profesi jurnalis pun muncul sebagai upaya manusia untuk mengungkapkan kebenaran di tengah berbagai gosip. Srdjana mengatakan, para jurnalis memiliki memori institusional atau akumulasi pengetahuan, pengalaman hingga sejarah yang disimpan oleh satu kelompok dari waktu ke waktu.

Memori tersebut kemudian membentuk cara jurnalis menyajikan informasi hingga membangun kepercayaan audiens.

“Perlu pengalaman untuk membedakan berita asli dan berita rekayasa yang diulang-ulang demi menggiring opini. Banyak informasi yang disebar hanya demi kepentingan agenda pihak tertentu, mulai dari pemerintah, swasta, hingga figur berpengaruh,” kata Srdjana. 

AI, setidaknya sampai saat ini, tidak bisa menggantikan penilaian seorang editor untuk menentukan apakah suatu isu layak diberitakan atau hanya sekadar agenda pribadi pihak tertentu.

Srdjana menambahkan, AI mungkin memiliki kapasitas matematis yang luar biasa. Namun, manusia selalu menjadi pihak yang mengontrol soal bagaimana informasi itu disajikan.

Kecerdasan buatan bisa sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan penerjemahan bahasa atau mencari sumber lain sebagai bahan verifikasi. Namun, penilaian editorial harus tetap berada di tangan manusia.

Baca juga: RadVoice Sederhanakan Isu Transportasi Perkotaan dalam Artikel Weekender The Jakarta Post

Srdjana menegaskan bahwa manusia tidak lebih buruk dari AI. Keberagaman yang dimiliki manusia membuat kita semua memiliki cerita dan informasi yang tidak ada di internet.

“AI tidak sanggup memahami dan menghidupkan konteks unik dari negara kita. Kita patut bersyukur masih punya akal pikiran untuk melakukannya,” ujar dia.

Ke depannya, teknologi akan terus berkembang termasuk pula AI. Namun, hal ini bukan berarti manusia tidak dibutuhkan keahliannya.

Randy Mulyanto menghadiri II Global Digital Forum atas undangan pemerintah Rusia.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.