Loneliness Influencer, Ketika Kesepian Menjadi Tontonan

Saat scroll media sosial, Anda mungkin pernah menemukan video seseorang makan sendirian di kafe dengan iringan musik piano pelan. Videonya dilengkapi dengan caption, “Normalisasikan apa pun, jalan aja, walaupun sendiri.”

Ada juga yang menonton bioskop sendirian atau merekam aktivitas pada malam hari tanpa ditemani siapa pun. Video semacam ini sering disebut solo date. Beberapa kreator mengemasnya dengan estetika tertentu yang terasa tenang, hangat, sekaligus sedikit sendu.

Konten-konten tersebut merupakan bagian dari fenomena yang bisa disebut loneliness influencer, yaitu kreator yang menjadikan kesendirian dan kesepian sebagai tema utama konten mereka. Fenomena ini menarik perhatian banyak anak muda, terutama Gen Z.

Sekilas, konten semacam ini terlihat menenangkan dan menginspirasi. Namun, muncul pertanyaan: apakah yang ditampilkan benar-benar mencerminkan pengalaman kesepian, atau justru kesepian yang dikemas agar terlihat menarik di media sosial?

Dalam blog kali ini, Radvoice Indonesia akan membahas fenomena loneliness influencer, mulai dari pengertiannya, alasan orang tertarik menontonnya, sampai dampaknya bagi penonton maupun kreator.

Baca juga: Akses Informasi Beasiswa: Kunci Membuka Lebih Banyak Kesempatan Pendidikan

Apa Itu Loneliness Influencer?

Loneliness influencer adalah kreator yang menjadikan pengalaman kesepian dan kesendirian sebagai tema utama konten, sering kali dikemas melalui estetika solo date dan self-care. (Semua foto oleh Magnific)

Loneliness influencer adalah kreator konten yang secara terbuka menampilkan rasa sepi, pengalaman tidak memiliki banyak teman, atau proses “healing sendirian” sebagai bagian dari kontennya. Kesepian yang biasanya dianggap sebagai pengalaman pribadi kini diangkat menjadi tema yang dibagikan kepada publik.

Bedanya dengan konten curhat biasa, loneliness influencer menjadikan kesepian sebagai tema utama yang muncul secara konsisten. Pengalaman tersebut sering dikemas melalui visual yang rapi dan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan penonton. 

Tren ini berkembang dari budaya solo date dan self-love, yaitu anggapan bahwa menghabiskan waktu sendiri adalah bentuk merawat diri, bukan sesuatu yang memalukan. Kesendirian pun mulai ditampilkan bukan hanya sebagai pilihan gaya hidup, tetapi juga sebagai bagian dari identitas yang bisa dibagikan di media sosial.

Kolumnis Guardian, Rachel Connolly, menggambarkan pola ini: vlog yang menampilkan seseorang menghabiskan malam sendirian di apartemen bernuansa netral. Lengkap dengan makan malam sehat dan ritual self-care. 

Menurutnya, estetika seperti ini sebenarnya bukan hal baru di dunia influencer. Yang berubah adalah cara kesendirian tersebut dibingkai sebagai konten tentang kesepian. Ia juga menilai masalahnya bukan pada kesendirian itu sendiri, melainkan pada sikap yang terlalu nyaman dan pasrah, seolah keadaan itu permanen dan tidak bisa diubah.

Dua Wajah Kesendirian di Layar

Konten loneliness influencer memiliki dua sisi, yaitu menikmati kesendirian sebagai pilihan dan mengungkapkan kesedihan karena merasa kesepian, yang terkadang sulit dibedakan melalui visual media sosial.

Meski sama-sama menampilkan aktivitas sendirian, konten loneliness influencer tidak selalu menceritakan pengalaman yang sama.

Ada kreator yang menikmati kesendirian sebagai pilihan, tetapi ada pula yang terbuka tentang rasa sedih karena tidak memiliki teman atau tidak punya kegiatan bersama orang lain.

