Pada September 2026, Ji Chang Wook ditunjuk sebagai brand ambassador (BA) untuk produk susu ibu hamil Prenagen. Pengumuman ini langsung memancing pertanyaan publik: mengapa aktor yang belum menjadi ayah justru dipilih untuk mempromosikan produk bagi ibu hamil? Pertanyaan itu menarik, karena semakin banyak brand Indonesia yang menggandeng artis Korea untuk menggaet perhatian konsumen.
Dalam case study kali ini, Radvoice Indonesia akan membahas pengaruh artis Korea terhadap brand Indonesia, serta insight agar kolaborasi dengan selebritas Korea Selatan tidak sekadar mengandalkan popularitas.
Selebritas Korea Sebagai Brand Ambassador Produk Lokal

Ji Chang Wook adalah aktor Korea yang belum menjadi ayah, tetapi menjadi wajah produk ibu hamil. Respons publik beragam. Ada yang mempertanyakan alasan pemilihannya, sementara ibu-ibu yang lain justru bergurau bahwa melihat sang aktor di iklan membuat mereka ingin hamil lagi.
BA adalah sosok yang sering digunakan oleh brand untuk mempromosikan produk dan meningkatkan kesadaran publik (awareness) melalui berbagai aktivitas pemasaran. Tugas seorang BA juga biasanya mencakup menghadiri acara brand, seperti panel diskusi, pop-up, atau launch party.
Memilih artis laki-laki bisa menjadi strategi untuk memancing percakapan yang tidak biasa. Jika menggunakan BA perempuan, Prenagen mungkin akan lebih mudah menyampaikan pesan yang familiar bagi target konsumennya. Namun, pendekatan tersebut belum tentu menghasilkan perhatian sebesar pemilihan sosok yang tidak terduga.
Ji Chang Wook justru memancing publik untuk bertanya-tanya dan bergurau di media sosial. Percakapan ini berpotensi memberikan eksposur tambahan bagi brand tanpa harus selalu mengandalkan iklan berbayar. Penggemar artis Korea juga cenderung ikut menyebarkannya secara sukarela, mulai dari membagikan ulang unggahan hingga membuat candaan sendiri.
Pilihan ini juga sejalan dengan teaser Prenagen yang menyebut sosok barunya sebagai “support system” para ibu. Bagi calon ibu yang sedang menghadapi kecemasan selama kehamilan, pesan tentang dukungan dan pendampingan bisa terasa relevan, meskipun sang BA tidak memiliki pengalaman sebagai ayah.
Seberapa Besar “Efek Korea” Bagi Brand Indonesia?

Jika diperhatikan, wajah artis Korea semakin mudah ditemukan di berbagai media promosi di Indonesia, mulai dari papan iklan di jalanan hingga iklan televisi. Fenomena ini tidak terbatas pada satu kategori, karena brand dari e-commerce, kuliner, kecantikan, sampai fesyen sama-sama menggandeng artis Korea.
Salah satu alasannya adalah Korean Wave, yaitu penyebaran budaya populer Korea Selatan yang telah lama berkembang di Indonesia. Remaja hingga orang dewasa menikmati drama dan musik Korea, bahkan banyak yang membeli merchandise bertema artis Korea. Bagi brand, popularitas tersebut membuka akses ke kelompok konsumen yang sudah memiliki ketertarikan terhadap budaya Korea dan para selebritinya.
Keuntungan yang paling terasa adalah meningkatnya brand awareness dalam waktu relatif singkat. Begitu nama artisnya diumumkan, fandom langsung ramai membuat konten, membagikan ulang, dan membicarakannya di media sosial. Citra artis yang sudah dikenal juga dapat membantu brand membangun kesan modern atau premium, bergantung pada karakter selebriti dan produk yang dipromosikan.
Meski demikian, pemilihan artis Korea tidak selalu dianggap relevan untuk semua brand lokal. Dalam industri kecantikan, misalnya, ada yang mempertanyakan relevansi penggunaan artis Korea karena kondisi kulit dan kebutuhan konsumen Indonesia tidak selalu sama dengan konsumen Korea.
Namun, menurut StickEarn, ramainya percakapan mengenai sebuah brand dapat membantu meningkatkan pengenalan publik terhadap produk tersebut. Hal ini terlihat dalam kasus Prenagen. Ketika Ji Chang Wook diumumkan sebagai BA, publik ramai mempertanyakan hubungannya dengan produk susu ibu hamil.
Tetapi, perhatian publik tidak selalu berarti ketertarikan untuk membeli. Brand perlu membedakan antara popularitas kampanye dan dampaknya terhadap keputusan konsumen.
Di sisi lain, strategi ini punya harga. Biaya kontrak artis Korea bisa cukup besar. Selain itu, popularitas BA belum tentu diikuti kedekatan dengan konsumen lokal, terutama jika kampanye hanya berfokus pada sosok selebriti tanpa menjelaskan manfaat produk secara memadai. Efeknya pun bisa berhenti begitu kontrak selesai.
Lalu, seberapa besar pengaruhnya terhadap penjualan?
Sejumlah studi di Indonesia menemukan bahwa Korean Wave dan BA berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Namun, hasil penelitian mengenai hubungan tersebut tidak selalu sama. Studi lain menemukan hasil campuran, dan satu studi menemukan bahwa BA tidak memperkuat hubungan antara fanatisme dan keputusan pembelian.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa popularitas artis Korea dapat membantu menarik perhatian konsumen, tetapi tidak otomatis menjamin peningkatan penjualan. Efektivitasnya tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kesesuaian artis dengan produk, karakter konsumen, dan strategi pemasaran yang dijalankan brand.
Popularitas Artis Bukan Jaminan Penjualan

