Fenomena deinfluencing menjadi angin segar di tengah budaya konsumtif masyarakat digital.
Sebab, adanya deinfluencing ini mendorong masyarakat untuk tidak terlalu mudah mengeluarkan uang untuk belanja.
Lantas, apa sih sebenarnya deinfluencing itu? Sejauh apa pengaruhnya kepada perusahaan?
Tim RadVoice akan membahas lebih dalam tentang fenomena tersebut di dalam artikel ini.
Apa Itu Deinfluencing?

Influencer bisa memengaruhi orang lain baik secara langsung atau tidak langsung. (Foto oleh Magnific)
Singkatnya, seorang influencer atau pemengaruh adalah sosok di media sosial yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu, termasuk membeli produk.
Istilah influencer mungkin bukan kata yang asing bagi Anda yang setiap harinya berkutat dengan internet.
Kini, muncul istilah deinfluencing yang merupakan memiliki kegiatan berkebalikan dengan seorang pemengaruh.
Dirangkum dari artikel “The dawn of ‘deinfluencing’ as a vehicle for moral responsibility and anti-consumption” dalam jurnal Journal of Business Research 202 (2026), fenomena ini bisa dipahami sebagai aktivitas merekomendasikan orang agar tidak membeli produk.
Aktivitas deinfluencing berarti seseorang memberikan review terhadap suatu produk dan menunjukkan alasan kenapa barang itu sebaiknya tidak dibeli.
Tujuan dari tren ini adalah supaya para konsumen tidak membeli barang yang tidak perlu atau produk dengan harga overprice.
Baca juga: Mengapa Komunitas Semakin Populer? Memahami Fenomena Orang Berkumpul karena Hobi
Deinfluencing di Tengah Konsumerisme

Fenomena deinfluencing muncul di tengah perilaku konsumtif. (Foto oleh Magnific)
Tidak sedikit orang yang saat ini lebih memilih membeli barang online daripada datang langsung ke toko. Selain lebih praktis, belanja online bisa lebih murah dan memiliki banyak pilihan.
Namun, sudah jadi rahasia umum jika barang yang dibeli secara online sering kali memiliki kualitas yang tidak sesuai klaim penjual.
Akhirnya, para calon konsumen mencari review yang biasanya bermunculan di kolom komentar e-commerce, hingga media sosial seperti TikTok atau Instagram.
Walaupun demikian, deretan review produk itu belum tentu sesuai ketika barang aslinya sampai di tangan konsumen.
Hal ini pun memunculkan rasa kecewa karena ternyata review yang beredar tidak sesuai dengan produk aslinya.
Prasangka buruk pun muncul, seperti rasa curiga kalau review yang ada di media sosial ataupun kolom komentar tidak jujur.
Perlahan, review di media sosial tidak lagi dipercaya. Komentar influencer pun tidak lagi dijadikan pedoman utama untuk membeli suatu produk online.
Fenomena deinfluencing akhirnya muncul di tengah perilaku konsumtif masyarakat digital.
Mulai muncul deinfluencer atau orang yang memberikan alasan untuk tidak membeli suatu produk.
Pembuat konten tersebut akan memberikan saran realistis kepada konsumen. Bahkan, di TikTok konten semacam ini memiliki tagar sendiri yakni #deinfluencing.
Dikutip dari detik.com, melalui tagar ini, para kreator membuat konten soal produk yang ternyata tidak seefektif diklankan oleh influencer.
Baca juga: AI Mengubah Cara Kerja PR, Ini yang Harus Dilakukan Praktisi agar Tetap Relevan
Deinfluencing Bikin Konsumen Lebih Bijak
Belanja online bisa dilakukan dengan sangat mudah. Tidak perlu keluar rumah, cukup melalui ponsel, dan transaksi bisa dilakukan kapan saja.
Tidak heran jika aktivitas ini mendorong orang untuk belanja terus tanpa berpikir panjang. Tiba-tiba saldo menipis padahal masih tengah bulan.
Hadirnya tren deinfluencing membuat konsumen menjadi lebih bijak dalam belanja. Sebab, ternyata barang yang tadinya ingin dibeli belum tentu memiliki kualitas baik setelah di-review.
Tren ini juga mendorong agar calon konsumen bisa memilih barang yang harus segera dibeli atau bisa ditunda dulu.
Secara keuangan, tren ini tentunya akan sangat membantu Anda yang memiliki kecenderungan belanja tanpa pikir panjang.
Fenomena ini juga berdampak luas yakni mengurangi limbah. Sebab, jika produk yang dikonsumsi berkurang maka jumlah sampah pun ikut turun.
Tapi Deinfluencing Bisa Jadi Salah Kaprah

