Weekly Recap: Pasar Modal Tertekan, Karhutla Meluas, Pemerintah Disorot 

Tekanan terhadap pasar modal, meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kritik terhadap pemerintah mewarnai pemberitaan pekan ini. Dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui kabut asap, tetapi juga terlihat dari gugurnya empat petugas relawan saat memadamkan kebakaran. 

Di tengah situasi tersebut, muncul pula kritik terhadap penanganan karhutla, termasuk polemik tawaran kampanye politik berbayar yang berkaitan dengan isu kebakaran.

Di sektor ekonomi, pasar modal Indonesia tertekan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan penurunan status pasar, yang dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap saham Indonesia.

Usulan ini memicu aksi jual saham dan mendorong pemerintah serta otoritas bursa untuk menyiapkan langkah perbaikan tata kelola guna menjaga kepercayaan investor.

RadVoice Indonesia merangkum enam isu yang menjadi sorotan pekan ini, mulai dari tekanan terhadap pasar modal, dampak karhutla dan kabut asap, hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah dan penanganan bencana.

Baca juga: Weekly Issues Recap: Kelangkaan BBM di Bali Hingga Kasus Korupsi BNPB

MSCI Usulkan Penurunan Status Pasar Modal Indonesia Menjadi Standalone Market

Usulan MSCI menurunkan status pasar Indonesia memicu kekhawatiran investor, mendorong perbaikan tata kelola bursa, dan memperkuat urgensi menjaga daya beli masyarakat. (Foto oleh Magnific)

Summary 

Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengusulkan penurunan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, di tengah tekanan terhadap Index Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok di bawah 5.000. Usulan tersebut berpotensi mengubah posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar global.

Pada 21 Oktober, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak gentar menghadapi sorotan MSCI. Dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi tekanan tersebut. Prabowo juga menyebut pemerintah siap melakukan penghematan lebih besar jika diperlukan.

MSCI membuka masukan dari pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan dijadwalkan mengumumkan keputusan pada 30 Juni 2027.

Dengan demikian, Indonesia masih memiliki waktu untuk menunjukkan perbaikan tata kelola pasar. Salah satu kekhawatiran MSCI adalah transparansi struktur kepemilikan saham dan lemahnya penegakan hukum.

Menanggapi ancaman tersebut, pemerintah dan otoritas bursa menyatakan akan meminta klarifikasi serta mempercepat perbaikan pasar.

Bursa Efek Indonesia juga menyiapkan langkah untuk meningkatkan transparansi, termasuk mengeluarkan saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi dari indeks utama dan menurunkan batas penurunan harga saham harian menjadi 7% untuk meredam volatilitas. 

Why it matters

Ancaman penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI menambah kekhawatiran terhadap kepercayaan investor. Di saat yang sama, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga melemah.

Studi Populix yang dirilis pada 7 Oktober 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 48,73 dari 52,77 pada 2025. Sebanyak 57 persen responden menilai kondisi perekonomian Indonesia memburuk dibandingkan tahun sebelumnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi tidak hanya terlihat di pasar modal, tetapi juga tercermin dalam perilaku konsumsi masyarakat.

Ketika biaya hidup meningkat dan pendapatan terasa tidak pasti, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja. Jika kondisi ini berlanjut, konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi ikut tertekan. 

Key Insight

Perbaikan transparansi dan tata kelola pasar menjadi krusial untuk mempertahankan kepercayaan investor. Respons pemerintah dan bursa terhadap ancaman MSCI perlu diikuti oleh perubahan nyata dalam keterbukaan kepemilikan saham dan penegakan hukum, bukan hanya langkah sementara untuk meredam gejolak pasar. 

Di sisi lain, menjaga daya beli masyarakat juga penting untuk menopang konsumsi domestik. Kedua hal ini perlu berjalan beriringan agar upaya menjaga kepercayaan investor tidak mengabaikan kondisi ekonomi rumah tangga.  

Asap Karhutla Terdeteksi di Atmosfer Jakarta, Kualitas Udara Jadi Sorotan

Karhutla di Kalimantan memicu kekhawatiran akan kualitas udara Jakarta dan negara tetangga, menegaskan perlunya pencegahan serta penanganan kebakaran yang lebih efektif untuk melindungi kesehatan masyarakat. (Foto oleh Magnific)

Summary

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan terdeteksi memasuki atmosfer Jakarta. Namun, asap tersebut belum dipastikan mencapai permukaan tanah, sehingga dampaknya terhadap warga belum dapat dipastikan. BMKG memperingatkan bahwa asap berpotensi turun ke permukaan jika kondisi angin melemah.

Di sisi lain, kualitas udara Jakarta memburuk pada Jumat, 16 Oktober 2026  siang. IQAir mencatat indeks kualitas udara mencapai 169, masuk kategori tidak sehat.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau kelompok rentan, termasuk bayi, balita, lansia, dan ibu hamil, untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap berlangsung.

