Cerita Penerjemah Arsip Fina Andriani Menjaga Makna Sejarah

penerjemah arsip

Bagi sebagian orang, profesi penerjemah arsip mungkin terdengar seperti pekerjaan memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain.

Namun bagi Fina Andriani, CPNS Penerjemah Ahli Pertama di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), arti pekerjaan penerjemah jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

Fina sehari-hari berhadapan dengan dokumen lama yang rapuh, tulisan tangan yang memudar, hingga istilah birokrasi yang sudah tidak lagi lazim.

Di titik itu, menerjemahkan bukan lagi soal membuat kalimat terdengar indah, melainkan menjaga agar arsip tetap berbicara sebagaimana adanya.

“Arsip lahir sebagai rekaman dari suatu peristiwa atau transaksi, bukan untuk berkomunikasi langsung seperti buku,” cerita Fina kepada RadVoice.

Karena itu, saat menerjemahkan, ia tidak memosisikan diri sebagai penafsir atau “penulis kedua”. Ia justru memilih menjadi medium yang setransparan mungkin.

“Saya memposisikan diri layaknya lensa kamera yang menangkap rekaman tersebut apa adanya, lalu memindahkannya ke bahasa lain tanpa intervensi perspektif personal,” kata Fina.

penerjemah arsip
Sebagai penerjemah arsip, Fina sehari-hari berhadapan dengan dokumen lama yang rapuh, tulisan tangan yang memudar. (Semua foto oleh Fina Andriani)

Bukan Menulis Ulang, Melainkan Menjaga Rekaman

Cara pandang ini membuat Fina melihat penerjemahan arsip secara berbeda dari penerjemahan pada umumnya. Dalam banyak dokumen yang ia tangani, hampir tidak ada ruang untuk bermain dengan gaya bahasa.

Sebagian besar arsip, menurutnya, adalah dokumen fungsional: buku rekening, catatan kepegawaian, hingga laporan administratif. Yang penting dari dokumen-dokumen tersebut bukan keindahan kalimatnya, melainkan ketepatan data dan konteks.

“Pembaca tidak membutuhkan kalimat yang mengalir dari sebuah laporan keuangan. Mereka butuh kejelasan tentang apa yang tercatat dan dalam konteks apa,” jelasnya.

Karena itu, relevansi terjemahan bagi pembaca masa kini tidak datang dari bahasa yang dipermudah, melainkan dari presisi informasi. Jika ada istilah kuno yang sudah tidak lazim, Fina memilih mempertahankannya di teks utama.

“Tugas saya bukan membuat teks jadi indah, tapi menjaga konsistensi istilah agar rekaman administratif tetap valid,” ujarnya.

Penjelasan tambahan, jika diperlukan, diberikan melalui catatan kaki atau glosarium tanpa mengubah struktur asli dokumen.

Baca juga: Cerita Pustakawan Diona Septia: Mengelola Emosi, Informasi, dan Ekspektasi Publik

Saat Dokumen Tak Lagi Utuh

Tantangan terbesar dalam pekerjaan Fina justru sering datang bukan dari bahasa, melainkan dari kondisi fisik dokumen itu sendiri.

Ia kerap berhadapan dengan kertas yang sudah rapuh, berlubang, atau tulisan tangan kuno yang sulit dibaca. Dalam kondisi seperti itu, struktur kalimat aslinya pun kadang tidak bisa dipertahankan sepenuhnya.

“Saya sering menemukan bagian yang sudah memudar atau bahkan hilang, jadi bukan hanya menerjemahkan, tapi juga memastikan apa yang sebenarnya tertulis,” katanya.

Alih-alih menebak, Fina memilih melakukan riset komparatif dengan dokumen lain dari periode yang sama untuk memahami pola bahasa yang digunakan.

“Kalau memang ada bagian yang tidak terbaca, saya lebih memilih memberi keterangan teknis daripada memaksakan interpretasi,” ujarnya.

Baginya, menjaga integritas dokumen jauh lebih penting daripada menghasilkan terjemahan yang terdengar lancar.

Menjaga Objektivitas dalam Komunikasi Arsip

Dalam praktiknya, penerjemah arsip dituntut untuk menjaga objektivitas. Fina bahkan menilai bahwa empati bukan faktor utama dalam pekerjaannya.

“Dalam menerjemahkan arsip, peran empati itu sangat kecil, bahkan hampir tidak ada,” katanya.

