Nila Febrianti dan Strategi Komunikasi Budaya Indonesia di Amerika Serikat

Selama menempuh studi magister di Washington, DC, Nila Febrianti hampir selalu menemukan acara budaya di sekelilingnya. Ibu kota Amerika Serikat itu dipenuhi kedutaan dari berbagai negara, dan setiap kegiatan budaya yang digelar selalu ramai dikunjungi. 

Melihat antusiasme tersebut, Nila ingin ikut mengambil peran dalam memperkenalkan budaya Indonesia. Keinginan itu membawanya bergabung dengan Spotlight Academy, organisasi tari yang mempromosikan dan melestarikan budaya Indonesia di Amerika Serikat. Di sana, ia berperan sebagai Social Media Manager dan Cultural Communication Strategist.

Di Spotlight Academy, Nila belajar bahwa memperkenalkan budaya Indonesia kepada audiens di luar negeri tidak bisa dimulai dengan sekadar membuat konten. Langkah pertama adalah memahami siapa yang ingin diajak bicara dan apa yang mereka butuhkan.

Melalui Spotlight of Indonesia, ia dan tim berfokus pada menjangkau masyarakat lokal di ibu kota Amerika Serikat dan sekitarnya. Menurut Nila, kawasan ini berpotensi menjadi audiens yang tepat karena banyak kegiatan budaya berlangsung di sana.

RadVoice Indonesia berkesempatan berbincang dengan Nila Febrianti tentang cara memahami audiens dan membangun strategi komunikasi untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Amerika Serikat. Simak cerita selengkapnya berikut ini.

Memahami Audiens Sebelum Membuat Konten

Nila menyesuaikan strategi komunikasi budaya melalui monitoring, benchmarking, dan konsistensi konten agar dapat menjangkau audiens lintas generasi. (Foto oleh Spotlight Academy)

Sebagai Social Media Manager dan Cultural Communication Strategist, Nila selalu memastikan pesan yang dibuat oleh Spotlight Academy dapat diterima oleh target audiens. Karena targetnya mencakup masyarakat lokal Amerika Serikat dari berbagai generasi, pendekatan yang digunakan pun terus disesuaikan berdasarkan respons audiens. 

Bagi Nila, pemantauan hasil dan uji coba menjadi cara untuk mengetahui apa yang berhasil.

“Monitoring konten itu penting banget, karena kita tidak akan tahu insight yang kita dapat,” ucap Nila.

Salah satu pembelajaran Nila datang ketika tim mencoba membuat konten yang lebih dekat dengan Gen Z. Setelah melihat respons audiens, ia menyadari bahwa pendekatan tersebut tidak selalu efektif untuk menjangkau semua kelompok usia.

Audiens yang lebih tua, misalnya, cenderung menggunakan Facebook dibandingkan dengan Instagram atau TikTok. Hal ini membuat Nila menyesuaikan strategi konten dengan membuat beberapa pilar, mulai dari edukatif, hiburan, hingga informasi. 

Ia juga mempelajari cara kerja komunitas negara lain yang sudah lebih lama menjalankan kegiatan budaya di Washington, DC. Langkah yang dikenal sebagai benchmarking ini membantu Nila melihat pendekatan apa yang bisa diterapkan. Dari situ, ia melihat bahwa strategi yang sudah dipilih perlu dijalankan secara konsisten. Menjaga konsistensi inilah yang menurut NIla menjadi salah satu tantangan dalam membangun komunikasi budaya.

Menggandeng Mitra untuk Menjangkau Warga Lokal

Kolaborasi dengan komunitas, institusi lokal, dan influencer membantu Spotlight Academy menjangkau audiens baru melalui pihak yang sudah mereka kenal dan percaya. (Foto oleh Nila Febrianti)

Spotlight Academy tidak hanya mengandalkan media sosial, tetapi juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak yang sudah memiliki hubungan dengan masyarakat lokal.

Salah satunya adalah melalui kerja sama dengan Sandy Spring Museum, pusat seni komunitas di Maryland, Amerika Serikat, yang aktif menggelar berbagai kegiatan budaya dan komunitas lokal.

Selain itu, Nila dan timnya juga berkolaborasi dengan komunitas budaya Indonesia lain di Amerika Serikat, seperti Gapura Philly, yang setiap kali ada kegiatan turut mengundang mereka untuk hadir. 