Why it matters

Karhutla yang telah berlangsung selama berbulan-bulan menunjukkan bahwa upaya penanganan kebakaran masih menghadapi tantangan besar.

Kabut asap dari Indonesia telah mengganggu Malaysia dan Singapura selama lebih dari sebulan, memicu penutupan sekolah dan desakan agar Indonesia mengambil tindakan lebih tegas. Singapura juga telah mengirimkan pemberitahuan pencegahan kepada 10 perusahaan Indonesia yang diduga terkait dengan kebakaran, meminta mereka memadamkan api dan mencegah kebakaran berulang.

Meski Indonesia telah mengerahkan personel dan memperkuat upaya pemadaman, asap masih menyebar ke wilayah lain.

Terdeteksinya asap karhutla di atmosfer Jakarta memperlihatkan bahwa dampak kebakaran dapat melampaui wilayah sumber api. Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat di daerah yang terdampak..

Key Insight

Karhutla yang berlangsung berlarut-larut menunjukkan bahwa upaya pemadaman belum cukup untuk mencegah dampak asap meluas ke wilayah lain.

Pemerintah perlu memperkuat pencegahan sejak dini, mempercepat penanganan titik api, dan memastikan upaya pengendalian berjalan efektif. Langkah ini penting untuk melindungi kesehatan masyarakat,  baik di dalam negeri maupun di negara tetangga.

Baca juga: Cara Dosen UIN Walisongo Hasan Labiqul Aqil Menjaga Sikap Kritis di Tengah Derasnya Arus Informasi

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Greenpeace Indonesia dan BEM UI Gelar Demonstrasi

Demonstrasi Greenpeace Indonesia dan BEM UI menyoroti tuntutan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi, sosial, dan lingkungan Prabowo-Gibran, serta pentingnya ruang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik. (Foto oleh Dhemas Reviyanto/ Greenpeace Indonesia)

Summary

Pada Selasa, 20 Oktober 2026, Greenpeace Indonesia dan BEM UI menggelar demonstrasi untuk menyoroti dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Aksi berlangsung di dua lokasi di Jakarta, yakni Bundaran HI dan kawasan Tugu Tani atau Tugu Proklamasi.

Di Bundaran HI, aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang dan membentangkan dua spanduk yang menyoroti krisis iklim, bencana yang semakin parah, serta kesulitan hidup masyarakat.

Belasan aktivis kemudian diamankan polisi sekitar pukul 08.00 WIB, sementara spanduk yang dibentangkan diturunkan.Sementara itu, BEM UI menggelar aksi di kawasan Tugu Tani dengan membawa delapan tuntutan. Tuntutan tersebut mencakup evaluasi kebijakan ekonomi, anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG), biaya pendidikan, reforma agraria, serta penanganan krisis iklim dan karhutla. 

Why it matters

Aksi ini menunjukkan bahwa evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran tidak hanya menyangkut kebijakan ekonomi dan kesejahteraan, tetapi juga penanganan krisis iklim dan lingkungan. 

Demonstrasi Greenpeace Indonesia dan BEM UI menyoroti tuntutan masyarakat sipil terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari biaya hidup dan pendidikan hingga karhutla. 

Pengamanan aktivis di Bundaran HI juga menyoroti pentingnya ruang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik secara terbuka.

Key Insight

Memasuki tahun ketiga pemerintahan, Prabowo-Gibran menghadapi tuntutan untuk menunjukkan hasil nyata dalam kebijakan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Bukan hanya kebijakan yang diambil, respons pemerintah terhadap kritik dan tuntutan masyarakat juga akan memengaruhi kepercayaan publik.

Tawaran Kampanye Berbayar Terkait Karhutla Picu Kritik soal Dugaan Penggunaan APBN untuk Buzzer

Tawaran kampanye berbayar terkait karhutla memicu kritik soal transparansi penggunaan anggaran publik dan akuntabilitas agensi serta influencer dalam menyampaikan pesan politik. (Foto oleh Magnific)

Summary

Sebuah tangkapan layar percakapan grup WhatsApp yang menawarkan kampanye politik terkait karhutla kepada influencer di Kalimantan dan Padang menjadi sorotan publik. Tawaran tersebut kabarnya menjanjikan bayaran hingga Rp2,5 juta.

Informasi itu menuai kritik warganet karena memunculkan dugaan penggunaan APBN untuk membayar buzzer. Menanggapi polemik tersebut, Michael Erenyuh, founder Mekar Kreasi, agensi yang diduga terlibat dalam tawaran buzzer, kemudian meminta maaf atas keterlibatan agensinya dalam pitching kampanye tersebut.

Why it matters

Kasus ini memicu pertanyaan tentang transparansi penggunaan anggaran publik dan praktik kampanye politik melalui influencer. Dugaan tawaran berbayar untuk menyampaikan pesan terkait karhutla mendapat kritik karena dikhawatirkan mengaburkan batas antara komunikasi pemerintah dan upaya membentuk opini publik. 

