Bagi startup, tampil sebagai narasumber di media besar bukan sekadar soal eksposur, melainkan validasi bahwa suara mereka layak didengar oleh industri.
Inilah yang berhasil dihadirkan RadVoice Indonesia bagi Sedifly, startup EdTech asal Singapura, ketika The Straits Times menghubungi mereka untuk memberikan pandangan seputar dampak kebijakan visa AS terhadap pelajar Singapura.
Kesempatan tersebut hadir saat muncul isu yang menjadi perhatian banyak calon mahasiswa internasional. Pemerintahan Trump baru saja memberlakukan aturan baru yang membatasi masa tinggal pelajar asing di Amerika Serikat menjadi maksimal empat tahun.
Kebijakan ini memicu pertanyaan di kalangan pelajar dan orang tua di berbagai negara, termasuk Singapura, yang selama ini menjadikan universitas-universitas AS sebagai salah satu tujuan studi favorit. Di tengah isu ini, RadVoice memastikan Sedifly hadir sebagai salah satu suara industri yang dipercaya The Straits Times untuk menjawabnya.
Baca juga: Bagaimana RadVoice Membantu Cerita Alfin Habib dan Aruma Menjangkau Media Nasional
Namun pencapaian ini tidak datang dari satu pitching yang kebetulan diterima. Ada proses yang dijalankan secara konsisten dan bertahap hingga Sedifly menjadi salah satu nama yang diingat jurnalis ketika isu pendidikan dan admisi global muncul.
Mendorong Sedifly Tampil sebagai Suara Industri di Media Nasional
Aturan baru yang membatasi masa tinggal pelajar internasional di AS ini menyentuh langsung salah satu kekhawatiran terbesar keluarga yang berencana menyekolahkan anak ke luar negeri, yaitu kepastian dan durasi studi.
Ketidakpastian semacam ini membuat peran media semakin penting untuk menghadirkan penjelasan yang jernih dan berimbang kepada publik.
The Straits Times, dalam liputannya, mencari perspektif dari para pelaku industri konsultasi pendidikan untuk memahami sejauh mana kebijakan ini akan mengubah rencana pelajar Singapura.
Ketekunan RadVoice Membangun Hubungan dengan Jurnalis The Straits Times
RadVoice percaya media relations tidak dibangun melalui satu kali pitching, melainkan lewat komunikasi yang konsisten. Pendekatan ini membuat jurnalis semakin mengenal Sedifly sebagai narasumber yang relevan ketika membahas isu pendidikan internasional.

Ketika isu kebijakan visa AS muncul dan berdampak langsung pada pelajar Singapura, hubungan yang telah dibangun ini membuat The Straits Times dengan sendirinya mengingat dan menghubungi Sedifly untuk memberikan pandangan.
Riset yang Menjadi Landasan Kredibilitas Sedifly di Mata Media
Hubungan baik dengan media saja tidak cukup. Narasumber juga harus mampu memberikan informasi akurat ketika diminta komentar.
Untuk mendukung jawaban Joash Lee dalam wawancara ini, RadVoice turut membantu menyiapkan data dan konteks yang relevan. Tim juga merangkum perbedaan antara kebijakan lama dan yang baru sehingga pandangan yang disampaikan Joash lee didukung informasi yang akurat.

Bagi jurnalis, narasumber tidak hanya diminta menyampaikan opini, tetapi juga membantu menjelaskan dampak sebuah kebijakan berdasarkan data maupun pengalaman di lapangan.
Riset yang konsisten inilah yang membuat kredibilitas Sedifly di mata media terus terjaga dari satu kesempatan ke kesempatan berikutnya.
Baca juga: RadVoice Membantu Tokocrypto Mengenalkan Tokenized Stocks Lewat Advertorial di Homeless Media
Media Relations sebagai Investasi Jangka Panjang
Publikasi Sedifly di The Straits Times menunjukkan bahwa keberhasilan media relations tidak ditentukan oleh seberapa sering sebuah brand mengirimkan press release. Yang penting adalah membangun hubungan yang konsisten dengan media sekaligus memastikan setiap wawancara didukung data yang kredibel. Pendekatan inilah yang membuat sebuah brand lebih mudah dipercaya ketika isu yang relevan muncul
Setiap klien memiliki tantangan komunikasi yang berbeda, dan RadVoice terus berkomitmen untuk membangun strategi media relations yang relevan, konsisten, dan berdampak jangka panjang bagi setiap brand yang dipercayakan kepadanya.
