Cerita Syahidah Asma Tentang Bertahan, Berkarya, dan Menjadi Ilustrator di Era AI

Saat ini membuat gambar tidak lagi membutuhkan kemampuan menggambar. Dengan bantuan AI, visual dapat dihasilkan hanya dalam hitungan detik melalui beberapa baris prompt.

Teknologi ini membuka banyak kemungkinan baru, tetapi juga menghadirkan pertanyaan yang semakin sering muncul di kalangan pekerja kreatif: apa yang membuat seorang ilustrator tetap relevan ketika siapa pun bisa membuat gambar?

Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. UNESCO dalam berbagai diskusinya mengenai AI dan sektor kreatif menyoroti bagaimana perkembangan teknologi ini turut memunculkan tantangan baru terkait hak kreator, penggunaan karya untuk melatih model AI, hingga masa depan profesi kreatif di seluruh dunia.

Bagi Syahidah Asma atau yang lebih dikenal sebagai @sulkycatz, kehadiran AI cukup menantang sekaligus menghadirkan berbagai refleksi. Untuk kembali mempertanyakan apa yang membuat sebuah karya benar-benar bernilai.

Baca juga: Bagaimana Peran Pendidik Bergeser di Era ChatGPT Menurut Johan Purnama

Dari Doodle di Kertas Ujian hingga Menemukan Dunia Ilustrasi

Ketertarikan Syahidah atau Ida sapaan dekatnya, terhadap ilustrasi berawal dari kebiasaan yang mungkin terdengar akrab bagi banyak orang: menggambar di sela-sela aktivitas sekolah.

Ia menghabiskan banyak waktu untuk membuat doodle di kertas ujian, papan tulis kelas, hingga pintu kamar. Beranjak dewasa, kebiasaan tersebut berkembang menjadi minat yang lebih serius terhadap dunia seni dan desain.

Melanjutkan studi di jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya.

Ida memulai perjalanannya sebagai ilustrator dari kebiasaan kecil. (Semua foto oleh @sulkycatz)

Di sana, ia mulai menyadari bahwa ilustrasi bukan sekadar hobi, melainkan bidang yang benar-benar ingin ia tekuni. “Aku jadi discover kalau minat dan fokus aku ke ilustrasi dan sadar kalau ini dunia yang ingin aku jalani,” ujarnya.

Namun menjadi ilustrator ternyata tidak berhenti pada kemampuan menggambar. Seiring bertambahnya pengalaman, Ida menyadari bahwa tantangan berikutnya adalah menemukan identitas visual yang terasa autentik dan mampu merepresentasikan dirinya sebagai ilustrator.

Baca juga: Di Tengah Ramainya Tren Membaca, Sheilla Njoto Memilih Merawat Rasa Ingin Tahu

Mencari Gaya Visual sebagai Identitas

Sejak Ida memulai kariernya, internet sudah dipenuhi jutaan gambar setiap hari sehingga membangun identitas visual menjadi proses yang tidak kalah penting dibanding mengasah kemampuan teknis.

Bagi Ida, proses tersebut dimulai dari memperluas referensi, mengamati karya seniman lain, hingga mengenali dirinya sendiri lebih dalam. 

Selama proses ini Ida menyadari bahwa ternyata gaya visual lahir dari pemahaman terhadap pesan yang ingin disampaikan melalui karya, bukan sekadar pilihan warna atau bentuk gambar tertentu.

“Saat aku sudah tau pesan apa yang ingin aku bawa di dalam karya aku, aku jadi lebih mudah menciptakan yang mewakili diri dan suara aku sendiri,” sampainya.

Salah satu koleksi dari @sulkycatz

Meski begitu, ia mengakui bahwa pencarian tersebut masih terus berlangsung hingga hari ini. Apalagi, menurutnya, ketika AI sudah digunakan dalam sebagian besar pembuatan karya, identitas visual menjadi salah satu tanggung jawab dan nilai jual kepada audiens. 

“Aku percaya sebenarnya, karya orisinal seorang ilustrator itu pasti punya nilai jual lebih daripada hasil AI karena ada proses kreatif dan perspektif di dalamnya.”

Ketika AI Mengubah Cara Orang Menghargai Karya Kreatif

Dengan AI, kini visual yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk dibuat dapat dihasilkan hanya dalam beberapa detik.

