Kejar yang Vital, Bukan Sekadar Viral: 4 Pelajaran PR di Era AI dari Devie Rahmawati

MOSCOW — Founder & CEO RadVoice Indonesia, Randy Mulyanto, berkesempatan berbincang dengan Devie Rahmawati, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang hadir dalam II Global Digital Forum (GDF) di Rusia pada 8-10 Oktober 2026.

Dalam perbincangan tersebut, Devie membagikan sejumlah pelajaran dari interaksinya dengan para ahli dan praktisi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dari berbagai negara.

Pesan-pesan ini relevan bagi praktisi public relations (PR) yang perlu menyesuaikan strategi komunikasi di tengah perkembangan AI.

Berikut empat pelajaran dari Devie Rahmawati yang bisa diterapkan oleh praktisi PR di era AI.

1. PR Bukan Hanya Soal Menarik Perhatian

PR bukan sekadar menarik perhatian dan membangun visibilitas, tetapi juga harus menyampaikan informasi yang akurat, memberikan manfaat nyata, serta menjaga kepercayaan publik melalui komunikasi yang bertanggung jawab. (Semua foto oleh Magnific)

Perhatian publik atau viralitas memang menarik, tetapi bukan itu tujuan utama PR. Menurut Devie, program PR perlu memberikan manfaat nyata, bukan sekadar membuat sebuah isu ramai dibicarakan.

“Jangan hanya mengejar viral, tapi perlu hal yang vital,” ujarnya.

RadVoice sebelumnya pernah membahas praktik dark PR, yaitu upaya merusak reputasi pihak lain melalui informasi negatif atau menyesatkan. Praktik ini mengingatkan bahwa komunikasi dapat memengaruhi kepercayaan publik. Karena itu, praktisi PR perlu memastikan bahwa pesan yang disampaikan tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap audiens.

Contohnya, kampanye Open to Work Prilly Latuconsina bersama Sensodyne pada awal 2026. Prilly mengaktifkan status Open to Work di LinkedIn pada 25 Januari 2026 dan kabarnya bekerja sebagai sales Sensodyne beberapa hari kemudian. 

Kontroversi membesar setelah unggahan itu diketahui sebagai bagian dari kampanye iklan. Sebagian warganet menilai campaign itu sebagai gimik pemasaran yang kurang peka terhadap sulitnya mencari pekerjaan, Prilly pun menyampaikan permintaan maaf. 

Kasus ini menunjukkan bahwa keberhasilan campaign tidak cukup diukur dari besarnya perhatian publik. Praktisi PR juga perlu mempertimbangkan konteks sosial, sensitivitas audiens, dan kemungkinan dampak pesan yang disampaikan. Jangan hanya mudah dicari, pastikan menuju jawaban

Di era AI, visibilitas tidak lagi hanya soal seberapa mudah sebuah organisasi ditemukan di mesin pencari. Devie mengingatkan bahwa asisten AI juga dapat menjadi sumber informasi bagi publik yang ingin mengetahui lebih jauh tentang organisasi, institusi, individu, maupun klien. Karena itu, praktisi PR perlu memastikan bahwa informasi yang tersedia akurat dan dapat dipercaya.

Riset Muck Rack edisi Mei 2026 melaporkan bahwa pemberitaan earned media menyumbang 84% dari sumber yang ditemukan dalam jawaban ChatGPT, Claude, dan Gemini, sementara jurnalisme menyumbang sebesar 27%. CEO Muck Rack, Greg Galant, berpendapat bahwa memahami sumber yang dibaca AI adalah kunci untuk memengaruhi jawabannya. Dengan memahami sumber tersebut, komunikator dapat mengantisipasi pertanyaan yang mungkin diajukan pemangku kepentingan kepada AI tentang perusahaan mereka.

Namun, munculnya informasi dari berbagai sumber tidak otomatis menjadikan jawaban AI akurat. Studi BBC yang menguji 3.000 jawaban dalam 14 bahasa menemukan bahwa sekitar 20% jawaban mengandung masalah akurasi, termasuk informasi yang sudah tidak berlaku.

Salah satunya adalah kasus Air Canada. Pada November 2022, penumpang bernama Jake Moffatt bertanya kepada chatbot di situs maskapai soal tarif duka setelah neneknya meninggal. Chatbot menyebut tarif tersebut bisa diklaim setelah tiket dibeli. Namun, halaman kebijakan resmi yang ditautkan oleh chatbot itu sendiri menyatakan bahwa tarif duka tidak bisa diajukan setelah tiket dibeli.