Dalam artikelnya, penulis Vogue, Emma Specter, mengungkapkan bahwa ia mengikuti kreator seperti Lana Isa.

Isa menyebut dirinya “friendless girl”, yaitu sebutan untuk perempuan yang secara terbuka mengaku tidak punya teman. Ia merekam kesehariannya yang sederhana dengan bangga atas kemandiriannya. 

Salah satu yang disoroti Specter dalam tren ini adalah para kreator yang tidak selalu tampil bahagia. Kadang mereka mengaku tidak senang dengan kesendiriannya atau sedih saat tak punya rencana apa pun di waktu malam.

Dari situ terlihat bahwa satu kreator bisa menampilkan dua sisi sekaligus, menikmati waktu sendiri sekaligus merasa kesepian. Masalahnya, kedua pengalaman tersebut sering ditampilkan melalui format yang serupa: vlog sendirian, musik pelan, dan visual yang menenangkan.

Akibatnya, penonton bisa kesulitan membedakan apakah seorang kreator sedang menikmati waktu sendiri atau sebenarnya sedang bergulat dengan rasa kesepian.

Sisi “memilih sendiri” ini mungkin paling akrab bagi Gen Z yang tumbuh di internet lewat sosok Emma Chamberlain. YouTuber asal Amerika Serikat ini membangun kariernya di media sosial hingga memiliki sekitar 12 juta subscriber.

Di platform lain seperti TikTok dan Instagram, potongan video tentang kesendirian juga sering dipakai kreator lain sebagai audio di vlog mereka sendiri.

“Aku mau sendiri. Ini yang lagi aku inginkan, dan aku nggak kesepian kok. Ini semua pilihanku. Aku milih buat sendiri dan ngelakuin banyak hal sendiri,” ujarnya di salah satu video. 

Kutipan ini sering dipakai oleh kreator lain untuk menunjukkan keseharian mereka yang menikmati waktu sendiri.

Namun, ada satu hal yang perlu diingat: apa yang terlihat di layar tidak selalu menggambarkan keseluruhan pengalaman seseorang. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seseorang merasa kesepian hanya karena sering sendirian. 

Sebaliknya, kita juga tidak bisa memastikan bahwa seseorang benar-benar bahagia hanya karena ia mengemas kesendiriannya secara positif.

Baca juga: Kejar yang Vital, Bukan Sekadar Viral: 4 Pelajaran PR di Era AI dari Devie Rahmawati

Kenapa Kita Tertarik Menontonnya?

Konten loneliness influencer menarik perhatian karena terasa relatable, membangun kedekatan parasosial dengan penonton, dan didukung algoritma media sosial yang memperluas jangkauannya.

Banyak orang tertarik pada konten semacam ini karena beberapa alasan.

Pertama, konten ini terasa relatable. Ketika kreator menceritakan pengalaman yang mirip dengan kehidupan penonton, muncul perasaan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masalah tersebut.

Pengalaman yang sebelumnya terasa personal pun menjadi sesuatu yang bisa dipahami bersama.

Kedua, kreator sering terasa seperti “teman” yang mengerti. Gaya bicara yang pelan, cerita yang personal, dan rutinitas sehari-hari membuat penonton merasa seolah-olah sedang menghabiskan waktu bersama seseorang yang memahami mereka.

Perasaan dekat dengan figur media yang sebenarnya tidak mengenal kita secara pribadi ini disebut hubungan parasosial.

Ketiga, algoritma media sosial dapat memperluas jangkauan konten yang mendapat banyak interaksi. Video yang membuat penonton merasa tersentuh atau terhubung dengan pengalaman kreator mungkin lebih sering ditonton hingga selesai, disimpan, atau dibagikan.

Ketika interaksinya tinggi, konten tersebut berpeluang menjangkau lebih banyak orang. 

