Apakah Anda pernah merasa gelisah dan lelah melihat kabar buruk terus menerus di media massa dan media sosial?
Berita soal bencana, aksi demonstrasi, pembunuhan, hingga kecelakaan menguasai jagat media massa Indonesia.
Belum cukup di portal berita, paparan informasi itu juga muncul di media sosial. Bahkan tidak jarang disertai komentar-komentar warganet yang beragam.
Semua informasi hadir tanpa permisi hingga mau tidak mau terbaca dan terkonsumsi oleh kita.
Perasaan itu bisa jadi merupakan bentuk collective anxiety atau rasa gelisah yang dialami masyarakat akibat konsumsi informasi terlalu banyak dan cepat.
Sering kali collective anxiety ini diperparah dengan artikel berita dengan judul clickbait atau menonjolkan kepanikan.
Lantas, siapa yang bertanggung jawab akan collective anxiety ini? Bagaimana audiens harus bersikap untuk mengurangi perasaan gelisah dan lelah itu?
Baca juga: Mengapa Pidato Presiden Selalu Jadi Perbincangan Publik?
Tren Clickbait di Media Massa

Judul clickbait sudah tidak disarankan untuk mendukung keberlangsungan website. (Foto oleh Magnific)
Mungkin Anda pernah melihat artikel yang muncul di Google Discover berjudul bombastis. Padahal ketika dibaca isi artikelnya tidak sebombastis judulnya. Inilah yang disebut clickbait.
Judul semacam ini sempat menjadi tren di media massa, dengan tujuan mengundang klik dan memanfaatkan keywords yang sedang trending.
Namun, sebenarnya pihak Google sudah berupaya memperbaiki sistem pencarian (SEO) mereka menjadi lebih ramah pembaca dengan Helpful Content Update.
Melalui update algoritma yang terus dilakukan, Google berupaya mengurangi konten kualitas rendah, tidak original, dan tidak bermanfaat. Salah satu bentuknya adalah konten dengan judul dan isi yang tidak sesuai.
Google akan menilai suatu website tidak kredibel jika banyak audiens langsung keluar dalam beberapa detik, atau memiliki bounce rate tinggi. Sebab, hal itu berarti konten yang muncul di dalam website tidak sesuai dengan judulnya.
Jadi, sebenarnya judul clickbait sudah tidak disarankan untuk mendukung keberlangsungan website.
Judul clickbait memang cara paling cepat untuk mendapatkan klik. Namun, hal itu tidak akan bertahan lama dan justru membuat website dinilai tidak kredibel oleh Google.
Meski media massa perlahan memperbaiki diri untuk menyesuaikan kebijakan Google, tampaknya masih ada saja yang menerapkan judul-judul clickbait.
Khususnya jika mengejar viralitas konten. Tidak jarang konten dari portal berita di-publish ulang di media sosial dengan judul yang bombastis untuk mengundang engagement.
Bagaimana Konten Berita Bisa Menimbulkan Collective Anxiety?
Perasaan gelisah secara kolektif ini muncul karena di era teknologi informasi, perasaan dan empati bisa dengan sangat mudah ditularkan.
Menurut laman Jeviemes, collective anxiety terjadi setidaknya karena tiga alasan: paparan media terus menerus, krisis global, dan efek penyebaran emosi di media sosial.
Di satu sisi, muncul fenomena doomscrolling atau terus menerus menelusuri media sosial untuk membaca atau mendalami informasi bernada negatif.
Menurut Alodokter, kebiasaan doomscrolling bisa membuat seseorang merasa tertekan, kesepian, hingga paranoid.
Beberapa riset yang dirangkum Alodokter juga menunjukkan kebiasaan ini meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan mental hingga fisik seperti tekanan darah tinggi.
Anehnya, doomscrolling dapat membuat seseorang ketagihan meskipun emosinya memburuk setelah mengonsumsi informasi tersebut.
Menurut Shabahang et al (2024) dikutip dari laman UI, seseorang melakukan doomscrolling karena ingin mencari rasa aman melalui informasi yang ia dapatkan.
Sayangnya, bukannya mendapatkan rasa aman, aktivitas ini malah membuat otak kita merasa harus siaga karena informasi yang diterima selalu terasa kurang.
Kombinasi doomscrolling dan paparan berita clickbait yang memicu kepanikan ini memperburuk rasa gelisah.
Perasaan gelisah ini tidak hanya dialami oleh satu orang, namun terjadi juga pada mereka dengan kebiasaan doomscrolling yang sama sehingga memunculkan collective anxiety.
Baca juga: Unfiltered Content: Benarkah Semua yang Terlihat Apa Adanya Itu Asli?
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Collective Anxiety?

