Konten storytelling kini menjadi salah satu teknik komunikasi paling efektif dalam pemasaran digital, PR, hingga personal branding.

Cerita yang baik mampu membuat orang berhenti scroll laman media sosialnya, mendengarkan, lalu mengingat pesan Anda lebih lama.

Menurut Redcomm, storytelling bekerja karena manusia lebih mudah mengingat cerita dibanding data. Sementara Tiptip mencatat bahwa metode ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun hubungan emosional antara brand dan audiens.

membuat konten storytelling
Cerita yang baik mampu membuat orang berhenti scroll laman media sosial, mendengarkan, dan mengingat pesan Anda lebih lama (Foto oleh Freepik)

Apa Itu Konten Storytelling?

Konten storytelling adalah teknik menyampaikan pesan melalui cerita, baik dalam bentuk teks, video, audio, maupun visual.

Tujuannya bukan hanya memberi informasi, tetapi juga membuat audiens merasakan sesuatu. Cerita membuat pesan lebih mudah diserap, diingat, dan diterapkan oleh pembaca.

Menurut Harisenin Tips Sukses, storytelling efektif karena dapat membangun hubungan emosional dan menciptakan pengalaman yang relatable.

Dalam storytelling PR dan jurnalistik, kemampuan bercerita ini membantu menyajikan data atau peristiwa dengan cara yang lebih manusiawi.

Namun bukan berarti karena bercerita, fakta dan data tidak diperhitungkan. Dalam naskah storytelling, data angka dan fakta tidak hanya dipaparkan apa adanya, tetapi dirangkai menjadi narasi yang lebih hidup dan mudah dipahami pembaca.

Melalui pendekatan ini, data yang biasanya terasa kaku dapat berubah menjadi cerita yang relevan dan berdampak, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat terserap secara lebih efektif oleh audiens.

Baca juga: 5+ Cara Menulis Artikel Feature dengan Data Storytelling

Mengapa Konten Storytelling Penting?

Storytelling penting karena manusia secara alami menyukai cerita. Sebuah narasi yang kuat dapat meningkatkan brand recall, memperkuat identitas, dan membuat audiens lebih mudah memahami nilai yang ingin disampaikan.

Membuat konten storytelling tidak hanya soal bercerita, melainkan juga tentang membangun koneksi. Melalui cerita, brand dapat menggambarkan nilai, visi, dan misinya secara lebih relatable dan disukai banyak orang.

Hal ini penting karena, menurut penelitian yang dilansir dari Forbes, 92% konsumen menginginkan brand untuk membuat iklan yang terasa seperti cerita nyata daripada promosi biasa.

Dalam pemasaran digital, storytelling membantu menonjolkan sisi manusiawi brand, membedakan produk dari kompetitor, dan membangun trust. Teknik ini juga membuat konten lebih menarik di berbagai platform, dari Instagram Reels hingga LinkedIn.

Anda akan sering menemukan iklan brand dengan pengemasan berbentuk cerita menjelang perayaan hari besar seperti Lebaran dan Natal.

Dengan storytelling yang baik, brand dapat menarik perhatian publik, memengaruhi persepsi mereka, dan pada akhirnya, mendorong tindakan, termasuk untuk membeli produk brand tersebut.

9 Cara Membuat Konten Storytelling

Sebelum mulai menulis cerita, Anda perlu memahami bahwa storytelling bukan sekadar menyusun kata-kata yang indah.

Setiap cerita harus memiliki tujuan, karakter, konflik, dan nilai yang membuatnya relevan bagi pembaca. Oleh karena itu, menciptakan konten storytelling yang memikat menuntut lebih dari sekadar kreativitas.

RadVoice Indonesia telah merangkum beberapa cara untuk membuat konten storytelling. Berikut selengkapnya.

1. Kenali Audiens Anda

Sebelum menulis cerita, Anda perlu memahami siapa audiens yang akan membacanya: usia, minat, pengalaman, hingga masalah yang mereka hadapi.

Semakin dalam Anda mengenal audiens, semakin relevan cerita yang dapat Anda bangun. Cerita yang tepat sasaran akan lebih mudah memicu respons emosional.

2. Buat Narasi Autentik

Autentisitas adalah inti storytelling. Cerita tidak harus dramatis, tetapi harus jujur dan sesuai realitas brand.

Audiens dapat merasakan keaslian, dan mereka cenderung menolak cerita yang terasa “setting-an”. Cerita autentik membuat brand lebih manusiawi dan mudah dipercaya.

membuat kontenn storytelling
Kata “Huhu” dan bahasa korporat menjadi autentisitas storytelling dari salah satu content creator Instagram. (Foto oleh tangkapan layar akun @lutfiafansyah)

Baca juga: 5 Cara Membuat Naskah Podcast Monolog yang Punya Kekuatan Storytelling

3. Gunakan Visual yang Kuat

Visual dapat memperkuat imajinasi dan membantu audiens memahami cerita lebih cepat. Gunakan foto, ilustrasi, atau video yang mendukung pesan.

Visual storytelling juga meningkatkan engagement, terutama di platform visual seperti Instagram dan TikTok.

4. Libatkan Emosi

Cerita yang memikat biasanya mengandung konflik, kegagalan, ketakutan, harapan, atau kemenangan. Emosi membuat audiens ikut merasakan perjalanan dalam cerita.

Teknik ini efektif digunakan dalam jurnalistik. Sebuah laporan mendalam dengan 1.500 kata harus dikemas dengan cerita yang hidup dan mengikat emosi pembaca, agar dibaca hingga akhir dari cerita.

