MOSCOW – Sadar atau tidak, konten yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) belakangan menjadi semakin marak muncul di lini masa media sosial kita.
Penggunaan AI juga semakin meluas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membantu menyelesaikan pekerjaan hingga mencari informasi.
Menurut survei Jakpat (2025) yang dilakukan pada 1.423 masyarakat Indonesia, sebanyak 71 persen responden mengaku familiar dengan teknologi AI. Responden juga menggunakannya untuk pekerjaan, belajar, dan berbagai aktivitas sehari-hari.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 57 persen responden berencana untuk terus menggunakan AI pada masa mendatang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa AI semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat Indonesia. Namun, meningkatnya penggunaan teknologi ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menjaga kualitas dan relevansi konten yang dihasilkan.
Ketergantungan berlebihan terhadap AI dikhawatirkan membuat manusia kehilangan kemandirian dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, penggunaan AI tanpa pemeriksaan yang memadai juga dapat meningkatkan risiko plagiarisme, terutama jika hasilnya digunakan tanpa mencantumkan sumber atau melakukan pengecekan lebih lanjut.
Karena itu, kehadiran AI perlu diimbangi dengan keterlibatan manusia dalam proses pembuatan konten. Teknologi memang dapat membantu menghasilkan materi dalam waktu singkat, tetapi manusia tetap perlu memastikan bahwa konten tersebut sesuai konteks, relevan bagi audiens, dan memiliki tujuan yang jelas.
Di tengah pesatnya adopsi AI dalam industri konten, CEO IONZ Creative, Giri Maulana, dan praktisi komunikasi M. Arditama Febrianza menyoroti pentingnya menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran manusia dalam komunikasi.
Baca juga: Dari Global Digital Forum di Rusia, Bahasa Lokal Jadi Sorotan dalam Pengembangan AI
AI Punya Kecepatan Mengolah Konten, Manusia Membuatnya Jadi Relevan

CEO IONZ Creative, Giri Maulana saat sesi panel Humans Need Humans: Trust in Media in the Age of AI. (Foto oleh Randy Mulyanto/RadVoice)
Dalam wawancara bersama Founder dan CEO RadVoice Indonesia, Randy Mulyanto, di sela-sela acara II Global Digital Forum di Moscow, Giri Maulana menilai AI telah mengubah kecepatan proses pembuatan konten.
“AI menjadi salah satu alat untuk menciptakan konten dan secara kecepatan jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan. Sangat masif, cepat, dan murah,” kata Giri.
Namun, kemampuan AI menghasilkan konten dalam jumlah besar tidak serta-merta menjamin bahwa semua hasilnya relevan bagi audiens. Di sinilah peran manusia tetap dibutuhkan, terutama untuk menentukan konten mana yang layak digunakan.
Ia menjelaskan, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan untuk mempercepat produksi konten sekaligus membantu mengembangkan ide yang sudah dimiliki manusia. Dengan bantuan AI, proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat selesai lebih cepat.
Jika sebelumnya seseorang mungkin hanya bisa menghasilkan dua atau tiga konten dalam sehari, AI dapat membantu menghasilkan ratusan konten dalam hitungan menit. Namun, banyaknya pilihan tersebut justru membuat proses seleksi menjadi semakin penting.
“Sekarang dalam waktu lima menit, kita bisa dapat ratusan konten. Pertanyaannya sekarang bukan lagi seberapa banyak konten yang bisa kita buat, tetapi mana yang relevan dari 100 konten yang telah dibuat oleh AI,” tambah Giri.
Artinya, menentukan konten relevan bagi audiens tidak lagi sebatas menghasilkan materi sebanyak mungkin, tetapi juga memutuskan materi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik audiens. Sebab, manusia memiliki pengetahuan dan pemahaman konteks yang tidak dimiliki data pelatihan AI.
Pada akhirnya, Giri menegaskan bahwa AI hanyalah alat pendukung manusia menghasilkan konten. Tanggung jawab atas hasil akhirnya tetap berada di tangan manusia.
“Responsibility itu terletak pada kita. Kita yang memilih konten yang telah dibuat oleh AI, kita yang menentukan kenapa memilihnya, apa relevansinya, dan bagaimana kita bisa outstanding dari konten-konten yang telah AI buat,” tegas Giri.
