Kalau Anda sering mendengar istilah STEM, sekarang ada istilah baru yang mulai ramai dibahas: SPAM.
Tapi ini bukan SPAM yang biasa kita kenal, bukan pesan beruntun yang memenuhi inbox, dan bukan juga merek daging kaleng itu.
Saat sedang scrolling media sosial, saya menemukan unggahan bertuliskan “I work in SPAM”.
Awalnya terdengar aneh bagi saya. Tapi ternyata, di balik singkatan itu ada makna yang jauh lebih serius.
Lalu, apa arti SPAM dan mengapa istilah ini mulai banyak digunakan? RadVoice Indonesia akan membahasnya lebih lanjut
Apa Itu SPAM?

SPAM adalah singkatan dari Social Media, PR, Advertising, dan Marketing. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang bekerja di industri media dan komunikasi dalam lingkup tersebut.
Dilansir dari Planoly, mereka yang bekerja di bidang SPAM mempunyai banyak tanggung jawab sekaligus dan kerap merasa overwhelmed karena tingginya beban kerja yang harus dikelola bersamaan.
Kenapa SPAM Tiba-Tiba Jadi Relevan?

Creator Laura Cameron menyoroti tren ini dalam video yang belakangan viral.
Argumennya cukup tajam: pekerjaan di sektor STEM yang selama ini dianggap prestisius seperti IT, finance, dan berbagai peran teknis, mulai terdampak AI.
Dan menariknya, banyak dari mereka justru mulai melirik bidang SPAM yang dulu sering diremehkan.
Selama bertahun-tahun, karier di media sosial dan marketing kerap jadi bahan candaan.
“Kerjanya ngapain sih?” Tapi narasi itu sekarang mulai berbalik, orang-orang yang pernah meremehkan justru kini bertanya bagaimana cara masuk ke dunia konten.
Fenomena ini sudah terjadi secara secara nyata. Grace Xu, 26 tahun, mengumumkan kepada 300.000 followers TikTok-nya bahwa ia baru saja di-PHK dari pekerjaannya, tapi ia tidak mencari pekerjaan baru.
Justru, ia memilih menjadi content creator penuh waktu.
Bahkan jauh sebelum tren ini muncul, budaya pop seperti The Devil Wears Prada sudah lebih dulu memperlihatkan bahwa industri kreatif bukan sekadar kerja santai, melainkan mesin yang menggerakkan budaya.
SPAM di Kota yang Hidup dari Konten

Relevansi SPAM terasa paling nyata di kota-kota seperti Dubai.
Dilansir dari Ahlan, banyak brand dan bisnis tumbuh bukan lewat iklan tradisional, tapi dari satu video yang masuk FYP.
Restoran, pop-up store, hingga gym baru bisa langsung dikenal publik berkat kekuatan konten viral.
Dubai adalah kota yang sangat bergantung pada visibilitas, apa yang terlihat, itulah yang hidup.
Huda Kattan adalah bukti nyatanya. Perempuan keturunan Irak-Amerika yang berbasis di Dubai ini memulai kariernya sebagai beauty blogger sebelum akhirnya mendirikan Huda Beauty.
Ia tidak membangun brand-nya lewat iklan besar, melainkan lewat media sosial, dari Dubai.
Transparansi, kedekatan, dan keahlian makeupnya beresonansi dengan jutaan orang hingga ketika lini false lashes pertamanya masuk Sephora Dubai, produk itu habis dalam hitungan hari.
Dua tahun kemudian brand ini sudah menghasilkan $10 juta, dan pada 2017 dinilai senilai $1,2 miliar oleh firma ekuitas swasta.
Di balik itu semua, ada para kreator, marketer, dan pekerja SPAM yang mengatur bagaimana sebuah brand muncul di layar orang setiap hari.
Banyak dari mereka, khususnya perempuan, bukan hanya bagian dari industri ini, mereka ikut membentuk wajah kota itu sendiri.
Lebih dari Sekadar Tren

Meski terdengar seperti buzzword baru, banyak yang melihat istilah SPAM sebagai bentuk pengakuan terhadap peran yang selama ini kurang diapresiasi.
Dilansir dari PR Week, industri kreatif terlalu sering disederhanakan, seolah hanya soal konten ringan dan aktivitas sosial semata.
Padahal di baliknya ada keahlian yang kompleks: strategi, storytelling, manajemen brand, hingga pemahaman mendalam tentang budaya digital.
Di era sekarang, kemampuan membuat audiens peduli adalah aset yang sangat berharga. Dan itu bukan pekerjaan yang bisa diremehkan.
“Women in SPAM”, pada akhirnya, bukan sekadar label yang lucu atau tren sesaat.
Ia adalah cermin dari pergeseran cara dunia memandang industri kreatif, dan pengakuan atas mereka yang selama ini bekerja di balik layar, membentuk percakapan publik dan budaya internet.
Kesimpulan

SPAM mungkin terdengar seperti istilah baru yang sebentar ramai lalu menghilang.
Tapi tren ini mengatakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rebranding karier, yaitu mencerminkan pergeseran nyata dalam cara dunia kerja memandang kreativitas.
Di saat AI mulai mengambil alih pekerjaan yang dulu dianggap “aman”, justru kemampuan manusiawi yang paling sulit direplikasi oleh mesin.
Empati, intuisi budaya, dan kemampuan bercerita kembali naik nilainya.
Dan itu adalah wilayah yang sudah lama dikuasai oleh orang-orang di SPAM.
Jadi kalau pertanyaannya adalah apakah bidang ini layak dianggap serius: jawabannya sudah terjawab oleh mereka yang dulu meremehkannya.