Perasaan gelisah secara kolektif ini merupakan hal yang kompleks dan tidak disebabkan dari satu masalah. (Foto oleh Magnific)
Lantas, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas collective anxiety masyarakat modern pengguna media sosial?
Perasaan gelisah secara kolektif ini merupakan hal yang kompleks dan tidak disebabkan dari satu masalah.
Konten yang beredar di media sosial tidak dipungkiri memiliki peran penting bagi kesehatan mental audiens.
Sebuah penelitian berjudul “Analisis Pengaruh Paparan Konten Negatif di Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Gen Z” dalam jurnal Tuturan, menunjukkan bahwa konten negatif tidak hanya memengaruhi kondisi emosional seseorang, tetapi juga memperburuk persepsi sosial terhadap diri sendiri dan orang lain.
Penelitian itu juga menemukan bahwa dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental dipengaruhi oleh tingkat literasi digital.
Masyarakat dengan literasi digital rendah cenderung menerima mentah-mentah konten negatif karena tidak memiliki kemampuan menyaring informasi secara kritis.
Oleh karenanya, konten yang beredar di media bukan semata-mata alasan perasaan collective anxiety itu muncul.
Kita, sebagai audiens dan pengguna media sosial, juga turut andil terhadap kesehatan mental diri sendiri di tengah derasnya arus informasi.
Sebagai audiens, akan sangat sulit untuk mengontrol informasi yang terus bermunculan di tengah perkembangan teknologi.
Apalagi semakin banyak konten yang tidak diketahui kredibilitasnya bermunculan di media sosial.
Di satu sisi, audiens juga membutuhkan informasi yang sedang berkembang di masyarakat untuk memudahkan aktivitas.
Misalnya, pekerja kota yang tidak mengetahui info demonstrasi akan terganggu saat beraktivitas atau pulang kantor.
Memperkaya diri dengan informasi secara berlebihan bisa membuat audiens merasa gelisah, sementara jika tidak terinformasi sama sekali aktivitasnya bisa terganggu.
Bagaimana sebaiknya kita sebagai audiens bersikap di tengah derasnya arus informasi namun tetap ingin menjaga kesehatan mental?
Baca juga: Fenomena Blind Box, Kenapa Ketidakpastian Bikin Orang Rela Belanja?
Cara Mengatasi Collective Anxiety
Konten di berbagai platform media akan terus muncul dan sulit kita kendalikan. Namun, sebagai audiens kita bisa mengontrol diri sendiri supaya tidak terjebak dalam perasaan gelisah karena konten buruk.
Beberapa cara ini bisa dilakukan untuk membuat diri lebih tenang di tengah derasnya arus informasi yang tidak terkendali:
Lakukan Detoks Informasi

Detoks informasi merupakan langkah yang lebih luas daripada pembatasan media sosial. (Foto oleh Magnific)
Istilah detoks media sosial belakangan menjadi populer karena masyarakat modern merasa kewalahan dengan informasi yang beredar.
Dikutip dari laman Alodokter, detoks media sosial adalah membatasi akses ke situs jejaring sosial. Seseorang bisa melakukannya secara permanen atau sementara.
Adapun detoks informasi merupakan langkah yang lebih luas daripada pembatasan media sosial, yakni membatasi paparan diri sendiri terhadap informasi buruk yang terus muncul.
Caranya adalah dengan membaca hanya dari sumber terpercaya. Jika perlu, block akun media sosial portal berita yang kontennya membawa kepanikan.
Pilih sumber informasi yang menurut Anda paling kredibel dan cara penyampaiannya sesuai dengan isi berita.
Lakukan Journaling
Dikutip dari Halodoc, journaling adalah menulis kejadian sehari-hari secara reflektif. Momen ini adalah kesempatan Anda menjelajahi pikiran, perasaan dan pengalaman pribadi.
Selain mengatasi collective anxiety, aktivitas ini bisa membantu mengelola kesehatan mental secara umum.
Anda juga bisa meningkatkan kesadaran diri dengan rutin melakukan refleksi terhadap aktivitas setiap harinya.
Tak hanya menulis dalam bentuk kata-kata, Anda juga bisa bercerita melalui gambar. Aktivitas ini bisa membantu untuk meningkatkan kreativitas.
Berdiskusi Sehat
Salah satu cara untuk menenangkan perasaan adalah bercerita atau berdiskusi dengan orang lain.
Berdiskusi secara sehat dapat membantu Anda merasa tidak sendirian sehingga mengurangi perasaan gelisah.
Kesimpulan
Perasaan gelisah yang dirasakan karena paparan informasi buruk yang begitu cepat dan sulit dikendalikan merupakan hal yang wajar dirasakan masyarakat modern.
Ketika membaca informasi di berbagai platform media sudah terasa melelahkan, kita harus memiliki kesadaran diri untuk segera berhenti.
Arus informasi yang berjalan begitu cepat memang tidak bisa dikendalikan, namun kita bisa mengendalikan diri sendiri.
Alih-alih merasa kesal dengan konten kabar buruk, kita sebagai audiens lebih baik berupaya memilah informasi yang bermanfaat.