Padahal, halaman kebijakan resmi yang ditautkan oleh chatbot menyatakan bahwa pengajuan tarif duka tidak dapat dilakukan setelah tiket dibeli.

Pada 14 Februari 2024, tribunal sengketa sipil British Columbia dalam putusannya menyatakan Air Canada lalai memastikan chatbot-nya akurat, menolak klaim bahwa chatbot adalah entitas terpisah, dan memerintahkan maskapai membayar sekitar Rp10,5 juta, mencakup ganti rugi, bunga, dan biaya perkara.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa organisasi tetap perlu bertanggung jawab atas informasi yang disampaikan melalui saluran komunikasinya, termasuk chatbot.

Untuk mengantisipasi risiko serupa, praktisi PR dapat menguji bagaimana asisten AI menjawab pertanyaan yang umum diajukan publik tentang organisasi mereka. Hasilnya kemudian perlu diperiksa untuk mengetahui apakah informasi yang diberikan sudah akurat, relevan, dan mutakhir. 

Baca juga: Mengapa Empati Penting dalam Komunikasi Politik?

2. Manfaatkan Teknologi untuk Memperkuat Sisi Kemanusiaan

AI dapat meningkatkan efisiensi kerja PR, tetapi praktisi tetap perlu mengutamakan empati, penilaian manusia, dan hubungan yang bermakna dengan audiens untuk membangun kepercayaan jangka panjang.

Teknologi memang mempercepat pekerjaan, tetapi Devie mengajak praktisi PR memanfaatkan efisiensi tersebut untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan audiens dan pemangku kepentingan.

“Gunakanlah juga sisi kemanusiaan kamu,” ujar Devie. Dalam praktiknya, waktu yang dihemat dengan AI dapat dialihkan untuk memahami kebutuhan, mendengarkan masukan, dan merawat hubungan dengan orang-orang yang mereka dampingi.

Survei International Public Relations Network (IPRN) 2026 terhadap agensi PR di lebih dari 22 negara menemukan bahwa seluruh agensi anggotanya sudah aktif menggunakan AI. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI semakin meluas di kalangan agensi PR. Ketika teknologi yang digunakan semakin serupa, penilaian manusia dan kemampuan membangun kepercayaan menjadi faktor pembeda yang penting. 

Pengalaman Klarna, perusahaan teknologi keuangan (fintech) asal Swedia, juga mengalaminya. Pada Februari 2024, Klarna mengklaim asisten AI-nya mengerjakan pekerjaan 700 agen layanan pelanggan. 

Namun, pada Mei 2025, CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengatakan bahwa Klarna kembali merekrut tenaga manusia karena chatbot menghasilkan kualitas yang lebih rendah. 

Dari sisi merek, Siemiatkowski menekankan pentingnya memberi kepastian kepada pelanggan bahwa mereka tetap dapat menghubungi manusia ketika membutuhkan bantuan. Meski demikian, Klarna tetap optimistis soal AI. Perusahaan tetap melihat potensi teknologi tersebut, tetapi perlu menyesuaikan pembagian peran antara AI dan tenaga manusia. 

Pelajaran bagi praktisi PR bukanlah bahwa AI harus dihindari, melainkan bahwa efisiensi teknologi perlu diimbangi dengan kualitas interaksi manusia. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi empati, penilaian situasional, dan kemampuan memahami kebutuhan orang lain tetap penting dalam membangun hubungan jangka panjang. 

Baca juga: Menjaga Empati di Tengah Efisiensi AI: Memosisikan Teknologi sebagai Asisten, Bukan Pengendali

3. AI Bisa Menulis Seribu Siaran Pers, tapi Bukan Keputusan Organisasi

AI dapat mempercepat produksi siaran pers, tetapi keputusan strategis yang berdampak bagi masyarakat tetap membutuhkan pertimbangan manusia dan keterlibatan praktisi PR sejak awal proses pengambilan keputusan.

AI bisa membantu menulis siaran pers dengan cepat dan tepat. Namun, menurut Devie, ada hal yang tidak bisa digantikan. “AI atau teknologi tidak akan bisa menggantikan satu keputusan organisasi yang benar-benar dapat mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik,” ujarnya. Karena itu, AI sebaiknya dimanfaatkan untuk produksi konten, sementara praktisi PR mengarahkan energi strategis pada keputusan yang berdampak nyata.

