Pengalaman Liputan K-Pop: Seru, Tapi Tetap Harus Profesional

Selama empat tahun bekerja sebagai jurnalis hiburan yang meliput industri entertainment Korea, saya sering mendengar komentar seperti, “Enak ya kerjaannya, bisa ketemu idola Korea.” 

Memang benar, pekerjaan ini memberi saya kesempatan untuk melihat idola secara langsung, menghadiri konferensi pers, nonton konser, hingga mengikuti berbagai acara eksklusif. Namun di balik keseruannya, pekerjaan ini tetap menuntut profesionalitas yang tinggi.

Sebagai jurnalis yang pernah ditugaskan untuk meliput berbagai event hiburan Korea, saya tidak datang ke acara hanya untuk menikmati momen bertemu idola. Tugas utama saya adalah mengumpulkan informasi, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan menulis berita yang akurat untuk pembaca, khususnya para penggemar. 

Meskipun saya juga menikmati musik K-Pop, ketika berada di ruang liputan saya harus menempatkan diri sebagai jurnalis terlebih dahulu, bukan sebagai penggemar. Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal penting: meliput K-Pop memang menyenangkan, tetapi profesionalitas tetap menjadi prioritas.

Baca juga: Cerita Jurnalis Republika Fergi Nadira Meliput K-Pop: Dari Hobi Menjadi Profesi

Kesempatan Bertemu Idola K-Pop

Konferensi pers Red Velvet di Jakarta. (Semua foto oleh Niken Nurani).

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah menghadiri konferensi pers idola yang datang ke Indonesia. Memang tidak banyak idola yang mau menggelar konferensi pers sebelum melangsungkan acara utama, tapi saat ada, pengalamannya selalu terasa berbeda. 

Ruangan biasanya dipenuhi jurnalis undangan dari berbagai media, kamera disiapkan untuk menangkap setiap momen, dan semua orang menunggu para idola muncul dari jarak dekat.

Ketika para idola akhirnya masuk ke ruangan, suasananya sering berubah menjadi lebih riuh. Saya sering gemetar karena gugup bisa melihat mereka secara langsung, namun sebagai jurnalis, saya harus tetap fokus pada pekerjaan. Saya biasanya sudah menyiapkan catatan juga perekam suara untuk mendapatkan informasi selama acara berlangsung.

Girlband ITZY saat menggelar fan meeting di Jakarta.

Sayangnya, kebanyakan agensi Korea sering memfilter pertanyaan wartawan jauh-jauh hari. Sehingga pertanyaan spontan saat konferensi pers hampir jarang saya temui. Contohnya saat saya melakukan wawancara dengan boyband NCT 127 dan girlband Red Velvet.

Agensi SM Entertainment yang menaungi mereka meminta saya untuk mengirimkan pertanyaan jauh sebelum hari wawancara. Pihak agensi kemudian memilih pertanyaan dan meminta saya untuk menanyakan pertanyaan tersebut saat wawancara.

Saat bertemu para idola tersebut dalam jarak dekat, tentu saya merasa sangat antusias karena ini menjadi pengalaman yang luar biasa. Tetapi saya harus menjaga sikap profesional. 

Reaksi berlebihan, seperti berteriak atau bersikap layaknya fans, bisa mengganggu jalannya konferensi pers. Selain itu, hal tersebut juga dapat memengaruhi citra media yang kita wakili. Karena itu, saya selalu berusaha menahan rasa antusias dan tetap fokus pada tugas utama yaitu meliput acara dengan baik.

Hal yang Sebaiknya Dilakukan Saat Liputan K-Pop

Konferensi pers girlband Twice dalam konser Twice Land – Zone 2 Fantasy Park di Jakarta.

Selama meliput berbagai acara K-Pop, ada beberapa hal yang menurut saya sangat penting dilakukan agar liputan berjalan lancar.

Datang Tepat Waktu

Konferensi pers, konser, dan event lainnya biasanya memiliki jadwal yang cukup ketat. Saya selalu berusaha datang lebih awal agar punya waktu untuk registrasi, mengambil posisi yang nyaman untuk meliput, dan memahami alur acara sebelum dimulai.

Membawa ID Card Media

Kartu identitas media adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Biasanya panitia atau promotor akan memeriksa identitas jurnalis sebelum mengizinkan mereka masuk ke area konferensi pers. Tanpa ID card, proses verifikasi bisa menjadi lebih rumit.

Mematuhi Peraturan dari Promotor

Setiap acara biasanya memiliki aturan tersendiri, mulai dari batas area pengambilan gambar hingga waktu yang diberikan untuk sesi tanya jawab. Sebagai jurnalis, mematuhi aturan tersebut adalah bentuk profesionalitas sekaligus cara menjaga hubungan baik dengan penyelenggara.

Dari kiri: Hendery dan YangYang WayV, dalam salah satu acara televisi di Jakarta.

Melakukan Riset tentang Idola

Sebelum menghadiri konferensi pers, saya selalu berusaha mencari tahu informasi terbaru tentang idola yang akan diliput. Mulai dari karya terbaru baik itu album, drama, atau proyek lainnya, hingga aktivitas mereka belakangan ini. 

Riset sederhana seperti ini sangat membantu ketika ingin menyusun pertanyaan atau menulis artikel setelah acara selesai.

Baca juga: Cerita Jurnalis Liputan6 Tira Santia Meliput CEO Indonesia di Australia

Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Liputan

NCT Dream dalam sebuah festival musik di Jakarta.

Selain hal-hal yang perlu dilakukan, ada juga beberapa hal yang menurut saya sebaiknya dihindari ketika meliput acara K-Pop.

Melanggar Aturan Saat Konferensi Pers

Saya pernah menyaksikan saat salah seorang jurnalis mendapat teguran dari pihak agensi karena melakukan live streaming di acara konferensi pers. Walaupun bertemu idola bisa menjadi momen yang menyenangkan, jurnalis tetap perlu menjaga sikap dan mengikuti aturan agar acara tetap berjalan dengan tertib.

Membawa Atribut Fans Secara Berlebihan

Ruang konferensi pers pada dasarnya adalah ruang kerja bagi media. Karena itu, membawa atribut fans yang berlebihan terasa kurang tepat. Hal-hal seperti ini lebih cocok digunakan di area konser atau fan event.

Membocorkan Lokasi Press Conference

Beberapa konferensi pers bersifat tertutup dan hanya diperuntukkan bagi media yang sudah terdaftar. Karena itu, membagikan lokasi acara atau detailnya secara sembarangan bisa menimbulkan masalah bagi penyelenggara maupun jurnalis lain yang sedang bekerja.

Baca juga: Cerita Jurnalis Liputan6.com Benedicta Miranti Meliput Persiapan Pemilu di Korea Selatan

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.