Weekly Issues Recap: Pidato Prabowo Disorot, Ancaman Influenza A, hingga Asian Games 2026

Pekan ini, sejumlah berita menjadi perhatian publik di Indonesia, mulai dari pidato Presiden Prabowo yang kembali menuai perhatian, peringatan mengenai potensi pandemi Influenza A, hingga pemecatan pegawai SPPG yang dinilai mengejek korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Sementara itu, dari ajang olahraga internasional, atlet Indonesia masih berjuang membawa nama Indonesia di Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya. Berikut rangkuman isu yang menjadi perhatian pekan ini.

Dalam Weekly Issues Recap kali ini, RadVoice Indonesia merangkum sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Indonesia dalam sepekan terakhir.

Presiden Prabowo Sebut Pakar yang Mengkritiknya “Goblok”

Ucapan Prabowo menunjukkan pola komunikasi yang keras terhadap kritik, meski pengamat berbeda pandangan mengenai dampaknya terhadap ruang perbedaan pendapat dan diskusi publik. (Foto oleh detik.com)

Summary

Presiden Prabowo Subianto menyebut sejumlah pakar yang mengkritik pemerintah sebagai “goblok” saat menghadiri perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta pada 18 September 2026. 

Prabowo mengatakan ada pihak yang mengaku sebagai pakar tetapi menurutnya justru menyampaikan fitnah, tanpa menyebut secara spesifik siapa pihak yang dimaksud maupun kritik yang dirujuk.

Ucapan tersebut menjadi perhatian karena Prabowo sebelumnya juga beberapa kali menggunakan istilah keras ketika merespons kritik terhadap pemerintah, termasuk “ndasmu”, “antek asing”, dan “londo ireng”. 

Why It Matters

Perdebatan tidak hanya berpusat pada penggunaan kata “goblok”, tetapi juga pada cara kepala negara merespons kritik dan perbedaan pandangan.

Pengamat yang dikutip BBC menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah seharusnya menjadi bagian dari transparansi dan check and balances, sementara penggunaan label atau makian dalam merespons kritik dapat memengaruhi kualitas diskusi publik.

Key Insight

Ucapan terbaru Prabowo menjadi bagian dari pola komunikasinya saat merespons kritik. Nicky Fahrizal dari CSIS melihat pola tersebut sebagai tanda menyempitnya ruang perbedaan pandangan, sementara Sulistyowati Irianto menilai penggunaan istilah “goblok” terhadap pakar dapat merendahkan posisi pengetahuan dan fungsi check and balances.

Di sisi lain, Firman Noor mengaitkan sikap Prabowo terhadap kritik dengan lingkungan politik di sekitarnya yang minim perdebatan, sedangkan Bawono Kumoro menilai gaya komunikasi yang keras tersebut sejauh ini belum disertai tindakan represif terhadap pengkritik.

Pegawai SPPG Dipecat Usai Video Ejek Korban Keracunan MBG

Pekan ini menyoroti isu komunikasi politik, akuntabilitas dalam program MBG, kewaspadaan terhadap Influenza A, perjuangan Indonesia di Asian Games 2026, serta perlindungan korban kekerasan seksual. (Foto oleh Radar Jogja)

Summary

Seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bantul bernama Gerardus Permanaditya menjadi sorotan setelah video dirinya menyantap chicken katsu dan mengatakan “ingatanku hilang 70%” beredar di media sosial.

Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan kasus yang dialami penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara.

Gerardus kemudian meminta maaf dan mengatakan video tersebut hanya dibuat untuk bersenang-senang dan diunggah  melalui status WhatsApp pribadinya. Ia membantah, bermaksud menyinggung korban MBG, dan mengatakan bahwa kaitan antara videonya dengan kasus di Karo merupakan asumsi pihak lain. 

Setelah video tersebut viral, BGN kemudian memberhentikan Gerardus dari pekerjaannya di SPPG.

Why It Matters

Kasus ini menjadi perhatian karena pernyataan tersebut muncul di tengah kasus keracunan yang dialami penerima manfaat MBG di Karo. Hal ini kembali menyoroti pentingnya etika dan empati dalam berkomunikasi, terutama ketika pernyataan dibuat di tengah isu yang menyangkut korban dan kesehatan publik.

Selain itu, MBG telah berulang kali dilaporkan mengalami kasus keracunan di sejumlah daerah sejak program tersebut berjalan. Dalam konteks tersebut, candaan yang dianggap mengarah pada korban dapat memicu kritik publik dan meningkatkan sensitivitas terhadap pelaksanaan program MBG.

Key Insight

Kasus ini menunjukkan bagaimana unggahan di media sosial pribadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda ketika dikaitkan dengan isu yang sedang menjadi perhatian publik. Pemberhentian Gerardus juga menunjukkan bahwa perilaku dan komunikasi pegawai dapat menjadi bagian dari evaluasi dalam pelaksanaan program MBG.

Baca juga: Performative Reading, Saat Membaca Tak Lagi Sekadar Soal Isi Buku

Influenza A Cepat Bermutasi dan Berpotensi Picu Pandemi

Peringatan IDAI menekankan pentingnya memantau perubahan Influenza A dan menjaga kewaspadaan, tanpa menunjukkan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi pandemi. (Foto oleh Andrea Piacquadio/ Pexels)

Summary

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai Influenza A karena virus tersebut memiliki daya tular tinggi dan dapat bermutasi dengan cepat.