Menggandeng BA populer sebaiknya menjadi langkah awal untuk menarik perhatian konsumen, bukan tujuan akhir kampanye. Yang menentukan adalah apakah ceritanya relevan dengan produk, apakah kampanyenya konsisten, dan apakah brand tetap dekat dengan komunitas pengguna sehari-hari, seperti dokter, bidan, dan komunitas ibu.
Dalam konteks produk ibu hamil, misalnya, komunikasi brand juga perlu didukung oleh informasi produk yang jelas serta kedekatan dengan pihak yang dipercaya konsumen, seperti dokter, bidan, dan komunitas ibu. Dengan begitu, perhatian yang muncul dari popularitas selebriti bisa diarahkan menjadi kepercayaan terhadap produk.
Sebuah studi tentang idol K-Pop sebagai BA juga menyebut bahwa pemilihan BA yang tepat perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk kepribadian artis dan kualitas produk yang dipromosikan. Selain itu, tidak semua audiens menyambut tren ini dengan antusias.
Dalam penelitian tentang Avoskin, survei awalnya menemukan bahwa 61,5% responden merasa bosan dengan kolaborasi antara merek lokal dan artis Korea. Sementara itu, studi penerimaan khalayak terhadap Azarine menemukan bahwa sebagian penonton khawatir dominasi estetika Korea dapat menggeser perhatian dari nilai dan karakter kecantikan lokal.
Ketergantungan pada selebriti juga membawa risiko. Jika tren bergeser atau BA terkena skandal, brand ikut terdampak. Popularitas seorang selebriti bisa menurun, reputasinya bisa berubah, dan perhatian publik terhadap sosoknya bahkan dapat mengalihkan fokus dari produk yang dipromosikan.
Contohnya adalah kasus Kim Soo-hyun pada 2025. Aktor ini sempat menjadi BA brand kecantikan lokal Y.O.U Beauty sejak 2022. Ketika kontroversi mengenai hubungannya dengan mendiang Kim Sae-ron mencuat, Y.O.U mengumumkan pengakhiran kerja sama pada 1 April 2025, sehari setelah Kim Soo-hyun menggelar konferensi pers.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa reputasi BA dapat memengaruhi hubungan brand dengan konsumennya. Karena itu, strategi pemasaran yang terlalu bergantung pada satu selebriti berisiko membuat brand ikut terdampak ketika muncul masalah yang berkaitan dengan sosok tersebut
Pada akhirnya, BA artis Korea memang berpengaruh karena penggemarnya banyak. Namun, pengaruh tersebut akan lebih berarti jika didukung oleh identitas brand yang kuat, kualitas produk yang baik, dan komunikasi yang . Tanpa itu, BA hanya menjadi iklan yang mahal dan cepat dilupakan.
Kesimpulan

Keputusan Prenagen menggandeng Ji Chang Wook bukan semata-mata soal pengalaman sang aktor sebagai orang tua, melainkan tentang kemampuannya menarik perhatian publik dan membangun percakapan mengenai brand. Dalam kasus ini, BA laki-laki justru menghadirkan percakapan yang tidak akan muncul jika yang dipilih adalah BA perempuan.
Secara lebih luas, efek artis Korea bagi brand Indonesia memang nyata, terutama dalam meningkatkan brand awareness. Namun, bukti mengenai pengaruhnya terhadap penjualan masih beragam. Strategi ini juga memiliki sejumlah risiko, mulai dari biaya kontrak yang tinggi hingga kejenuhan audiens dan persoalan reputasi selebriti, seperti yang terjadi dalam kasus Kim Soo-hyun dan Y.O.U Beauty.
Karena itu, brand sebaiknya menjadikan artis Korea sebagai pintu masuk untuk menarik perhatian konsumen, bukan sebagai fondasi utama strategi. Pengaruh BA paling kuat jika dipadukan dengan nilai brand yang jelas dan kedekatan dengan konsumen sehari-hari.
Bagi Prenagen, tantangan berikutnya adalah mempertahankan perhatian publik setelah kampanye awal mereda. Tanpa nilai brand yang kuat, wajah terkenal hanya akan menjadi iklan yang mahal dan cepat dilupakan.
