PR Tak Cukup Jago Ngomong, Nilai Ini Selalu Ditanamkan Elvi Sihite kepada Mahasiswanya

Divisi public relations (PR) atau hubungan masyarakat (humas) jadi salah satu bagian yang selalu dibutuhkan dalam sebuah perusahaan. 

Perannya pun cukup krusial, yaitu memperkenalkan institusi atau perusahaan kepada masyarakat luas. 

Kebutuhan ini mendorong seorang public relations untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik, khususnya dengan berbagai jenis orang.

Namun, ternyata pintar berbicara saja tidak cukup bagi seorang public relations. Hal lain yang sangat penting dan harus dimiliki setiap humas adalah nilai empati dan kejujuran.

Dosen Telkom University, Elvi Bertha Debora atau akrab disapa Elvi Sihite menceritakan langkah yang ia lakukan agar mahasiswanya tidak luput dari nilai-nilai kemanusiaan sehingga lebih mudah dalam beradaptasi sebagai humas.

Baca juga: Bagaimana Peran Pendidik Bergeser di Era ChatGPT Menurut Johan Purnama

Mata Kuliah Kehumasan dan Berbagai Tantangannya

Elvi adalah dosen yang mengajar tiga mata kuliah, yakni Hubungan Media Digital, Humas Pemasaran, dan Industri Humas dan Media.

Bisa dikatakan, Elvi sangat memahami dunia humas termasuk bagian-bagiannya seperti hubungan media dan hal-hal yang bersinggungan dengan pemasaran.

Ia pun mengajar soal kehumasan dengan lebih luas, tidak melulu yang ada di dalam perusahaan atau instutisi, tetapi termasuk agensi atau konsultan PR.

Menurut lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, salah satu tantangan yang ia hadapi adalah bagaimana menumbuhkan minat usaha bagi para mahasiswa.

“Tantangannya bagi saya adalah untuk menumbuhkan minat usaha bagi mereka, supaya mahasiswa memiliki antusiasme dan minat yang tinggi untuk membangun usaha di bidang komunikasi atau PR,” katanya.

Mahasiswa, kata dia, didorong untuk bisa menemukan peluang menciptakan perusahaan humas sendiri serta berpikir kreatif untuk mengembangkan usahanya.

Baca juga: Ngobrol Bahasa Korporat bersama Dosen Antropologi Budaya Annisa Arum

Calon Public Relations Harus Punya Tiga Nilai Ini

Elvi Sihite menilai seorang PR harus mempunyai tiga nilai ini dalam setiap langkahnya. (Foto oleh Elvi Sihite)

Selain nilai-nilai soal kewirausahaan dan kreativitas, Elvi juga menekankan soal nilai kemanusiaan kepada para mahasiswanya.

Setidaknya, ujar Elvi, seorang PR harus memiliki tiga nilai ini dalam setiap langkahnya di dunia kehumasan nantinya.

“Untuk menjadi seorang PR di masa depan yang sangat erat kaitannya dengan publik dan masyarakat, mahasiswa harus dilatih untuk memiliki nilai kejujuran, rasa empati, dan kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang,” kata Elvi.

Setelah para mahasiswa lulus dari kuliah, mereka harus menghadapi dunia yang ‘sebenarnya’. Sebagai para calon public relations, Elvi berharap mahasiswanya bisa menyampaikan pesan berbasis data serta memahami kebutuhan audiens.

Selain itu, ia juga menyoroti soal pentingnya memahami kondisi sosio-kultural yang harus dihadapi para mahasiswanya. 

Sebab, di dunia ini ada begitu banyak perbedaan yang mungkin membuat seseorang merasa tidak terbiasa. Belum lagi jika ada perubahan yang tiba-tiba terjadi.

Hal inilah yang membuat perasaan empati hingga sudut pandang luas penting untuk dimiliki para calon public relations, karena mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika menghadapi situasi tertentu di lapangan.

Menurut Elvi, ketika mahasiswa memahami betul nilai kejujuran dan empati, maka mereka juga akan lebih baik dalam menyampaikan pesan-pesannya.

“Sehingga seorang PR tidak akan sembarangan dalam mengkomunikasikan sesuatu kepada publiknya, karena memiliki pemahaman yang tepat akan kondisi sosio-kultural,” kata dia menambahkan.

Baca juga: Mengomunikasikan Isu Sensitif melalui Storytelling: Perspektif Eka Gona Putri

Supaya Tidak Salah Kaprah Soal Public Relations

Satu hal yang sering jadi salah kaprah adalah menyamakan humas dengan marketing. (Foto oleh Pexels)

Sebagai dosen, Elvi juga harus melek dengan keadaan dunia humas di Indonesia. Menurutnya, ada satu hal yang sering jadi salah kaprah: humas disamakan dengan marketing.

“Sorotan yang penting dalam pembahasan industri humas dan media adalah bagaimana humas di Indonesia sering sekali diasosiasikan dengan marketing. Sementara kedua hal tersebut berbeda meskipun saling berkaitan satu dengan yang lain,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa humas dan marketing adalah bentuk yang berbeda. Walaupun dua hal ini sering dikombinasikan, namun tidak bisa disamakan.

“Pada umumnya, praktik marketing selalu berfokus pada penjualan dan target keuntungan. Cenderung prosesnya juga cepat. Sementara itu, public relations berfokus pada pengenalan akan brand, dan kemelekatan nilai yang dipublikasikan oleh korporasi/brand dengan audiens dan stakeholder,” ungkap dia.

Penjelasan soal salah kaprah ini menjadi hal yang tak lupa ditanamkan Elvi dalam setiap kuliah yang ia lakukan bersama mahasiswa. Sebagai pengajar, tentunya ia tidak ingin ada kesalahpahaman.

Dirinya pun berharap agar para mahasiswanya bisa menjadi public relations yang memahami fungsinya sekaligus mudah beradaptasi di masyarakat.

Kesimpulan

Seorang humas atau public relations ternyata tidak cukup hanya pintar berbicara atau berhubungan dengan orang lain.

Public relations ideal adalah sosok yang cepat beradaptasi dan bisa menghadapi situasi-kondisi yang terus berubah di lapangan.

Supaya dapat mewujudkan sosok itu, perlu ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak mereka menempuh perkuliahan.

Sebagai seorang dosen, Elvi pun menyadari hal ini. Oleh karenanya, ia tak lupa untuk menekankan agar para mahasiswanya memiliki nilai kejujuran, empati dan mempunyai sudut pandang luas.

Ia berharap agar selain memiliki semangat wirausaha, para mahasiswanya juga mampu terjun ke masyarakat dengan empati dan mudah beradaptasi.

Wawancara dengan Elvi Sihite dilakukan pada Mei 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.