Anggota UKK Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Anggraini Alam, mengatakan perubahan genetik pada Influenza A dapat terjadi melalui antigenic drift dan antigenic shift. Perubahan genetik yang besar dapat membuat sistem kekebalan tubuh yang sudah terbentuk menjadi kurang efektif dalam mengenali virus.

Influenza A juga pernah dikaitkan dengan pandemi besar seperti Spanish Flu dan Swine Flu, sehingga kemampuan virus tersebut juga mengalami perubahan genetik menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Why It Matters

Meski kasus Influenza A di Indonesia saat ini belum menunjukkan lonjakan yang signifikan, kemampuan virus untuk bermutasi dengan cepat membuat perkembangannya tetap perlu dipantau.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gejala berat atau komplikasi.

Karena itu, IDAI menganjurkan vaksinasi influenza secara rutin sebagai salah satu upaya untuk mengurangi risiko infeksi dan komplikasi akibat influenza.

Key Insight

Peringatan IDAI lebih menekankan pentingnya kewaspadaan dan pemantauan terhadap perkembangan virus, bukan menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi pandemi atau lonjakan kasus Influenza A.  Potensi pandemi berkaitan dengan munculnya perubahan besar pada virus yang dapat membuat kekebalan yang telah terbentuk menjadi kurang efektif.

Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Perolehan tujuh medali menempatkan Indonesia di posisi ke-12 sementara, dengan kompetisi yang masih berlangsung dan peluang perolehan medali yang dapat berubah. (Foto oleh ANTARA)

Summary

Kontingen Indonesia meraih emas pertama dalam ajang kejuaraan Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Medali emas pertama ini diraih tim bulu tangkis beregu putra Indonesia, yang sukses menumbangkan China 3-2 di final Asian Games 2026.

Kemenangan tunggal putra Moh Zaki Ubaidillah menjadi penutup yang dramatis, setelah Indonesia tertinggal 2-0 dari tim China.

Dengan kemenangan satu emas ini, Indonesia kini berada di posisi ke-16 dalam klasemen dengan mengoleksi 20 medali yang terdiri dari satu emas, empat perak, dan 15 perunggu.

Why It Matters

Medali emas pertama membawa Indonesia naik tujuh posisi dalam klasemen sementara Asian Games 2026, dari peringkat ke-23 menjadi ke-16.

Namun, klasemen masih dapat berubah karena pertandingan Asian Games 2026 masih berlangsung. Sejumlah atlet Indonesia masih berkompetisi di berbagai cabang olahraga dan berpeluang menambah perolehan medali.

Key Insight

Kemenangan dramatis ini membuktikan ketahanan mental skuad muda Indonesia. Membalikkan keadaan dari tertinggal 2-0 menjadi menang 3-2 atas lawan sekelas China menunjukkan kematangan taktik dan kedalaman regenerasi di sektor bulu tangkis beregu.


Keberhasilan memecah kebuntuan emas di cabang olahraga andalan menjadi suntikan moral penting bagi kontingen Indonesia. Dengan beberapa cabang potensial lain yang masih bertanding, momentum ini menjaga asa Indonesia untuk terus naik mendekati papan atas klasemen.

Bechi Bebas Bersyarat, Dugaan Kekerasan terhadap Mantan Santri Kembali Disorot

Pembebasan bersyarat Bechi kembali menyoroti pentingnya perlindungan korban dan akuntabilitas dalam menangani kekerasan seksual di lingkungan pesantren. (Foto oleh Ron Lach/ Pexels)

Summary

Moch Subchi Azal Tsani (Bechi), putra pendiri Shiddiqiyyah di Jombang yang divonis tujuh tahun penjara atas kasus kekerasan seksual terhadap seorang santriwati, telah bebas bersyarat sejak Agustus 2025. Ia mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menjalani masa pidana kurang dari setengah masa hukumannya.

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menjelaskan bahwa pemberian remisi membuat Bechi telah menjalani dua pertiga masa pidananya pada 23 Juli 2025, sehingga memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan bersyarat.

Why It Matters

Kasus ini kembali menyoroti persoalan perlindungan korban dan akuntabilitas dalam kasus kekerasan seksual, terutama ketika muncul dugaan kekerasan terhadap korban atau mantan santri lain kembali muncul setelah proses hukum terhadap Bechi berjalan.

Selain itu, kasus ini memperlihatkan persoalan dugaan relasi kuasa di lingkungan pesantren yang menurut Komnas Perempuan dapat diperkuat oleh relasi kuasa berbasis spiritual serta budaya patriarki.

Key Insight

Berakhirnya proses hukum terhadap seorang terdakwa tidak selalu mengakhiri persoalan yang dihadapi korban maupun lingkungan di sekitarnya.

Meskipun pemerintah menjelaskan bahwa pembebasan bersyarat Bechi diberikan berdasarkan remisi dan pemenuhan persyaratan yang berlaku, munculnya dugaan kekerasan terhadap mantan santri lain kembali menyoroti persoalan perlindungan korban dan akuntabilitas di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan.

Baca juga: Collective Anxiety: Saat Derasnya Arus Informasi Mulai Mengganggu Kesehatan Mental

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.