Influencer bisa salah kaprah tentang konten deinfluencing. (Foto oleh Magnific)
Tujuan utama deinfluencing adalah supaya calon konsumen memikirkan kembali sebelum membeli suatu produk.
Berbagai pertimbangan pun dimunculkan, seperti kualitas produk, urgensi, hingga kecocokan barang pada tiap individu.
Namun, di satu sisi, fenomena ini bisa salah kaprah jika tujuannya semata-mata menjelekkan suatu produk atau brand.
Dikutip dari Center for Digital Society, di Indonesia fenomena ini malah kerap menjadi sarana influencer untuk membongkar produk yang tidak cocok untuk mereka.
Padahal, tentu setiap barang tidak selalu cocok untuk semua orang. Apalagi dalam hal produk perawatan kulit yang akan bereaksi berbeda di setiap individu.
Ujungnya, influencer yang salah kaprah itu malah merekomendasikan produk lain yang lebih cocok bagi mereka.
Tujuan utama supaya calon konsumen tidak impulsif pun tidak tercapai karena pada akhirnya ada dorongan untuk membeli produk lain.
Akhirnya, kesalahpahaman terhadap fenomena deinfluencing bisa merugikan suatu brand sekaligus konsumen.
Baca juga: 5 Cara Membuat Company Profile yang Menarik
Apa yang Harus Dilakukan Brand?
Masih di dalam penelitian yang dimuat Journal of Business Research 202, calon konsumen merasa konten deinfluencing membuat mereka menjadi pembeli yang bertanggung jawab.
Konten deinfluencing membantu para calon konsumen memutuskan membeli atau tidak suatu produk.
Hal ini berarti citra sebuah produk atau brand bisa sangat berubah di mata konsumen akibat konten deinfluencing.
Fakta ini pun harus ditanggapi serius oleh brand supaya tidak berpengaruh buruk pada penjualan.
Adanya fenomena ini mendorong brand untuk memberikan kualitas terbaik dalam setiap produknya agar tidak mudah tersingkir.
Geser fokus bukan semata-mata membangun promosi, tapi membuat produk yang berkualitas.
Selain itu, klaim yang diberikan terhadap suatu produk harus sesuai aslinya tanpa ada overclaim.
Sebab, para calon konsumen sudah semakin kritis sebelum mereka membeli suatu barang.
Jika ada konten deinfluencing memberi kritik, maka brand harus menjawab dengan responsif, bukan defensif.
Artinya, kritik harus dijawab dengan data atau menawarkan solusi konkret untuk konsumen.
Kesimpulan
Fenomena deinfluencing bisa mengurangi perilaku konsumtif masyarakat digital di tengah perekonomian yang bergerak begitu cepat.
Namun, konsumen harus bisa membedakan konten yang memang bertujuan mengajak mereka berpikir kritis, atau sengaja dibuat untuk menjelekkan suatu produk.
Di satu sisi, brand harus menanggapi fenomena deinfluencing dengan bijak dan mengutamakan citra produk.
Hindari menjawab kritik dengan reaktif atau defensif, tetapi lebih responsif serta memberikan bukti atau solusi konkret.
Jika brand Anda ingin membangun komunikasi yang lebih bermakna dan menciptakan hubungan yang bertahan lebih lama dengan audiens, tim RadVoice siap membantu kebutuhan bisnis Anda.
