Cara Anak Muda Membaca Dunia Dengan Satu Scroll

Sebagai Gen Z, saya menyaksikan bagaimana cara mengakses berita berubah dalam sekitar dua dekade terakhir. 

Saat kecil, saya membaca koran bersama ayah, lalu beralih ke berita di televisi, YouTube, dan situs berita. 

Kini, cukup membuka media sosial dan menggulir layar beberapa kali, saya sudah mengetahui apa yang sedang terjadi di Indonesia maupun di dunia.

Begitulah cara banyak anak muda mengonsumsi berita saat ini. Informasi tidak lagi harus dicari secara khusus, tetapi hadir di sela-sela konten hiburan, unggahan teman, dan video pendek yang muncul di media sosial.

Dalam blog kali ini, RadVoice Indonesia akan membahas bagaimana kebiasaan konsumsi berita anak muda berubah, mengapa media sosial menjadi sumber informasi utama, serta apa dampaknya terhadap cara kita memahami dunia.

Baca juga: 5+ Cara Meraih Earned Media, Salah Satunya Manfaatkan SEO!

Berita Tidak Lagi Dicari, Tetapi Ditemukan 

Sekarang, media sosial bukan sekedar tempat hiburan, tetapi juga ruang untuk memperoleh berita. (Semua foto oleh Pexels)

Jika sebelumnya orang harus membuka portal berita atau aplikasi khusus untuk mengetahui informasi terbaru, kini berita justru muncul saat mereka sedang menggunakan media sosial.

Laporan Reuters Institute for the Study of Journalism tahun 2026, yang menganalisis kebiasaan konsumsi berita di 48 negara selama lebih dari satu dekade, menunjukkan pergeseran dari online-first ke social-first

Pada 2015, sekitar 36% anak muda berusia 18 sampai 24 tahun masih mengandalkan website dan aplikasi berita sebagai sumber informasi utama. 10 tahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 24%, sementara media sosial menjadi sumber berita utama bagi 39% anak muda.

Perubahan ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ruang untuk memperoleh informasi. Dari berbagai platform, TikTok dan Instagram menjadi media sosial yang paling dominan. 

TikTok dan Instagram Jadi Sumber Berita

Berita tidak lagi harus dicari secara aktif melalui website atau aplikasi berita. Sebaliknya, informasi muncul di antara video hiburan, unggahan kreator, dan konten dari teman.

Media sosial kini menjadi salah satu tempat utama Gen Z mendapatkan informasi. 

Berdasarkan data yang dikutip dari Good Stats, 32,3% Gen Z menggunakan TikTok untuk mengonsumsi berita, sementara 30,8% memilih Instagram.

Popularitas kedua platform ini tidak terlepas dari format kontennya yang singkat, visual, dan didukung oleh algoritma rekomendasi.

Berita tidak lagi harus dicari secara aktif melalui website atau aplikasi berita. Sebaliknya, informasi muncul di antara video hiburan, unggahan kreator, dan konten dari teman.

Banyak anak muda menemukan berita saat sedang menonton video, menggulir unggahan, atau mengikuti kreator favorit mereka.

Dalam dunia jurnalisme, kebiasaan ini dikenal sebagai incidental news consumption, yaitu ketika seseorang memperoleh berita tanpa sengaja mencarinya.

Menurut penelitian yang dimuat dalam jurnal INJECT (2025), incidental news consumption dapat menjadi pemicu bagi seseorang untuk secara sadar mencari informasi lebih lanjut. 

Hal ini menunjukkan bahwa anak muda tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga sering terdorong untuk menggali lebih dalam atau terjatuh ke rabbit hole, memverifikasi fakta, dan mencari perspektif tambahan mengenai isu yang mereka temui.

Menurut Reuters Institute, 47% anak muda berusia 18 sampai 24 tahun menggunakan TikTok setiap minggu. Rata-rata, mereka menggunakan empat sampai enam platform digital setiap minggu, lebih banyak dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua yang menggunakan sekitar tiga platform. 

Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak bergantung pada satu platform untuk memperoleh informasi, tetapi berpindah-pindah sesuai kebutuhan dan kebiasaan mereka.

Baca juga: Konten Zero-Click: Ketika Audiens Tidak Lagi Perlu Membuka Link

Kesimpulan

Perubahan cara Gen Z mengonsumsi berita menunjukkan bahwa media sosial telah berkembang menjadi salah satu ruang utama untuk menemukan informasi.

Berita tidak lagi hanya diakses melalui situs atau aplikasi berita, tetapi juga hadir di antara konten hiburan dan unggahan sehari-hari.

Meski banyak informasi ditemukan secara tidak sengaja, hal itu tidak selalu membuat anak muda menjadi konsumen berita yang pasif.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan awal di media sosial sering kali mendorong mereka untuk mencari informasi lebih lanjut, memverifikasi fakta, dan membandingkan berbagai sudut pandang.

Di tengah kebiasaan Gen Z yang menggunakan beberapa platform digital sekaligus, tantangan bagi media bukan lagi sekadar menyajikan berita, tetapi juga menghadirkannya dalam format yang mudah ditemukan, relevan, dan tetap dapat dipercaya di ruang digital.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.