Sejak kecil, Sabina Keyla, atau biasa dipanggil Keyla, sudah akrab dengan KM Zero Sentul, bisnis resort yang dibangun keluarganya pada 2014.
Kini, ia menjalankan peran sebagai general manager sekaligus membawa perspektifnya sebagai bagian dari Gen Z ke bisnis keluarga tersebut.
RadVoice Indonesia telah berbincang dengan Keyla untuk mendengar ceritanya. Berikut selengkapnya.
Tumbuh di Tengah Bisnis Keluarga

Bagi Keyla, KM Zero bukan sekadar tempat kerja. Ia sudah mengenal bisnis tersebut sejak kecil karena kerap ikut orang tuanya ke resort yang berada di kawasan Sentul, Bogor.
Dari sana, ia perlahan mengenal konsep dasar dalam menjalankan bisnis hospitality, mulai dari bagaimana membuat tamu merasa nyaman hingga menjaga kebersihan dan kualitas makanan.
Meski sudah familiar dengan bisnis keluarganya sejak kecil, Keyla baru mulai terlibat secara langsung ketika memasuki masa kuliah pada 2020. Pandemi membuat bisnis hospitality menghadapi tekanan besar. Di tengah kondisi tersebut, Keyla mulai aktif membantu orang tuanya menjalankan KM Zero.
Saat ini, Keyla berperan sebagai general manager sekaligus perwakilan owner dalam operasional sehari-hari. Ia menangani operasional restoran, sumber daya manusia, dan pemasaran.
Sementara itu, ibunya lebih banyak menangani bagian dapur dan kualitas makanan, sedangkan ayahnya tetap berperan sebagai owner dan fokus pada pengembangan bisnis serta arah pembangunan.
Pembagian tersebut membuat masing-masing anggota keluarga memiliki tanggung jawab yang berbeda, tetapi tetap saling melengkapi dalam mengelola KM Zero.
Baca juga: Dari Wartawan Menjadi Humas TVRI, Cara Silvy Dian Setiawan Menjaga Transparansi Informasi
Pelajaran Konsistensi dari Sang Ayah

Dari pengalaman selama pandemi, pentingnya konsistensi dalam bisnis terlihat dari keberanian untuk beradaptasi
dan mengambil keputusan di tengah perubahan.
Dari keterlibatannya di KM Zero, Keyla juga banyak belajar dari cara ayahnya menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis. Salah satu pelajaran terbesar yang ia dapatkan adalah pentingnya konsistensi.
Hal itu ia lihat langsung ketika pandemi membuat bisnis penginapan KM Zero terhenti akibat pembatasan aktivitas. Alih-alih menunggu kondisi kembali normal, ayahnya mengubah konsep sebagian area penginapan menjadi restoran.
Keputusan tersebut kemudian membuat KM Zero kembali ramai dan menjadi pengalaman penting bagi Keyla untuk memahami bagaimana sebuah bisnis perlu beradaptasi ketika menghadapi perubahan kondisi
“Konsistensi itu bukan hanya bagaimana kita bertahan, tapi bagaimana kita berani mengambil keputusan,” kata Keyla.
Pada awalnya, Keyla sempat ragu apakah ia mampu mengikuti kegigihan ayahnya dalam menjalankan bisnis. Kondisi KM Zero yang berada di kawasan pegunungan dengan tantangan akses, cuaca, dan kondisi tanah membuatnya melihat langsung bahwa mengelola bisnis tidak selalu mudah.
Namun, dukungan ayahnya membuat Keyla semakin yakin untuk mengambil peran yang lebih besar dalam bisnis keluarga.
Membawa Perspektif Gen Z ke KM Zero

