Akses dan kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi masih merupakan tantangan besar bagi pendidikan Indonesia.
Menurut pemaparan yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) Suharti, sebanyak 2,92 juta anak Indonesia berusia 7-18 tahun tercatat tidak bersekolah hingga 2025.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 2 juta anak berusia 16-18 tahun.
“Dengan demikian, kelompok usia 16-18 tahun, yakni usia SMA/sederajat, menjadi yang paling rentan putus sekolah, menyumbang sekitar 69 persen dari seluruh anak tidak sekolah,” kata Suharti, dalam keterangan tertulis acara Global Scholarship Summit.
Beasiswa dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung keberlanjutan pendidikan dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Program beasiswa saat ini juga semakin beragam dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, di tengah banyaknya program yang ada, akses terhadap informasi beasiswa masih menjadi tantangan.
Informasi mengenai beasiswa, pembiayaan, hingga jalur pengembangan talenta saat ini masih tersebar di berbagai lembaga, sehingga menyulitkan masyarakat menemukan peluang yang tepat.
Baca juga: RadVoice dan Konsultan Pendidikan Noble Solutions Perkuat Publikasi Edufair Irlandia di Media

Melihat kondisi tersebut, ketersediaan program beasiswa tidak akan berdampak maksimal tanpa adanya kemudahan akses informasi bagi masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi lintas pihak untuk memperluas akses informasi dan memastikan masyarakat lebih mudah menemukan peluang beasiswa yang sesuai dengan kebutuhannya.
Salah satu inisiatif untuk mempermudah akses informasi beasiswa adalah SatuBeasiswa, portal yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Portal ini memungkinkan penyelenggara mempublikasikan informasi beasiswa dan membantu masyarakat menemukan peluang yang tersedia.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menjelaskan bahwa konsep SatuBeasiswa pada dasarnya sederhana, yaitu memudahkan penyelenggara mempublikasikan programnya sekaligus membantu calon penerima menemukan informasi beasiswa yang sesuai.
“Melalui SatuBeasiswa, kami ingin memperlihatkan secara transparan kepada masyarakat bahwa kesempatan itu ada. Jangan sampai putus harapan,” katanya.
Baca juga: RadVoice Menulis Artikel Edisi Spesial Pendidikan untuk The Jakarta Post
Kolaborasi Pemangku Kepentingan untuk Akses Beasiswa yang Lebih Luas

Kemudahan akses informasi merupakan salah satu langkah untuk memperluas kesempatan beasiswa. Namun, upaya ini juga perlu didukung oleh kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan pihak filantropi agar program beasiswa dapat menjangkau lebih banyak masyarakat serta mendukung pengembangan talenta.
Wakil Ketua Bidang Pendidikan & Keterampilan Dewan Pengurus Nasional (DPN), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Jimmy Gani menegaskan pentingnya peran dunia usaha agar pengembangan talenta melalui pendidikan dan beasiswa selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Jimmy berpendapat, kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan lembaga pendidikan diperlukan untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja industri.
“Kita harus membangun satu ekosistem, bukan hanya mempertemukan pemberi kerja dengan pencari kerja, supaya apa yang dipelajari benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan,” ujar Jimmy.
Baca juga: RadVoice Jalin Kerja Sama dengan Edutech Singapura untuk Perluas Narasi Edukasi Global
Memperluas akses beasiswa tidak cukup hanya dengan menambah jumlah program. Masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di daerah dengan akses terbatas, juga perlu mendapatkan informasi yang mudah diakses agar dapat menemukan beasiswa yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Tanpa informasi yang merata dan terintegrasi, berbagai program beasiswa berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat yang membutuhkannya.
Pentingnya kolaborasi untuk memperluas kesempatan pendidikan ini turut menjadi salah satu fokus Forum Beasiswa Indonesia (Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia/AJB) melalui penyelenggaraan Global Scholarship Summit (GSS) 2026.
Acara yang diselenggarakan pada 15 Oktober 2026 ini mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, dunia usaha, filantropi, perguruan tinggi, hingga mitra internasional untuk memperkuat kerja sama pengembangan talenta Indonesia.
Sebagai penghubung antarpemangku kepentingan, AJBI mendorong terbentuknya ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem beasiswa dan memperluas kesempatan pendidikan di Indonesia.
“Beasiswa perlu dimaknai secara holistik, lifelong learning atau belajar sepanjang hayat, tidak hanya berbicara akademis namun juga pembelajaran non-akademis,” ujar Ketua Dewan Kehormatan AJBI, Fasli Jalal.
Baca juga: RadVoice dan Konsultan Pendidikan Noble Solutions Perkuat Publikasi Edufair Irlandia di Media
Melalui sinergi lintas sektor ini, perluasan akses beasiswa diharapkan tidak hanya membuka lebih banyak kesempatan untuk menempuh pendidikan, tetapi juga memastikan informasi mengenai peluang tersebut lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Dengan akses informasi yang lebih baik dan program yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja, beasiswa diharapkan dapat turut mendukung pengembangan talenta Indonesia yang siap menghadapi tantangan masa depan.