Di Indonesia, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Maslahah pada 2025 menyimpulkan bahwa konten yang menyentuh sisi emosional cenderung mendapat jangkauan lebih luas di TikTok dan Reels, karena algoritma memprioritaskan konten dengan interaksi tinggi. 

Ketiga faktor tersebut membantu menjelaskan mengapa konten loneliness influencer terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. 

Namun, popularitasnya juga memunculkan pertanyaan lain: apakah konten ini membantu orang memahami kesepian, atau justru membuat kesepian terlihat lebih menarik daripada kenyataannya?

Kesepian Gen Z, Realitas atau Sekadar Konten?

Kesepian yang diangkat sebagai konten dapat membantu anak muda merasa dipahami, tetapi pengemasan yang terlalu estetis berisiko meromantisasi pengalaman emosional yang sebenarnya kompleks.

Ketertarikan terhadap konten kesepian tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa kesepian memang merupakan pengalaman sebagian anak muda.

Survei Litbang Kompas pada Juni 2025 dengan 512 responden menemukan bahwa 19,97% responden merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. 

Tingkat kesepian tertinggi ada pada kelompok usia 13 sampai 17 tahun sebesar 20,9% dan usia 18 sampai 29 tahun sebesar 17,4%, lebih tinggi daripada kelompok dewasa usia 30 sampai 59 tahun sebesar 15,1% dan lansia sebesar 11,8%.

Data ini memberikan gambaran bahwa kesepian juga dialami oleh kelompok usia muda. Namun, angka tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa tren loneliness influencer muncul akibat meningkatnya kesepian di kalangan Gen Z. 

Lantas, apakah tren ini membantu orang merasa tidak sendirian, atau justru menjadikan kesepian sebagai komoditas?

Di satu sisi, konten ini bisa menjadi ruang aman. Penonton merasa ada yang senasib dan jadi lebih berani membicarakan perasaannya. 

Di sisi lain, ketika kesepian dikemas melalui visual estetik, musik sendu, dan caption yang menyentuh demi mendapatkan views dan engagement, pengalaman emosional yang kompleks berisiko disederhanakan menjadi sekadar tontonan.

Kesepian yang terlihat indah di layar juga bisa membuat keadaan tersebut terkesan romantis, padahal bagi orang yang mengalaminya, kesepian dapat terasa berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah kreator benar-benar kesepian atau hanya membuat konten. Yang lebih penting adalah bagaimana kesepian digambarkan dan bagaimana penonton memaknai gambaran tersebut. 

Konten yang terbuka tentang kesepian bisa membantu orang merasa dipahami, tetapi tidak seharusnya membuat kesepian tampak seperti sesuatu yang selalu indah atau harus diterima begitu saja.

Kesimpulan

Loneliness influencer dapat membantu orang merasa dipahami, tetapi penonton tetap perlu menyadari bahwa rasa terhubung di media sosial tidak bisa sepenuhnya menggantikan hubungan nyata.

Loneliness influencer bukan fenomena yang sepenuhnya baik ataupun buruk. Di satu sisi, konten ini dapat membantu orang menyadari bahwa kesepian merupakan pengalaman manusiawi yang juga dialami orang lain. 

Di sisi lain, ketika kesepian terus dikemas sebagai tontonan yang estetik, pengalaman tersebut berisiko kehilangan sebagian kompleksitasnya.

Bagi penonton, ada baiknya kita melihat konten semacam ini secara lebih kritis. Apakah setelah menontonnya kita merasa lebih terhubung dengan orang lain, atau justru semakin nyaman menarik diri dari lingkungan sekitar?

Konten tentang kesepian bisa memberi rasa ditemani untuk sementara. Namun, perasaan terhubung juga perlu dibangun melalui hubungan nyata, entah dengan membalas pesan teman, mengajak seseorang makan bersama, atau sekadar meluangkan waktu untuk berbincang.

Kesepian mungkin terlihat indah di layar, tetapi pengalaman manusia jauh lebih kompleks daripada apa yang bisa ditampilkan dalam sebuah video.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.