Coba perhatikan rak buku yang sering muncul di timeline media sosial belakangan ini. Biasanya tersusun rapi dengan warna serasi, kadang dilengkapi lampu kecil biar terlihat lebih hangat di kamera. Rak seperti ini kerap disebut shelf-ie, bukan lagi sekadar menyimpan buku, melainkan juga menjadi latar untuk membuat konten.
Fenomena serupa juga terlihat di tempat umum. Seseorang membaca buku di ruang publik dan aktivitas itu dapat menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan dirinya. Ada yang menganggapnya keren, ada pula yang menganggapnya sekadar gaya-gayaan.
Baca juga: Collective Anxiety: Saat Derasnya Arus Informasi Mulai Mengganggu Kesehatan Mental
Situasi inilah yang melahirkan istilah performative reading, yakni aktivitas membaca yang dilakukan untuk membangun tampilan atau citra tertentu di hadapan orang lain, bukan semata-mata untuk memahami isi buku.
Lalu, apa sebenarnya performative reading itu? Mengapa istilah ini ramai dibicarakan?
Mengenali Performative Reading
The New Yorker memperkenalkan istilah ini pada 2025 dengan menggambatkan performative reader sebagai orang yang memperlakukan buku layaknya aksesori.
Buku dibawa sebagai bagian dari penampilan untuk meningkatkan visibilitas, terlihat lebih niche hingga menarik perhatian orang lain, entah demi validasi sosial atau ketertarikan romantis.

Istilah ini kemudian mendapatkan respons dari berbagai kalangan, salah satunya penulis John Paul Brammer. Dalam publikasinya di Substack, ia menyoroti bahwa istilah ini bisa membuat literasi berakhir sebagai tren sesaat yang mengejar validasi, alih-alih benar-benar dihayati.
Baca juga: Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental, Ini Kata Gracya Rudiman
Maka mudahnya, performative reading bukan cuma soal buku. Fenomena ini menjadi cermin dari situasi yang lebih luas, ketika hampir semua tindakan di ruang publik, termasuk aktivitas sederhana seperti membaca, dapat dilihat sebagai “pertunjukan” untuk membangun citra tertentu.
Kenapa Buku Bisa Berubah Jadi Aksesori?
Salah satu pendorong utamanya datang dari media sosial, terutama ketika tren BookTok dan Bookstagram semakin marak. Di sini, buku tidak hanya dinilai dari isinya, tetapi juga dari sampul, ketebalan, hingga cara memegangnya yang kemudian menjadi bagian dari estetika konten.

Dikutip dari Kompas, fenomena ini membuat aktivitas membaca tidak lagi berhenti pada proses memahami makna, tetapi juga menjadi performa sosial yang dapat dilihat dan dinilai publik.
Buku kini dinilai dari daya representasinya: apakah layak difoto, dibagikan, dan menjadi bahan obrolan.
Baca juga: Cerita Anglila Sandyakala Menjadi Artpreneur, Membangun Ruang, Komunitas, dan Masa Depan Seni
Ketika buku sudah diperlakukan sebagai bagian dari penampilan seperti ini, wajar kalau muncul pertanyaan, “Apakah buku-buku yang dipajang dan difoto itu benar-benar dibaca sampai selesai?”
Ramai di Rak, Belum Tentu Tuntas Dibaca
Mengutip publikasi Monumen Pers Nasional, buku memang semakin banyak dibeli dan dipajang, tetapi tidak semuanya benar-benar dibaca.
Ini terjadi karena dalam performative reading, orang membeli buku semata karena sedang viral, tanpa mempertimbangkan apakah topiknya benar-benar sesuai dengan minat pribadi.
Akibatnya, proses membaca terasa kurang bermakna. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyerah karena kesulitan memahami buku yang dibeli hanya karena mengikuti tren.

Baca juga: Cara Anak Muda Membaca Dunia Dengan Satu Scroll
Membaca Lebih Dari Sekadar Penampilan
Terlepas dari bagaimana aktivitas membaca kini dilakukan, satu hal tetap sama: buku tidak kehilangan peminatnya, bahkan mungkin semakin sering dipajang dan difoto. Yang berubah adalah alasan orang melakukannya.
Kalau dulu membaca terasa seperti aktivitas personal yang jarang ditunjukkan, kini sebagian orang justru menjadikannya bagian dari presentasi diri di ruang publik.
Di RadVoice, kami percaya bahwa memahami motivasi di balik perilaku audiens adalah kunci untuk merancang strategi komunikasi yang benar-benar relevan. Kami siap membantu brand Anda menemukan cara berkomunikasi yang autentik, sesuai dengan nilai yang ingin dibangun bersama audiens.
