Salah satu tujuan dari media relations adalah bisa menambah eksposur kepada brand. Caranya yaitu mengundang media meliput acara milik perusahaan tersebut atau membuat siaran pers untuk ditindaklanjuti.
Namun, menyelenggarakan acara atau membuat siaran pers yang menarik bagi media bukan perkara sederhana. Media angle yang tepat harus dipikirkan supaya wartawan tertarik untuk meliput agenda tersebut.
Lantas, apa yang dimaksud dengan media angle dan bagaimana cara menyusunnya?
Di dalam artikel ini, tim RadVoice merangkum pengertian media angle sekaligus penerapannya untuk kepentingan media relations.
Apa Itu Media Angle dan Kenapa Penting dalam Media Relations

Media angle penting karena akan menentukan apakah isu akan ditindaklanjuti oleh media. (Foto oleh Magnific)
Diterjemahkan secara harfiah dari bahasa Inggris, angle adalah sudut pandang.
Menurut blog Unesa, angle merupakan cara mendekati suatu topik supaya informasi yang diberikan segar, relevan, dan menarik bagi audiens.
Media angle penting dalam media relations karena menentukan apakah suatu agenda atau isu dari praktisi PR akan diambil oleh wartawan sebagai bahan liputan.
Definisi Media Angle dalam Konteks PR
Berdasarkan penjelasan umum di atas, media angle bisa diartikan sebagai sudut pandang yang diambil media sebagai fokus pemberitaannya.
Seorang praktisi PR bisa membayangkan dirinya menjadi pihak media, sambil memperkirakan isu atau hal menarik apa yang akan dijadikan bahan pemberitaan.
Dengan demikian, isu atau tema acara yang disampaikan ke wartawan akan lebih memiliki media angle dan memperbesar peluang untuk diliput.
Baca juga: Contoh Strategi Media Relations untuk Brand yang Ingin Meningkatkan Awareness
Peran Angle dalam Menarik Perhatian Jurnalis
Setiap harinya, perusahaan media mendapatkan banyak undangan serta kiriman siaran pers dari berbagai instansi.
Sementara, kemungkinan jumlah wartawan yang bekerja tidak sebanyak undangan yang dikirimkan itu.
Oleh karenanya, pihak redaksi akan memilah undangan ataupun siaran pers yang perlu ditindaklanjuti.
Di sinilah peran angle menjadi penting, karena hanya isu-isu menarik yang akan ditindaklanjuti untuk diliput oleh media.
Jangan sampai undangan atau siaran pers yang dikirimkan perusahaan diabaikan oleh media karena tidak mengandung angle yang menarik.
Perbedaan Angle vs Sekadar Informasi Produk
Media biasanya akan menghindari undangan atau siaran pers yang menunjukkan informasi produk semata.
Majalah MIX menjelaskan bahwa tulisan yang hanya berisi iklan atau penjelasan produk tidak akan menarik bagi audiens.
Praktisi PR perlu memikirkan aspek spesial atau kelebihan dari suatu produk untuk kemudian dijadikan angle yang menarik ditindaklanjuti oleh media.
Cara Menemukan Angle yang Relevan