Sebagai penerjemah ANRI, ia lebih fokus pada teks sebagai data dan rekaman, bukan sebagai ekspresi personal.

“Saya lebih fokus pada teks sebagai data dan rekaman, bukan sebagai ekspresi personal,” ujarnya.

Pendekatan ini penting untuk menghindari kesalahan umum dalam komunikasi lintas bahasa, yaitu asumsi.

“Kesalahan paling fatal itu ketika kita menebak-nebak agar kalimat terdengar logis, padahal datanya tidak berkata demikian,” jelasnya.

Karena itu, dalam penerjemahan arsip, kejujuran terhadap kondisi dokumen menjadi prinsip utama.

Baca juga: Peran Komunikasi Publik bagi Antariksa Akhmadi sebagai Pustakawan di Era Digital

Kertarikan Menjadi Penerjemah Arsip

Ketertarikan Fina menjadi penerjemah arsip juga dipengaruhi oleh realitas bahwa banyak arsip sejarah Indonesia ditulis dalam bahasa Belanda.

“Saya ingin kemampuan bahasa Belanda saya benar-benar terpakai secara maksimal, bukan sekadar jadi aksesori,” katanya.

Melalui pekerjaannya di ANRI, ia berperan dalam membuka akses terhadap arsip sejarah Indonesia yang sebelumnya sulit dipahami oleh publik luas karena hambatan bahasa.

Di tengah perkembangan teknologi, peran penerjemah arsip tetap relevan. Meski AI mampu menerjemahkan teks modern, dalam konteks arsip nasional Indonesia, kemampuan manusia masih sangat dibutuhkan.

“AI bisa membantu untuk teks modern, tapi tidak untuk dokumen yang fisiknya sudah rusak atau tulisannya sulit dibaca,” jelasnya.

Selain itu, AI belum mampu memahami konteks historis secara mendalam.

“Tugas saya bukan hanya memindahkan bahasa, tapi juga memvalidasi data,” ujarnya.

Menjembatani Publik dengan Arsip Nasional

Dalam kesehariannya, Fina juga berperan sebagai penghubung antara publik dan arsip nasional Indonesia. Ia membantu pengguna menemukan koleksi yang relevan, meski proses penelusuran arsip tidak selalu pasti.

“Banyak yang datang dengan ekspektasi tertentu, padahal penelusuran arsip itu selalu ada unsur ketidakpastian,” katanya.

Sebagai penerjemah arsip sekaligus bagian dari sistem layanan ANRI, ia memilih komunikasi yang lugas dan transparan.

“Saya hanya bisa memberi rekomendasi awal. Validasi data tetap ada di pengguna arsip itu sendiri,” ujarnya.

Fina membantu pengguna menemukan koleksi arsip yang relevan, meski proses penelusuran arsip tidak selalu pasti.

Menjaga Suara Masa Lalu Tetap Utuh

Pada akhirnya, bagi Fina, menjadi penerjemah arsip bukan tentang membuat sejarah terdengar lebih menarik, tetapi memastikan sejarah tetap bisa dibaca dengan jujur.

“Saya ingin pengguna arsip mendapatkan informasi yang sama persis dengan apa yang tertulis di dokumen aslinya,” katanya.

Di tengah kompleksitas bahasa, kerusakan fisik dokumen, dan perkembangan teknologi, peran penerjemah arsip tetap menjadi krusial: menjaga agar suara masa lalu tidak berubah, hanya karena berpindah bahasa.

Baca juga: Ngobrol Bahasa Korporat bersama Dosen Antropologi Budaya Annisa Arum

Kesimpulan

Peran penerjemah arsip seperti Fina Andriani menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu soal menyampaikan pesan baru, tetapi juga menjaga agar pesan lama tetap utuh.

Dengan pendekatan yang objektif dan disiplin terhadap data, ia memastikan bahwa setiap dokumen tetap berbicara sesuai konteks zamannya, tanpa tambahan interpretasi yang bisa mengaburkan makna asli.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan cara manusia mengakses informasi, pekerjaan ini justru menjadi semakin penting.

Ketika mesin belum mampu membaca kompleksitas fisik dan historis sebuah arsip, ketelitian manusia tetap dibutuhkan untuk menjaga akurasi. Dari ruang arsip, Fina menjadi penghubung lintas waktu, membuka akses pada data masa lalu, sambil memastikan sejarah tetap bisa dibaca dengan jujur dan apa adanya.

Wawancara dengan Fina Andriani dilakukan pada Rabu, 1 April 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.