Baca juga: Belajar dari Kaspersky, Cara Jurnalis Menulis Berita Cybersecurity yang Relevan bagi Pembaca
Complimenting, Not Replacing: AI Sebagai Pelengkap

Praktisi komunikasi M. Arditama Febrianza dalam wawancara bersama RadVoice di Moscow. (Tangkapan layar dari video Randy Mulyanto/RadVoice)
Jika Giri menyoroti pentingnya peran manusia dalam menyeleksi konten, M. Arditama Febrianza melihat AI sebagai teknologi yang dapat melengkapi kemampuan manusia dalam menjalankan berbagai aktivitas, termasuk komunikasi.
Sebagai praktisi komunikasi, Ardi tidak memandang AI pesaing yang akan menggantikan manusia. Sebaliknya, ia melihat teknologi ini sebagai mitra yang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efektif, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menghadiri acara II Global Digital Forum di Moscow. Selama tiga hari acara tersebut, Ardi menggunakan bantuan AI untuk berdiskusi atau melakukan riset untuk sesi panelnya.
“Di dalam semua penampilan yang kita lakukan di II Global Digital Forum, saya menggunakan wastra lokal dari hari pertama hingga ketiga. Itu semua hasil diskusi dengan AI,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa AI dapat membantu seseorang mengeksplorasi pilihan dan membandingkan berbagai alternatif sebelum mengambil keputusan.
Namun, hasil diskusi dengan AI tidak serta-merta menentukan pilihan akhir. Manusia tetap perlu mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk preferensi, nilai dan perasaan pribadi.
Bagi Ardi, keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia, baik secara rasional maupun emosional. AI dapat membantu proses riset, tetapi manusia yang menentukan pilihan berdasarkan apa yang dianggap paling sesuai.
Prinsip yang sama juga berlaku dalam komunikasi. Menurutnya, teknologi dapat membantu seseorang mempersiapkan materi dan menyusun peta, tetapi interaksi langsung antarmanusia tetap memiliki nilai tersendiri.
Ia percaya pertemuan langsung memiliki energi yang tidak bisa digantikan oleh AI. Karena itu, AI sebaiknya dimanfaatkan untuk membantu mempersiapkan pertemuan, bukan menggantikan interaksi yang terjadi di dalamnya.
“AI tidak bisa menggantikan energi yang ada ketika kita melakukan pertemuan offline. Tapi justru, bagaimana kita menggunakan AI untuk mempersiapkan diri kita ketika mengikuti offline meeting sebelumnya. Jadi kita datang ke lokasi dengan persiapan matang dan amunisi lengkap,” katanya.
Dengan bantuan AI, seseorang dapat melakukan riset tentang lawan bicara, mempelajari konteks pertemuan, dan menyiapkan bahan diskusi sebelum bertemu secara langsung. Persiapan tersebut dapat membantu komunikasi berlangsung lebih efektif sekaligus menunjukkan bahwa kita menghargai waktu dan lawan bicara.
Namun, persiapan yang baik tetap perlu diikuti kemampuan untuk mendengarkan, memahami perspektif orang lain, dan merespons situasi secara tepat. Hal-hal inilah yang membuat sentuhan manusia tetap penting dalam komunikasi.
Ardi pun menegaskan bahwa AI seharusnya membantu manusia melakukan pekerjaannya dengan lebih baik, bukan mengambil alih seluruh proses pengambilan keputusan.
“Jadi, jangan khawatir bagaimana kehadiran AI, bukan untuk menggantikan. Tapi, melengkapi apa yang kita butuhkan. Pada akhirnya, kebijaksanaan masih ada di dalam otak manusia,” ujarnya.
Baca juga: Menjawab Tantangan Kepercayaan Terhadap Informasi di Era AI dalam II Global Digital Forum Moscow
Kesimpulan
Kehadiran AI memberikan peluang untuk membuat proses pembuatan konten dan komunikasi menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, kecepatan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan manusia dalam menilai, memilih, dan memastikan relevansi setiap pesan yang disampaikan.
Pandangan Giri Maulana dan M. Arditama Febrianza menunjukkan bahwa AI dapat membantu proses kerja, mulai dari menghasilkan konten hingga melakukan riset dan mempersiapkan pertemuan.
Meski demikian, manusia tetap memegang peran penting dalam menentukan pilihan, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak komunikasi terhadap orang lain.
Pada akhirnya, hubungan antara AI dan manusia bukanlah tentang siapa yang akan menggantikan siapa, melainkan bagaimana keduanya dapat saling melengkapi.
AI membantu meningkatkan efisiensi, sementara manusia memastikan komunikasi tetap memiliki tujuan, empati, dan relevansi.
Randy Mulyanto menghadiri II Global Digital Forum atas undangan pemerintah Rusia.