Beberapa hal ini bisa dilakukan agar lebih mudah menentukan angle yang menarik. (Foto oleh Magnific)
Sebelum mengirimkan undangan liputan atau siaran pers kepada media, praktisi PR perlu mengetahui angle yang tepat dan menarik.
Beberapa langkah ini bisa dilakukan oleh praktisi PR agar lebih memahami sudut pandang yang menarik bagi media.
Melihat dari Sudut Pandang Audiens
Dikutip dari laman resminya, Founder & CEO LSPR Communication and Business Institute Prita Kemal Gani mengatakan, praktisi PR harus memahami kebutuhan media yang akan dihubungi.
Sebelum membuat laporan berita, media akan memikirkan sudut pandang menarik yang akan dibaca oleh audiens.
Oleh karenanya, kebutuhan media akan informasi menarik ini harus bisa dipenuhi oleh praktisi PR.
Di tahap inilah praktisi PR perlu memosisikan diri sebagai audiens supaya dapat melihat aspek yang kemungkinan paling ingin diketahui oleh publik.
Mengaitkan dengan Tren atau Isu Aktual
Supaya angle lebih menarik dan relevan, praktisi PR bisa mencoba mengaitkannya dengan tren atau isu aktual.
Media biasanya tertarik dengan informasi baru yang sedang menjadi sorotan masyarakat.
Oleh karenanya, mengaitkan brand ke tren atau isu yang masih hangat bisa menjadi nilai tambah yang dilirik oleh media.
Menyesuaikan dengan Nilai Berita (News Value)
Media massa biasanya menentukan suatu isu layak diliput atau tidak dengan mempertimbangkan nilai berita.
Dikutip dari blog Tempo Institute, berikut adalah nilai berita yang bisa dipertimbangkan sebagai angle oleh praktisi PR.
- Seberapa besar pengaruhnya (magnitude).
- Seberapa besar kebaruannya (aktualitas).
- Seberapa penting informasinya.
- Seberapa dekat isu tersebut dengan audiens, baik secara geografis, psikologis, atau ideologis.
- Seberapa besar dampaknya (impact).
- Siapa sosok atau tokoh yang diberitakan (ketokohan).
- Seberapa unik atau aneh informasi yang diberikan.
- Seberapa menarik berita itu dan mampu menyentuh emosional audiens.
Jika brand kesulitan menemukan angle yang tepat dan relevan dengan media, tim seperti RadVoice dapat membantu menerjemahkan cerita bisnis menjadi narasi yang lebih “media-worthy” dan mudah diliput.
Baca juga: Bagaimana Mengukur Keberhasilan Media Relations?
Contoh Angle yang Sering Digunakan Brand
Sebelumnya, sudah dijelaskan soal langkah atau cara yang bisa dilakukan untuk menemukan angle relevan untuk media.
Supaya lebih mendapat bayangan soal media angle, berikut adalah contoh sudut pandang yang sering digunakan oleh brand.
Data-Driven Story

Data-driven story adalah cara menyampaikan data yang mudah dipahami. (Foto oleh Magnific)
Menurut blog Reveal data-driven story adalah cara menyampaikan informasi berbasis data namun tetap mudah dipahami audiens.
Menyajikan informasi berbasis data adalah hal yang penting bagi perusahaan. Namun, jika data itu diberikan secara mentah tentunya tidak akan menarik dan sulit dipahami.
Oleh karenanya, langkah komunikasi terstruktur perlu dilakukan agar informasi berbasis data itu bisa tetap menarik untuk diketahui.
Human Interest Story
Human interest story berarti membuat cerita yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Dikutip dari blog Fiveable, angle jenis ini adalah salah satu bentuk jurnalisme yang fokus pada emosi atau aspek personal dari suatu isu.
Biasanya di dalam jenis angle ini akan dijelaskan seberapa besar satu isu akan berdampak pada kehidupan manusia.
Industry Insight atau Thought Leadership
Salah satu angle yang kerap digunakan dalam mempromosikan nama brand adalah dengan menyajikan informasi soal industry insight atau thought leadership.
Mempromosikan sebuah brand melalui konten tought leadership berarti menyajikan ide-ide original perspektif unik, atau pengalaman pertama seseorang.
Dikutip dari laman Semrush, di dalam angle ini, praktisi PR menyajikan konten berupa pandangan dari orang-orang yang memiliki pengalaman langsung di dalam perusahaan seperti founder atau ilmuwan.
Baca juga: Apa Saja yang Harus Disiapkan Sebelum Menghubungi Media?
Kesimpulan
Menentukan media angle mudahnya adalah dengan menempatkan diri sebagai wartawan supaya memahami aspek yang menarik untuk diliput.
Supaya mengetahui sudut pandang media, maka praktisi PR perlu melakukan persiapan sebelumnya dengan memahami kebutuhan wartawan.
Kalau proses ini terasa cukup kompleks, banyak brand memilih bekerja sama dengan tim seperti RadVoice untuk memastikan semua materi sudah siap sebelum penjangkauan media dilakukan.