Studi Chartered Institute of Public Relations (CIPR) Humans Needed, More Than Ever menegaskan bahwa pertimbangan profesional tingkat senior, penalaran etis, dan nasihat strategis tetap membutuhkan peran manusia. 

Namun, tantangan lain muncul ketika praktisi PR baru dilibatkan setelah keputusan organisasi dibuat. Riset FTI Consulting menemukan banyak tim corporate affairs baru dilibatkan setelah keputusan dibuat. Di sinilah peluang bagi praktisi PR, yaitu hadir lebih awal, sebelum keputusan diambil, bukan sesudahnya.

Situasi ini dapat membatasi peran PR karena tim komunikasi tidak memiliki kesempatan untuk memberikan masukan sebelum keputusan ditetapkan. Padahal, keterlibatan sejak awal memungkinkan praktisi PR mengidentifikasi risiko reputasi, mempertimbangkan respons pemangku kepentingan, dan memberi masukan terhadap keputusan organisasi. 

Dengan demikian, peran strategis PR bukan sekadar mengemas keputusan menjadi pesan yang menarik, melainkan ikut memastikan bahwa keputusan tersebut mempertimbangkan dampaknya terhadap publik. 

4. Janji Harus Dibuktikan dengan Tindakan

Reputasi organisasi dibangun ketika janji dalam komunikasi selaras dengan tindakan nyata, sehingga praktisi PR perlu memastikan setiap klaim didukung oleh bukti yang dapat diverifikasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Teknologi bisa membantu organisasi menghasilkan kata-kata yang indah dengan cepat. Tetapi, kata-kata saja tidak cukup. “Hanya tindakanlah yang mampu secara nyata membuat kata-kata itu menjadi bermakna,” ujar Devie. Karena itu, praktisi PR perlu memastikan bahwa apa yang dikomunikasikan organisasi sepenuhnya diwujudkan.

Risiko ketika klaim tidak sesuai dengan praktik terlihat dalam kasus DWS, perusahaan manajemen aset yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Deutsche Bank. Pada April 2025, jaksa Frankfurt mendenda sekitar Rp450 miliar setelah klaimnya sebagai pemimpin di bidang investasi berkelanjutan (ESG/Environmental, Social, and Governance) tidak sesuai dengan kenyataan. 

Menurut jaksa, transformasi internal perusahaan belum selesai saat klaim itu disampaikan. Ketika klaim berjalan lebih jauh daripada kenyataan, reputasi menjadi taruhannya.

Bagi praktisi PR, pelajarannya jelas: klaim yang disampaikan kepada publik harus didukung oleh bukti yang dapat diverifikasi. Tanpa kesesuaian antara pesan dan tindakan, komunikasi yang awalnya bertujuan membangun reputasi justru dapat memicu keraguan dan merusak kepercayaan. 

Baca juga: Memahami Isu Internasional: Tantangan bagi Jurnalis dan Pembaca

Kesimpulan

cara membuat prompt AI
Di era AI, keunggulan praktisi PR bukan lagi sekadar kecepatan menghasilkan pesan, melainkan kemampuan memastikan informasi tetap akurat, memahami kebutuhan audiens, dan terlibat dalam keputusan strategis.

Di era ketika AI bisa menulis seribu siaran pers dalam hitungan menit, kecepatan bukan lagi satu-satunya keunggulan praktisi PR. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa pesan yang disampaikan relevan, akurat, dan didukung oleh tindakan nyata. Yang membedakan adalah apa yang ada di balik kata-kata itu.

Pesan Devie Rahmawati sederhana, tetapi menuntut. Kejar yang vital, bukan sekadar viral. Pastikan informasi tentang organisasi Anda tidak hanya mudah ditemukan, tetapi juga akurat ketika diakses melalui AI.  Manfaatkan teknologi untuk menghemat waktu, lalu gunakan waktu itu untuk memahami audiens, membangun hubungan, dan terlibat dalam pengambilan keputusan strategis. 

Pada akhirnya, AI dapat membantu menghasilkan kata-kata dengan cepat, tetapi kepercayaan tidak terbentuk hanya melalui komunikasi. Kepercayaan tumbuh ketika pesan sesuai dengan kenyataan, janji dibuktikan melalui tindakan, dan teknologi digunakan untuk memperkuat hubungan antar manusia. 

Randy Mulyanto menghadiri II Global Digital Forum atas undangan pemerintah Rusia.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.