Permintaan maaf dari founder Mekar Kreasi juga menunjukkan pentingnya akuntabilitas agensi dalam proses campaign pitching, terutama ketika isu yang diangkat berkaitan dengan kebijakan dan penanganan bencana.

Key Insight

Di tengah kritik publik, transparansi mengenai sumber pendanaan, tujuan kampanye, dan pihak yang terlibat menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. 

Agensi dan influencer juga perlu memastikan komunikasi terkait isu publik tidak menyesatkan audiens atau menutupi kepentingan di balik pesan yang disampaikan.

BNPB Catat 1.000 Kejadian Karhutla Sepanjang 2026, Jutaan Warga Dilaporkan Mengungsi

Petugas BNPB melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Muara Kuaro, Muara Komam, Kabupaten Paser.
Data BNPB menunjukkan tingginya dampak karhutla di Indonesia, menegaskan perlunya percepatan pemadaman, pencegahan kebakaran, dan perlindungan masyarakat di wilayah terdampak. (Foto oleh BPBD Kalimantan Timur)

Summary

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia mencatat 2.179 bencana hingga 20 Oktober 2026, termasuk 1.000 karhutla dan 580 banjir.

Data BNPB yang dikutip dalam laporan tersebut juga memuat angka korban jiwa, orang hilang, korban luka-luka, dan warga yang mengungsi. Karhutla di Kalimantan, Sumatra, dan Papua menyebabkan 422 korban jiwa, 21 orang hilang, 3.259 luka-luka, dan 5,8 juta pengungsi.

Dari sekitar 1.024 hektare lahan yang terbakar, 454,25 hektare telah dipadamkan, sementara 570,08 hektare masih terbakar. Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan menjadi wilayah dengan luas kebakaran dan lahan yang belum padam terbesar.

Why it matters

Besarnya jumlah kejadian bencana menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam penanganan dan pengurangan risiko bencana.

Khusus untuk karhutla, luas lahan yang masih terbakar memperlihatkan pentingnya mempercepat pemadaman sekaligus mencegah munculnya titik api baru. 

Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian jika laporan mengenai luas kebakaran yang belum padam tersebut telah terkonfirmasi.

Penanganan yang lambat dapat memperpanjang kebakaran dan memperburuk dampak kabut asap terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat.

Key Insight

Penanganan karhutla perlu menggabungkan pemadaman yang cepat dengan pencegahan kebakaran secara berkelanjutan. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa upaya penanganan di lapangan didukung oleh pemantauan titik api, kesiapan personel, dan koordinasi antarlembaga. 

Selain mengurangi luas lahan yang terbakar, perlindungan terhadap masyarakat di wilayah terdampak harus menjadi prioritas untuk menekan risiko kesehatan dan kerugian sosial akibat kabut asap berkepanjangan. 

Empat Petugas dan Relawan Gugur Saat Memadamkan Karhutla di Bromo

Insiden karhutla di Bromo menegaskan pentingnya memperkuat prosedur keselamatan petugas dan relawan, mulai dari penilaian risiko hingga evakuasi saat kondisi pemadaman memburuk. (Tangkapan layar pemberitaan Solusi Harian oleh RadVoice)

Summary

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan duka atas meninggalnya empat petugas dan relawan saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, pada 15 Oktober 2026.

Kebakaran yang awalnya berasal dari ladang warga merembet ke kawasan konservasi. Saat upaya pemadaman berlangsung, angin kencang menyebabkan enam personel terjebak dalam kobaran api.

Tiga orang meninggal di lokasi kejadian, sedangkan satu orang lainnya meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit. Sementara dua personel mengalami luka bakar berat.

Kemenhut menyatakan akan mengevaluasi kronologi dan pelaksanaan operasi pemadaman untuk memperkuat keselamatan petugas dan relawan.

Why it matters

Insiden Bromo memperlihatkan risiko besar yang dihadapi petugas dan relawan saat memadamkan karhutla, terutama di kawasan dengan medan sulit dan kondisi angin yang berubah cepat. 

Evaluasi operasi pemadaman menjadi penting untuk memastikan keselamatan personel tetap terjaga. Hal ini mencakup penilaian risiko sebelum operasi, kesiapan perlengkapan, pemantauan perubahan kondisi di lapangan, serta prosedur evakuasi ketika situasi memburuk. 

Key Insight

Evaluasi penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada keberhasilan memadamkan api. Keselamatan petugas dan relawan juga harus menjadi bagian utama dari setiap operasi, mulai dari penilaian risiko hingga keputusan untuk menarik personel ketika kondisi tidak lagi aman. 

Penguatan prosedur keselamatan perlu berjalan beriringan dengan pencegahan kebakaran. Dengan demikian, upaya melindungi kawasan hutan dan masyarakat tidak justru menempatkan petugas di lapangan pada risiko yang dapat dihindari. 

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.