Sebagai Gen Z, Keyla melihat bahwa pilihan anak muda ketika mencari tempat liburan tidak lagi hanya soal tempat untuk menginap. Mereka juga mempertimbangkan kenyamanan, harga, akses, suasana, dan pengalaman yang bisa didapat selama berada di lokasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan Keyla dalam melihat bagaimana KM Zero dapat tetap relevan bagi pengunjung yang lebih muda.
Keyla kemudian membawa perspektif tersebut ke strategi pemasaran KM Zero. Ketika menangani pemasaran digital, ia mengikuti tren yang berkembang di TikTok dan Instagram untuk melihat jenis konten yang lebih dekat dengan target audiens.
Sebelumnya, pengelolaan media sosial KM Zero melibatkan pihak eksternal. Kini, Keyla bersama tim internal menangani media sosial agar mereka dapat menentukan sendiri arah branding dan strategi konten KM Zero.
Konten yang dibuat tidak lagi hanya berfokus pada promosi, tetapi juga menampilkan sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di resort, termasuk melibatkan para karyawan. Menurut Keyla, perubahan tersebut membantu KM Zero membangun identitas kontennya sendiri.
Selain media sosial, Keyla juga melakukan kolaborasi dengan Key Opinion Leader (KOL) dan influencer untuk memperluas jangkauan. Tetapi, ia tidak melihat jumlah pengikut sebagai satu-satunya pertimbangan. Sebelum bekerja sama, ia melihat tingkat interaksi, keaslian audiens, dan potensi exposure yang bisa diberikan oleh seorang influencer.
Pengaruh media sosial tersebut juga terlihat dari data yang dikumpulkan oleh KM Zero melalui kuesioner kepada tamu. Dari data tersebut, hampir 90% tamu mengetahui KM Zero melalui media sosial.
Bagi Keyla, data tersebut menjadi salah satu alasan untuk terus mengembangkan strategi digital KM Zero.
Baca juga: Kisah Dipa Karno Membangun Warm Wishes Club, Komunitas Agar Terus Relevan
Belajar Mengelola Bisnis Bersama Orang Tua

Bekerja bersama orang tua membuat Keyla harus menghadapi perbedaan pandangan dalam mengelola KM Zero. Salah satu contohnya adalah ketika ia ingin menggunakan KOL atau influencer dalam strategi pemasaran.
Bagi orang tuanya, biaya yang dikeluarkan perlu dipertimbangkan berdasarkan manfaat bisnis yang jelas. Sementara itu, Keyla melihat kolaborasi tersebut dari sisi awareness dan exposure yang dapat membantu KM Zero menjangkau audiens baru. Perbedaan tersebut kemudian dibahas bersama hingga Keyla dan ayahnya menemukan keputusan yang disepakati bersama. .
Namun, bekerja bersama orang tua juga membuat batas antara hubungan keluarga dan pekerjaan terkadang menjadi sulit dipisahkan. Ketika berbeda pendapat dalam pekerjaan, persoalan tersebut bisa ikut terbawa ke hubungan keluarga.
“Bekerja bersama itu bukan berarti kita harus punya pendapat yang sama. Yang penting bagaimana kita mencari solusi terbaik untuk bisnis, bisa berkompromi , dan bisa saling menerima,” kata Keyla.
Di balik tanggung jawab tersebut, ada tekanan lain yang dirasakan Keyla sebagai generasi kedua. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga apa yang sudah dibangun orang tuanya sekaligus membuat KM Zero berkembang dalam jangka panjang.
Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar membuat bisnis terlihat ramai atau viral dalam waktu singkat. Ia ingin memastikan KM Zero tetap memiliki kualitas dan mampu bersaing dalam jangka panjang.
Ke depan, Keyla ingin mengembangkan KM Zero dari sisi produk maupun operasional. Salah satunya adalah memperluas pilihan menu dari makanan Sunda ke berbagai makanan Nusantara dan tradisional, sambil tetap mempertahankan identitas khas KM Zero.
Dalam jangka panjang, Keyla memiliki keinginan untuk membawa KM Zero ke berbagai kota. Namun, jumlah cabang bukan satu-satunya ukuran keberhasilan baginya. Ia ingin memastikan setiap lokasi memiliki cita rasa makanan, kualitas produk, dan standar pelayanan yang sama.
Wawancara dengan Sabina Keyla dilakukan pada 10 September 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.
