Setelah wawancara selesai, banyak orang sering masuk ke fase yang bisa jadi bikin sakit kepala atau membingungkan, harus follow-up seperti apa?
Sebab kalau pesannya terlalu formal, komunikasi bisa terasa kaku. Kalau terlalu santai, khawatir terlihat kurang profesional. Kalau hanya mengirim “terima kasih ya”, kadang terasa terlalu template. Namun, kalau tidak mengirim apa-apa, hubungan dengan narasumber bisa terasa berhenti begitu saja.
Padahal, follow-up bukan sekadar formalitas setelah wawancara. Muck Rack membagikan bahwa follow-up menjadi detail yang penting untuk memastikan informasi tetap akurat, dan menunjukkan bahwa narasumber dihargai.
Oleh karena itu, follow-up yang baik tidak bisa selalu memakai satu pola.
Kenapa Follow-up Tidak Bisa Selalu Pakai Satu Template?
Setiap narasumber datang dengan posisi, kesibukan, dan ekspektasi yang berbeda. Ada narasumber yang terbiasa diwawancarai dan ada juga yang baru pertama kali sehingga butuh detail lebih banyak untuk memahami tujuan wawancara itu sendiri.
Dalam konteks wawancara, Nieman Storyboard menulis bahwa komunikasi dengan narasumber perlu memerhatikan konteks, bukan hanya mengikuti daftar pesan yang sama untuk semua orang.

Jadi, follow-up yang baik bukan harus panjang atau penuh basa-basi. Yang penting pesannya jelas, sopan, dan sesuai dengan jenis wawancara yang Anda dilakukan.
Baca juga: 7 Kriteria Sumber Anonim di Media, Apa Saja yang Harus Dipenuhi?
Lima Cara Follow-up Narasumber Sesuai Kebutuhan Wawancara
Agar tidak terasa copy-paste, follow-up bisa disesuaikan dengan tipe narasumber dan tujuan konten. Berikut beberapa pendekatan yang bisa digunakan.
Untuk Founder atau Pemilik Bisnis
Founder atau pemilik bisnis biasanya tidak hanya memberi data. Mereka juga bercerita tentang awal membangun usaha, tantangan, keputusan penting, hingga cara melihat industri.
Karena itu, follow-up ke narasumber tipe ini sebaiknya tidak terasa terlalu general. Anda bisa menunjukkan bahwa ada bagian dari cerita mereka yang benar-benar membantu memperkuat konten.
Anda bisa menyebutkan satu insight yang paling relevan dari wawancara. Misalnya, “Halo Pak/Bu, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk wawancara tadi. Insight soal cara membangun bisnis dari komunitas perempuan sangat membantu untuk memperkuat detail artikel. Setelah ini, artikelnya akan saya susun dulu dan saya kabari jika ada yang perlu dikonfirmasi.”
Pendekatan ini membuat narasumber tahu bahwa wawancara yang dilakukan tidak hanya dianggap sebagai bahan kutipan, tetapi juga sebagai cerita yang benar-benar diperhatikan.
Baca juga: Do’s and Don’ts dalam Media Relations: Panduan Dasar untuk Menjaga Hubungan dengan Media
Untuk Ahli atau Praktisi
Narasumber ahli biasanya diwawancarai untuk menjelaskan topik yang lebih teknis. Misalnya soal PR, marketing, hukum, keuangan, kesehatan, teknologi, atau industri tertentu.
Dalam wawancara seperti ini, follow-up tidak perlu terlalu banyak basa-basi. Yang lebih penting adalah memastikan istilah, angka, atau konsep yang digunakan tidak salah.
Anda bisa sampaikan bagian yang ingin dikonfirmasi secara spesifik. Hindari pesan yang terlalu umum seperti “boleh di cek semuanya?” karena itu bisa membuat narasumber merasa harus membaca ulang seluruh artikel.
Kelly McBride dalam Poynter menekankan pentingnya mengecek detail tentang narasumber yang akan masuk ke tulisan, seperti nama, usia, identitas, atau informasi lain yang relevan. Prinsip ini bisa diperluas untuk memastikan data dan konteks penting tidak keliru sebelum konten Anda tayang.
Contoh pesan, “Halo Kak, melalui pesan ini saya ingin memastikan satu istilah sebelum artikel masuk editing. Untuk bagian ini, apakah lebih tepat memakai istilah ‘earned media’ atau ‘media coverage’? Saya ingin menjaga konteksnya tetap sesuai dengan penjelasan Kakak. Terima kasih banyak!”
Pesan seperti ini terasa profesional karena langsung menjelaskan kebutuhan follow-up, tanpa membuat narasumber merasa diminta melakukan pekerjaan tambahan.