Bagi Ida, perubahan ini tidak bisa dipisahkan dari berbagai pertanyaan etis yang muncul di baliknya. Salah satu hal yang paling mengganggunya adalah praktik penggunaan karya seniman tanpa izin untuk melatih sistem AI.

“Tentu ada perasaan tidak senang akan hal tersebut. Di belakang hasil AI generative image, pasti masih ada manusia yang melakukannya.”

Menurutnya, permasalahan utama bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Ketika karya seniman dipakai tanpa persetujuan atau penghargaan yang layak terhadap penciptanya, muncul kekhawatiran bahwa proses kreatif manusia semakin dianggap tidak penting.

Ida dalam salah satu bazaar untuk mempromosikan karyanya.

Keresahan tersebut juga semakin terasa ketika semakin banyak individu, brand, hingga institusi mulai memilih menggunakan AI dibanding bekerja sama dengan ilustrator atau desainer. Pilihan yang sebelumnya mengarah pada jasa kreatif manusia kini sering digantikan oleh langganan platform AI yang dinilai lebih cepat dan murah.

Meski demikian, Ida memilih untuk tidak terjebak dalam ketakutan tersebut. “Kalau berhenti karena ragu bersaing sama AI itu tidak akan mengubah apapun. Lebih baik sebagai ilustrator aku fokus berkarya, bikin desain yang memang orisinal dari proses kreatifku.”

Baca juga: Kehabisan Ide hingga Atur Waktu, Ini Tantangan Jadi Content Creator Menurut Rizka Annisa

Orisinalitas di Tengah Internet yang Serba Repetitif

Di luar AI, tantangan lain yang dihadapi ilustrator datang dari kultur internet itu sendiri. Algoritma media sosial sering kali mendorong kreator untuk mengikuti tren yang sedang ramai demi menjangkau lebih banyak audiens.

Situasi ini membuat banyak visual terlihat serupa satu sama lain. Ketika tren bergerak semakin cepat, batas antara inspirasi, adaptasi, dan imitasi menjadi semakin tipis.

Ida memahami bahwa internet memang dapat membuat proses menjadi orisinal terasa lebih sulit. Namun menurutnya, ilustrator tetap memiliki pilihan untuk mempertahankan sudut pandang yang unik.

“Kalau kita memang dari awal punya tujuan untuk menjadi orisinal, aku rasa keyakinan tersebut bisa terus dipertahankan dan bahkan menciptakan tren-tren baru sendiri.”

Ia juga membedakan antara terinspirasi dan sekadar meniru. Baginya, inspirasi tidak berhenti pada bentuk visual yang terlihat di permukaan. Inspirasi berarti memahami proses, perjalanan, dan cara berpikir seseorang dalam menciptakan karya, lalu merefleksikannya ke dalam praktik kreatif sendiri.

Baca juga: Cerita Penerjemah Arsip Fina Andriani Menjaga Makna Sejarah

Kejujuran yang Tidak Bisa Direplikasi

Perkembangan AI sering memunculkan kekhawatiran bahwa kreativitas manusia akan semakin tergeser. Namun berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa teknologi dan kreativitas manusia kemungkinan akan berjalan berdampingan.

Salah satunya dalam publikasi oleh Fast Company, Kevin Swanepoel menulis bahwa AI mungkin mampu menghasilkan visual dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat mereplikasi kemampuan manusia untuk bercerita, menangkap emosi, memahami konteks budaya, atau menciptakan karya yang benar-benar terasa orisinal.

Pandangan tersebut selaras dengan cara Ida memaknai orisinalitas hari ini. Di tengah internet yang dipenuhi referensi visual, tren yang terus berganti, dan teknologi yang mampu meniru berbagai gaya ilustrasi, ia percaya bahwa orisinalitas masih memiliki tempat.

Salah satu karya dari @sulkycatz kolaborasi dengan merek makeup YOU Beauty.

“Orisinalitas itu masih ada dan kehadirannya sangat penting agar sebagai ilustrator, kita bisa terus jujur dalam berkarya,” katanya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar ilustrator di era AI mungkin bukan soal bersaing dengan teknologi yang semakin canggih. Tantangan sesungguhnya adalah tetap menjaga identitas, suara, dan kejujuran dalam berkarya ketika teknologi terus bergerak semakin cepat.

Wawancara dengan Syahidah Asma Amania dilakukan pada 3 Juni 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.