5. Berikan Akhir yang Memuaskan

Penutup cerita harus memberikan pelajaran, solusi, atau ajakan yang jelas. Akhir yang baik membuat audiens merasa perjalanan cerita telah lengkap dan bermakna.

Sedangkan, akhir yang menggantung hanya cocok untuk konten tertentu, seperti teaser video. Sehingga audiens akan menantikan episode selanjutnya.

6. Gunakan Konflik untuk Menggerakkan Cerita

Konflik adalah bahan bakar storytelling. Tanpa konflik, cerita akan terasa datar. Konflik tidak harus selalu dramatis; bisa berupa tantangan pribadi, masalah pelanggan, atau kesulitan brand dalam mencapai tujuan.

7. Pastikan Cerita Relevan dengan Brand atau Pesan

Storytelling bukan sekadar bercerita. Ia harus tetap selaras dengan nilai dan tujuan brand.

Maka cerita harus menjawab: “Apa pesan yang ingin disampaikan?” dan “Apa hubungannya dengan audiens?”

8. Tampilkan Detail yang Membuat Cerita Hidup

Detail kecil seperti waktu, tempat, atau emosi dapat membuat cerita lebih hidup dan relatable.

Jangan hanya mengatakan “Ia takut”; gambarkan bagaimana tangannya gemetar atau napasnya menjadi pendek, juga buli-bulir keringat mengalir di dahinya.

9. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Mengalir

Storytelling harus mudah dinikmati. Hindari bahasa yang terlalu teknis atau kaku.

Cerita yang baik mengalir seperti percakapan, sehingga audiens dapat menyimak tanpa merasa terbebani oleh struktur bahasa formal.

Baca juga: Storytelling dalam Emotional Marketing: Strategi Komunikasi di Iklan Indonesia dan Thailand

Elemen Penting untuk Membuat Konten Storytelling

Agar sebuah cerita mampu memikat perhatian dan meninggalkan kesan mendalam, ada beberapa elemen dasar yang harus hadir dalam proses pembuatannya. Elemen-elemen ini membantu menyusun narasi yang lebih utuh, emosional, dan mudah diikuti oleh audiens.

1. Karakter yang Kuat

Setiap cerita membutuhkan karakter yang dapat diidentifikasi dan dihubungkan oleh audiens, bisa berupa pelanggan, karyawan, atau bahkan brand itu sendiri.

Karakter yang kuat adalah karakter yang memiliki kepribadian, tujuan, dan perjalanan emosional.

Contohnya adalah Dove, brand personal care global. Dalam kampanye Real Beauty, Dove menggunakan seorang wanita sebagai karakter utama untuk menyoroti kecantikan alami, menciptakan resonansi yang kuat dengan audiens mereka.

membuat konten storytelling

Ilustrasi karakter yang kuat. Membuat konten storytelling dapat diwujudkan melalui karakter yang kuat. (Foto oleh tangkapan layar Youtube Dove Filipina)

2. Konflik dan Resolusi

Konflik adalah inti dari sebuah cerita. Ini mengacu kepada masalah atau tantangan yang dihadapi oleh karakter dan menjadi fokus cerita.

Tanpa konflik, cerita akan terasa datar dan tidak menarik. Resolusi adalah bagaimana masalah tersebut diatasi, yang memberikan pesan moral atau pelajaran.

Misalnya, dalam kampanye Like A Girl oleh Always, merek produk menstruasi. Konflik stereotip gender diangkat dan resolusi diberikan dengan mendefinisikan ulang apa artinya “seperti seorang gadis”, memberikan pesan penguatan yang kuat.

3. Emosi yang Menyentuh

Cerita yang sukses adalah cerita yang dapat menggugah emosi. Emosi yang kuat membuat cerita lebih berkesan dan mampu mendorong keterlibatan audiens.

Menurut sebuah studi oleh Harvard Business Review, emosi memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan konsumen, bahkan lebih dari sekadar logika.

Cerita yang menyentuh hati, menghibur, atau menginspirasi lebih mungkin untuk diingat dan dibagikan oleh audiens.

4. Pesan yang Jelas

Storytelling yang efektif memiliki pesan yang jelas dan mudah dipahami.

Pesan ini seharusnya menyampaikan nilai-nilai brand dan menginspirasi audiens untuk mengambil tindakan.

Nike, brand sepatu dan pakaian olahraga, dengan slogan Just Do it, menggunakan cerita inspiratif dari atlet yang mengatasi rintangan untuk menyampaikan pesan tentang ketekunan dan keberanian.

Pesan yang kuat dan jelas akan memastikan audiens memahami apa yang ingin disampaikan.

5. Struktur Narasi yang Baik

Struktur artikel adalah fondasi dari setiap narasi yang mencakup pengenalan, perkembangan, klimaks, dan resolusi.

Memastikan bahwa cerita Anda memiliki struktur yang kuat menjaga alur cerita agar tetap menarik dan logis.

Sebuah cerita yang terstruktur dengan baik memastikan bahwa audiens tetap terlibat dari awal hingga akhir, memberikan pengalaman membaca yang utuh.

Kesimpulan

Membuat konten storytelling yang memikat tidak hanya membantu dalam menyampaikan pesan, tetapi juga dalam membangun hubungan yang lebih kuat dengan khalayak.

Dengan menggabungkan karakter yang kuat, konflik, emosi, dan pesan yang jelas, brand dapat menciptakan cerita yang tidak hanya menarik, tetapi juga berdampak.

Jadi, Anda sudah siap membuat konten storytelling yang seperti apa? Yuk, diskusikan bersama Tim RadVoice untuk membuat konten storytelling bagi brand Anda!

Let's Amplify Your Voice Together

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.

Contact Us!
Contact Us!
RadVoice Indonesia
Hello
Can we help you?