Tidak hanya menunggu undangan kegiatan, Nila juga secara aktif menghubungi influencer yang kontennya membagikan informasi kegiatan dan acara lokal di area Washington, DC, lalu meminta mereka ikut mempromosikan acara Spotlight Academy.

Menurut Nila, kolaborasi dengan influencer dapat membantu Spotlight Academy menjangkau audiens yang lebih spesifik sekaligus membangun kepercayaan publik karena mereka telah memiliki segmentasi dan reputasi masing-masing. 

Bagi audiens yang belum mengenal Spotlight Academy, pesan tentang sebuah program akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh pihak yang sudah mereka kenal atau percaya.”Kita tidak bisa langsung memberi tahu dari mulut kita sendiri, apalagi untuk orang-orang yang belum mengenal kita,” ujarnya.

Merangkai Cerita agar Indonesia Lebih Dekat

Storytelling dan komunikasi berkelanjutan digunakan untuk membangun konteks, ketertarikan, dan hubungan audiens dengan budaya Indonesia. (Foto oleh Nila Febrianti)

Selain menentukan siapa yang ingin dijangkau, Nila juga memikirkan bagaimana Indonesia diperkenalkan melalui konten yang dibuat. Ia tidak hanya ingin menjelaskan budaya Indonesia dalam satu unggahan, tetapi juga mengintegrasikan storytelling. 

Contohnya, ia menyusun beberapa konten yang membentuk sebuah cerita, mulai dari mengenalkan Indonesia, hal-hal yang membuatnya menarik, hingga alasan mengapa audiens perlu mengenalnya. 

Rangkaian cerita ini, menurutnya, membuat audiens tidak mulai dari nol saat mengenal Indonesia, karena mereka sudah punya konteks tentang budaya dan ciri khasnya, termasuk tarian-tariannya.

Karena membangun ketertarikan membutuhkan komunikasi yang berkelanjutan, tim terus berinteraksi dengan audiens melalui media sosial, press release, serta konten edukatif, informatif, dan menghibur. Tujuannya agar audiens tidak hanya datang sekali, tetapi juga tertarik mengikuti kegiatan berikutnya dan mengenal Indonesia lebih jauh.

Mengukur Dampak Komunikasi Budaya

Keberhasilan acara dan konten digital menunjukkan bahwa jangkauan, konsistensi pesan, dan call to action sama-sama penting dalam menarik audiens baru. (Foto oleh Nila Febrianti)

Salah satu bukti keberhasilan pendekatan Nila terlihat saat acara “Spotlight of Indonesia” bersama Sandy Spring Museum berhasil menjual 90 tiket atau memenuhi 100% kapasitas. Menurut Nila, pencapaian itu tidak berasal dari satu strategi saja.

Selain kolaborasi dengan museum dan influencer, keaktifan akun media sosial juga membantu. Menurut Nila, calon penonton yang mencari tahu tentang Spotlight Academy lewat media sosial akan melihat bahwa komunitas ini aktif berkegiatan, sehingga lebih yakin untuk datang. 

Menariknya, banyak audiens yang hadir merupakan masyarakat lokal, bukan orang Indonesia. Hal inilah yang membuat Nila merasa senang karena acara tersebut berhasil menjangkau target audiens yang lebih luas. Dari sisi konten digital, salah satu konten bersama influencer mencapai sekitar 17.000 penonton. Namun, bagi Nila, jumlah tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. 

Nila tetap memastikan pesan yang disampaikan berkaitan dengan Spotlight Academy dan budaya Indonesia, sehingga audiens tidak hanya melihat konten, tetapi juga mengetahui apa yang ditawarkan oleh komunitasnya. Menurutnya, konten yang bagus belum cukup jika tidak diikuti dengan ajakan untuk melakukan langkah selanjutnya atau call to action.

Kesimpulan

Memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri membutuhkan pemahaman audiens, kolaborasi, dan storytelling agar budaya tidak hanya dikenal, tetapi juga dipahami. (Foto oleh Nila Febrianti)

Dari pengalaman Nila, memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri bukan pekerjaan sekali jalan. Prosesnya dimulai dengan memahami siapa audiensnya, dilanjutkan dengan menggandeng pihak yang sudah dipercaya masyarakat setempat, lalu merangkai cerita agar budaya terasa dekat dan bermakna.

Keberhasilannya pun tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang melihat konten atau menghadiri acara. Bagi Nila, yang terpenting adalah budaya Indonesia tidak sekadar dikenal, tetapi juga dipahami.

Wawancara dengan Nila Febrianti dilakukan pada 2 Oktober 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.