Untuk Komunitas atau Pelaku Kreatif
Wawancara dengan komunitas, pelaku kreatif, penulis, seniman, atau pengelola ruang independen sering kali membawa cerita yang lebih personal. Mereka bisa berbagi tentang proses, keresahan, pengalaman membangun ruang, atau hubungan dengan audiens.
Untuk konteks seperti ini, follow-up sebaiknya tetap hangat. Namun, jangan sampai terlalu santai sampai-sampai mengaburkan profesionalisme.
Anda bisa apresiasi cerita yang mereka bagikan, terutama jika ada bagian yang personal atau membutuhkan kepercayaan.
Anda bisa mengirim pesan seperti, “Mas/Mbak, terima kasih banyak ya sudah berbagi cerita tadi. Bagian tentang proses membangun ruang komunitasnya menarik sekali, dan akan membantu pembaca memahami konteks artikel. Nanti kalau ada detail nama program atau tanggal kegiatan yang perlu saya pastikan, saya akan kabari lagi ya.”
Follow-up seperti ini membuat komunikasi tetap ramah, tetapi tidak keluar dari tujuan profesionalnya.
Untuk Pelanggan atau Pengguna
Jika Anda sedang menyusun konten testimoni, studi kasus, atau cerita pengguna, follow-up perlu lebih transparan karena cerita mereka akan dipakai untuk kebutuhan brand.
Jangan sampai narasumber merasa pengalamannya “dipoles” terlalu promosi. Bisa jelaskan bahwa cerita mereka akan digunakan untuk memperkuat konteks artikel, bukan mengubah pengalaman pribadi menjadi klaim yang berlebihan.
Anda bisa follow-up dengan, “Sore, kami memiliki waktu wawancara menyenangkan denganmu tadi, terima kasih banyak ya. Nantinya cerita kamu akan digunakan untuk menjelaskan bagaimana produk ini membantu mengatasi kulit kering dan sensitif. Saya akan kirim preview sebelum konten naik ya, untuk memastikan semua isinya tidak ada yang diluar konteks.”
Pendekatan ini membuat narasumber merasa lebih aman, dan dihargai bukan hanya sebagai mesin data, melainkan sebagai teman yang sama-sama bertumbuh dengan brand Anda.

Follow-up yang Baik Tidak Perlu Panjang
Kuncinya adalah memahami konteks narasumber, tujuan wawancara, dan cerita yang sudah mereka bagikan.
Pesan yang baik cukup dibuat jelas, sopan, dan relevan. Hindari follow-up yang membuat seolah semua narasumber menerima pesan yang sama. Seperti yang ditekankan Kelly McBride dalam Poynter, narasumber perlu diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar bahan cerita.
Maka cara Anda menghubungi mereka setelah wawancara juga ikut menunjukkan apakah cerita dan waktu mereka benar-benar dihargai.
Jika bisnis Anda ingin membuat konten yang rapi dari proses wawancara sampai penulisan, RadVoice dapat membantu menyusunnya dengan informatif, nyaman dibaca, dan tetap menghargai konteks cerita narasumber.
