AI Mengubah Cara Kerja PR, Ini yang Harus Dilakukan Praktisi agar Tetap Relevan 

Bagi PR, menjalin hubungan dengan media seharusnya saling menguntungkan.

Baru-baru ini, sebuah artikel menjelaskan tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) membuat PR untuk bekerja lebih pintar dan menangani pergerakan era AI ini. 

Artikel itu membahas bagaimana AI tidak hanya mengubah cara konten dibuat, tetapi juga cara orang mencari dan menemukan informasi. 

Di tengah semakin banyaknya orang yang mengandalkan ChatGPT, Google AI, dan mesin AI lainnya untuk mencari jawaban, banyak praktisi PR khawatir AI akan mengambil alih pekerjaan mereka.

Namun, AI bukan sekadar ancaman. Justru, perubahan ini mendorong praktisi PR untuk bekerja lebih cerdas dengan membangun keahlian, narasi, dan hubungan yang tidak dapat digantikan oleh AI.

RadVoice Indonesia merangkum beberapa pelajaran utama dari artikel tersebut yang dapat membantu praktisi PR tetap relevan di era AI.

AI Mencari Pola, Bukan Sekadar Kata Kunci

Membangun keahlian pada satu bidang melalui konten yang konsisten dan berkualitas menjadi lebih penting daripada sekadar mengejar optimasi SEO. (Semua foto oleh Freepik)

Menurut Fast Company, AI tidak lagi sekadar mencocokkan kata kunci, tetapi juga menganalisis pola dari berbagai sumber untuk memahami suatu topik.

Jika mesin pencari tradisional mencari halaman yang mengandung kata tertentu, AI justru membandingkan berbagai sumber untuk menemukan narasi yang paling konsisten dan kredibel.

Semakin sering sebuah topik dibahas secara mendalam dari berbagai sudut pandang dan didukung oleh banyak sumber tepercaya, semakin besar peluang informasi tersebut muncul dalam jawaban AI. 

Karena itu, membangun keahlian pada satu bidang melalui konten yang konsisten dan berkualitas menjadi lebih penting daripada sekadar mengejar optimasi SEO.

Baca juga: 5+ Cara Meraih Earned Media, Salah Satunya Manfaatkan SEO!

Bangun Hubungan dengan Jurnalis, Bukan Spam Pitches

Lebih baik untuk praktisi PR menggunakan AI untuk riset mendalam tentang setiap jurnalis.

Di bidang PR masih banyak yang bergantung pada pitches dan press release yang dikirim ke jurnalis, tapi strategi itu udah bisa digantikan oleh AI.

Sekarang saatnya fokus pada hubungan yang autentik dan pemahaman mendalam tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan setiap jurnalis.

Sementara AI memang bisa membuat draft press release dan unggahan media sosial , AI tidak bisa memahami dinamika unik hubungan dengan jurnalis atau membangun kepercayaan jangka panjang yang autentik. 

Riset Cision terhadap ribuan jurnalis menunjukkan bahwa 78% jurnalis akan memblokir seorang PR profesional jika mereka terus di-spam dengan pitches yang tidak relevan. 

Tapi di sisi lain, jurnalis tetap menghargai praktisi PR yang memberikan story ideas yang unik, yang sudah melakukan riset, dan yang mengerti audiens mereka.

Jadi, daripada menggunakan AI untuk email blast 1.000 pitches per hari, lebih baik praktisi PR menggunakan AI untuk riset mendalam tentang setiap jurnalis. 

Baca juga: Contoh Strategi Media Relations untuk Brand yang Ingin Meningkatkan Awareness

Gunakan AI Sebagai Asisten, Bukan Pengganti Penilaian

AI kerap memberi informasi yang tidak sesuai dengan fakta. Maka dari itu pentung untuk memposisikan AI sebagai alat pendukung.

Artikel SEQARA Communications mengatakan bahwa AI memang dapat mempercepat pekerjaan PR, mulai dari analisis data, penyusunan konten, hingga pemantauan media. 

Namun, semua hasil yang diberikan AI tetap harus divalidasi oleh manusia.

Praktisi PR tidak seharusnya langsung menggunakan informasi atau konten yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kembali sumber, akurasi, dan konteksnya. 

Kesalahan atau bias dari AI dapat berdampak pada reputasi organisasi jika informasi yang disampaikan ternyata tidak sesuai dengan fakta.

Mestinya, AI diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti kreativitas, penilaian profesional, dan pertimbangan etis manusia. 

Transparansi, validasi informasi, serta tanggung jawab terhadap publik tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan PR, meskipun prosesnya kini dibantu oleh teknologi AI.

Baca juga: 15 Keyword Tool Gratis yang Bisa Dimanfaatkan untuk Bisnis

Kesimpulan

AI sebaiknya digunakan untuk mempercepat riset, analisis, dan pembuatan konten.

Pada akhirnya, AI mengubah cara kerja industri PR, tetapi tidak menggantikan peran manusia. 

Teknologi ini dapat membantu mempercepat riset, analisis, dan pembuatan konten.

Dengan ini, praktisi PR tetap berperan dalam membangun hubungan, menyusun strategi, dan memastikan setiap informasi akurat dan etis. 

Pada akhirnya, praktisi PR yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat pendukung, bukan pengganti, akan lebih siap menghadapi perkembangan industri ke depan.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.