Menjadi content creator kini menjadi salah satu profesi yang banyak diminati. Namun, di balik konten yang terlihat sederhana di media sosial, ada proses riset, penyusunan konsep, hingga pengambilan gambar yang menyita waktu.
Hal itu yang dirasakan content creator asal Yogyakarta, Dian Naren. Kepada RadVoice Indonesia, ia menceritakan kisahnya dari awal membuat konten hingga kini mendapatkan banyak tawaran endorse setiap bulannya.
Menjadi seorang content creator bukan berarti sekadar membuat konten lalu diunggah ke media sosial. Ada banyak pertimbangan di dalamnya, terutama jika Anda ingin dilirik oleh brand.
Seperti apa tipsnya agar Anda bisa mendapatkan kerjasama dengan brand? Simak wawancaranya berikut ini.
Proses di Balik Pembuatan Konten

Latar belakang sebagai jurnalis remote AyoBandung, membuatnya terbiasa melakukan wawancara. (Foto oleh Dian Naren)
Sebelum berkunjung ke suatu lokasi, Naren selalu melakukan riset untuk mencari referensi dan menentukan sudut pandang konten yang akan ia buat.
Dalam kunjungannya, Naren juga melakukan wawancara dengan pemilik tempat untuk mendapatkan lebih banyak informasi yang akan dibagikan kepada audiens. Kemampuan melakukan wawancara ini tidak lepas dari latar belakang Naren yang juga jurnalis remote AyoBandung.
“Biasanya saat visit, aku wawancara sama owner-nya dulu. Apa keunggulan dari produk atau brand yang mau dibuat konten. Apa yang jadi pembeda antara produk dari brand ini dengan produk dari brand lainnya,” kata dia.
Menurut Naren, tahapan mengenal brand ini sangat penting untuk mencari hook atau pemancing di tiga detik pertama video.
Dari hasil wawancara, Naren kemudian mencari hook atau kalimat pembuka yang mampu menarik perhatian penonton dalam tiga detik pertama video.
Menurutnya, bagian ini memiliki menjadi penentu apakah audiens akan terus menonton atau langsung menggulir layar ke konten lain.
Naren juga menyiapkan script untuk konten yang akan ia buat. Tujuannya agar memudahkan proses shooting dan editing.
“Biasanya aku bikin script untuk alur ceritanya. Jadi saat melakukan take konten bisa disesuaikan angle dan durasinya,” kata wanita yang akrab disapa Naren.
Alur yang tepat juga sangat penting untuk sebuah konten. Sebab, hal ini akan sangat mempengaruhi ketertarikan audiens.
Setelah melakukan riset, wawancara, dan penyusuna konsep selesai, Naren mulai mengambil gambar sesuai dengan alur yang sudah disiapkan.
Baca juga: Ingin Menjadi Voice Actor? Simak Pengalaman Ratu Neysa Memulainya
Tak Sekadar Jalan-Jalan, Content Creator Juga Punya Momen Sulitnya Sendiri
Meski sudah menyiapkan proses pembuatan konten dengan matang, Naren mengaku tetap menghadapi berbagai tantangan saat bekerja di lapangan.
Salah satu kendala yang paling sering ia hadapi adalah ketika pemilik usaha tidak berada di lokasi. Akibatnya, informasi yang diperoleh hanya berasal dari karyawan yang belum tentu memahami detail produk atau layanan yang ditawarkan.
“Biasanya karyawannya bingung. Owner-nya juga enggak ada di lokasi. Jadi, kurang maksimal hasilnya,” ungkap Naren.
Selain kendala di lapangan, naren juga menilai semakin banyak brand yang menawarkan kerja sama dalam bentuk barter dibandingkan pembayaran dalam bentuk uang. Artinya, content creator memperoleh produk atau layanan sebagai imbalan, bukan honor.
Menurutnya, sistem tersebut bukan masalah bagi sebagian content creator. Namun, secara pribadi ia akan menolak jika biaya operasional yang dikeluarkan lebih besar dari manfaat yang diperoleh.
Alasannya, saat tiba di lokasi untuk membuat konten, sering kali membutuhkan biaya transportasi. Jika biaya transportasi itu bahkan tidak bisa tertutupi, maka ia merasa tidak mendapatkan keuntungan. Terlebih jika lokasi pengambilan konten cukup jauh sehingga biaya operasional ikut meningkat.
Faktor lain yang tidak bisa dikendalikan adalah kondisi cuaca, terutama jika membuat konten di alam terbuka.
“Misal aku mau nge-trip. Kadang situasi alamnya enggak bisa terkondisi, kayak tiba-tiba gunungnya tertutup kabut atau pas ngonten di outdoor malah mendung,” kata Naren.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Naren tetap konsisten membuat konten. Baginya proses itu menjadi bagian dari perjalanan hingga kini ia rutin menerima tawaran endorse dari berbagai brand.
Baca juga: Bukan Pamer Pencapaian, Begini Cara Timothy Warokka Membangun Personal Branding di LinkedIn
Pesan Penting untuk Content Creator Pemula

Naren juga membagikan satu tips bagi content creator pemula, yakni penting untuk menjaga koneksi dengan sesama pembuat konten. (Foto oleh Dian Naren)
Menurut Naren, hal yang harus dimiliki oleh setiap content creator adalah rasa berani untuk memulai. Naren mengatakan keberanian untukmulai berkarya jauh lebih penting daripada terus memikirkan penilaian orang lain.
“Kata orang-orang ‘fake it until you make it’. Enggak usah peduli orang yang awal-awal nyinyir. Percaya diri saja ngonten di tempat umum,” ujar dia.
Setelah berani memulai, langkah berikutnya adalah menjaga konsistensi. Jika membuat konten maka portofolio akan terbangun. Brand pun akan mulai tertarik untuk mengajak kerja sama .
“Nanti kalau sudah konsisten sebulan, dan portofolio mulai kebangun, biasanya brand endorse datang sendiri kok,” kata Naren menambahkan.
Ia mengungkapkan mulai konsisten membuat konten pada Januari 2026. Sebulan kemudian, mulai ada brand yang mau membayar dirinya sebesar Rp100 ribu.
“Alhamdulilah sampai sekarang tiap bulan mengalir job tawaran ngonten,” tuturnya.
Selain konsistensi dalam membuat konten, Naren juga menilai, menjaga koneksi dengan sesama pembuat konten tidak kalah penting.
Mengikuti komunitas akan membantu untuk meningkatkan koneksi sekaligus membuka peluang mendapatkan klien baru.
“Misal temanmu dapat tawaran nge-job nih. Nah, biasanya kan cari teman buat jadi pemeran figurannya. Setelah campaign temanmu selesai, kamu bisa pitching buat dirimu sendiri,” kata Naren.
Kesimpulan
Pengalaman Naren menunjukkan bahwa menjadi content creator tidak sekadar membuat konten lalu diunggah ke media sosial dan berharap orang lain menontonnya.
Membuat konten membutuhkan persiapan yang matang termasuk riset, mendapatkan informasi yang lengkap dan alur penyampaian yang jelas.
Meski banyak tantangan akan ditemui, jika tetap konsisten dann mau terus belajar membuat konten menarik, tidak menutup kemungkinan akan muncul tawaran dan peluang kerja sama dengan brand.
Tak kalah penting, membangun relasi dengan komunitas content creator di domisili masing-masing sebagai cara menjaga koneksi dan membuka peluang pekerjaan lainnya.
Wawancara dengan Dian Naren dilakukan pada 24 Juli 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.