Pernahkah Anda kesulitan menjawab pertanyaan bahasa Inggris, padahal sebenarnya Anda mengerti maksud dari sang penanya?
Banyak pikiran muncul ketika ingin berbicara bahasa Inggris, mulai dari keraguan soal grammar hingga khawatir menggunakan kosa kata yang kurang tepat.
Kegelisahan tersebut tampaknya dialami oleh banyak orang. Akibatnya, bahasa Inggris justru menjadi salah satu kemampuan yang sulit untuk dipraktikkan dalam percakapan sehari-hari.
Kesulitan ini pun dipahami oleh Hafsah Siti Hajar, pengajar sekaligus founder dari Michigan English Course Bandung.
Melalui metode pengajarannya, Hafsah yang akrab disapa Miss Hafsah oleh murid-muridnya, ingin membuktikan bahwa berbicara bahasa Inggris tidak serumit dan sekaku yang dibayangkan.
Baca juga: Bagaimana Sabina Keyla Membawa Perspektif Gen Z ke Bisnis Keluarga di KM Zero
Kemampuan Bahasa Inggris Menjadi Kebutuhan

Hafsah (kanan) bersama muridnya mengajar English untuk profesional. (Foto oleh Hafsah Siti Hajar)
Hafsah mulanya bekerja sebagai pengajar di sekolah kapal pesiar. Di sana, ia bertemu suaminya yang kemudian terus memotivasinya bahwa penggunaan bahasa Inggris tidak harus kaku.
Sejak saat itu, ia pun ingin membuktikan bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus melulu mengikuti buku sebagai satu-satunya sumber belajar.
“English itu benar-benar luas banget. Dengan bahasa Inggris, semua orang bisa akses apa saja. Mulai dari teknologi, bisnis, culture, bahkan psikologi,” ujar Hafsah.
Kini, ia fokus menjadi pengajar English speaking. Kebanyakan muridnya adalah para profesional yang ingin memperlancar kemampuan bicara mereka.
Satu hal yang ia terapkan adalah menurunkan ego sebagai pengajar dan menempatkan murid sebagai teman berkomunikasi.
Selama kegiatan belajar, Hafsah biasanya akan membahas topik yang sedang ramai diperbincangkan menggunakan bahasa Inggris.
Topik-topik itu dibahas untuk memancing para murid agar ikut berbicara serta menyampaikan ide dan pandangan mereka.
“Aku percaya, student juga punya ide yang ingin mereka sampaikan. Jadi biasanya kelas lebih hidup, karena ada interaksi dan kepercayaan antara student dan teacher,” katanya.
Pemilihan topik pun tidak dilakukan secara sembarangan. Hafsah biasanya melakukan penilaian awal saat pertama kali bertemu dengan murid.
Melalui penilaian awal itu, Hafsah kemudian menentukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan muridnya.
Salah satu tantangan pekerjaannya adalah ketika ia bertemu dengan murid yang sulit menerima masukan.
“Contohnya, biasanya mereka akan kontra dengan komunikasi itu enggak harus mikir grammar di awal karena dulunya dia pernah les di tempat kursus, biasanya mereka berpikir ngomong itu harus perfect. Biasanya itu jadi penghambat untuk aku input knowledge,” ungkap Hafsah.
Jika menemukan murid yang seperti itu, Hafsah biasanya tidak langsung membantah. Ia akan mendengarkan terlebih dahulu pendapat murid tersebut. Setelah itu, ia mencari analogi yang tepat untuk menunjukkan bahwa cara berbahasa dapat terus berubah seiring permbangan zaman.
Baca juga: Dari Wartawan Menjadi Humas TVRI, Cara Silvy Dian Setiawan Menjaga Transparansi Informasi
Tidak Harus Grammar Sempurna, Tapi Harus Berdamai dengan Diri Sendiri

Hafsah (kanan) bersama muridnya mengajar English untuk profesional. (Foto oleh Hafsah Siti Hajar)
Hafsah menilai, langkah pertama bagi orang yang ingin lancar speaking, adalah berdamai dengan diri sendiri.
Ia memahami bahwa orang yang baru belajar bahasa Inggris biasanya takut melakukan kesalahan. Karena itu, menurut Hafsah, rasa takut tersebut perlu diatas terlebih dahulu sebelum kemampuan berbicara dapat berkembang.
“Mindset-nya harus diubah dulu, berdamai sama diri sendiri dan harus sudah bisa mulai kontrol ketakutan dan kecemasannya. Kalau semua itu sudah terkontrol, maka kepercayaan diri sudah terpenuhi,” ujar Hafsah.
Menurutnya, ketika seseorang sudah percaya diri berkomunikasi dalam bahasa Inggris, ia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan siapa pun lawan bicaranya.
Hal yang perlu ditanamkan adalah bahwa berkomunikasi dalam bahasa Inggris tidak harus terasa sulit. Karena itu, seseorang tidak perlu terus-menerus ragu hanya karena takut melakukan kesalahan.
Selain itu, Hafsah juga menegaskan bahwa fokus dalam berbicara bukanlah memiliki aksen yang persis seperti native speaker atau menggunakan grammar yang tepat seperti buku.
Menurutnya, berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sebaiknya berfokus pada kejelasan maksud yang ingin disampaikan. Tujuan utamanya adalah memastikan pesan dapat dipahami oleh lawan bicara.
Kemampuan berbicara juga perlu diimbangi dengan seni active listening atau mendengarkan secara aktif. Hal ini penting khususnya dalam komunikasi bisnis.
“Komunikasi bisnis itu adalah dua arah. Sebelum merespons lawan bicara, kita harus tahu betul dan paham poin dari lawan bicara kita,” katanya.
Hafsah menekankan pentingnya memahami bahasa Inggris melalui frasa atau ekspresi secara utuh, ketimbang menerjemahkannya kata per kata secara harfiah. Menurutnya, cara tersebut dapat memudahkan proses komunikasi sekaligus mencegah kesalahpahaman.
Misalnya dalam komunikasi bisnis, kita harus memahami dan mempraktikkan business phrases.
Berbeda dengan penerjemahan kata per kata, business phrases dipelajari sebagai ungkapan yang dipahami sebagai satu kesatuan dalam konteks komunikasi profesional.
Baca juga: Kisah Dipa Karno Membangun Warm Wishes Club, Komunitas Agar Terus Relevan
Kesimpulan
Di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, kita semakin mudah berinteraksi dengan orang dari seluruh penjuru dunia.
Menguasai bahasa Inggris dapat menjadi bekal penting untuk berkomunikasi dengan masyarakat global.
Namun, karena tidak terbiasa berbicara dalam bahasa asing, mungkin menjadi tantangan utama. Tidak jarang kondisi tersebut membuat kita meragukan kemampuan diri sendiri.
Oleh karena itu, keberanian untuk mulai berbicara adalah salah satu langkah penting untuk membangun kemampuan tersebut. Sebab, rasa ragu dan tidak percaya diri hanya akan menjadi penghambat untuk terus belajar dan berkembang.
Wawancara dengan Hafsah Siti Hajar dilakukan pada 15 September 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.
