Cerita Anglila Sandyakala Menjadi Artpreneur, Membangun Ruang, Komunitas, dan Masa Depan Seni

Dunia seni kini menawarkan lebih banyak cara bagi orang untuk menemukan dan berinteraksi dengan sebuah karya. Kehadiran media sosial juga membuat seniman dapat membangun audiens secara mandiri, sementara profesi di sekitar seni terus berkembang.

Perubahan ini berjalan seiring dengan tumbuhnya industri kreatif di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta tenaga kerja pada 2025, atau 18,7% dari total tenaga kerja nasional.

Di tengah perubahan tersebut, muncul peran seperti artpreneur, yang tidak hanya berkecimpung dalam seni, tetapi juga memikirkan bagaimana ekosistem dan bisnis di dalamnya dapat terus berjalan.

Baca juga: Cerita Syahidah Asma Tentang Bertahan, Berkarya, dan Menjadi Ilustrator di Era AI

Peran tersebut salah satunya dijalankan oleh Anglila Sandyakala, atau Angli sapaan dekatnya, melalui Achieve Art Space, ia membangun ruang  yang mempertemukan seniman, publik, dan berbagai kemungkinan kolaborasi.

Ketika Kecintaan pada Seni Bertemu Dunia Bisnis

Kedekatan Angli dengan dunia seni sebenarnya sudah dimulai sejak kecil. Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan karya, studio, pameran, dan percakapan tentang seni karena ayahnya merupakan seorang seniman.

Pengalaman tersebut justru membuat Angli tertarik untuk memahami dunia seni dengan lebih luas. Ia ingin memahami bagaimana karya bertemu dengan publik, bagaimana pameran dibangun, bagaimana seniman mendapatkan kesempatan, hingga bagaimana sebuah ekosistem seni dapat terbentuk.

Ketertarikan untuk melihat seni dari sisi yang lebih luas inilah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap peran seorang artpreneur.

Baginya, berkecimpung di dunia seni bukan hanya soal menghasilkan atau menikmati karya, melainkan juga memahami berbagai hal yang membuat ekosistem tersebut dapat terus hidup.

Angli melihat seni dan bisnis sebagai sebuah kesatuan yang perlu berjalan beriringan. (Foto oleh Anglila Sandyakala)

“Buatku, menjadi artpreneur itu cukup kompleks. Tentang bagaimana kita menjaga nilai artistik dan idealisme, tapi pada saat yang sama memikirkan sistem yang memungkinkan semuanya untuk terus berjalan,” ujarnya.

Kesadaran tersebut membuatnya lebih peduli terhadap sistem yang menopang dunia seni. Bahwa di dalam sebuah pameran yang berhasil, ada biaya operasional, program, serta orang-orang yang terlibat dan perlu mendapatkan kesejahteraan juga.

Di titik inilah Angli melihat bisnis bukan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan idealisme seni, melainkan sebagai jembatan yang membuat idealisme tersebut memiliki kesempatan untuk bertahan.

Membangun Art Space Berarti Membangun Orang-Orang di Dalamnya

Ketika mendirikan Achieve Art Space, Angli ingin membuat dunia seni terasa lebih mudah diakses, terutama bagi kalangan muda.

Menurutnya, seni masih kerap terlihat mengintimidasi karena ada asumsi bahwa seseorang perlu memiliki pengetahuan, latar belakang, atau koneksi tertentu untuk bisa masuk ke dalamnya.

Karena itu, Achieve dirancang sebagai ruang tempat orang bisa datang untuk melihat pameran, mengikuti workshop, berdiskusi, mengenal seniman, atau sekadar memulai rasa ingin tahu terhadap seni.

Angli dan tim membangun Achieve bersama, tumbuh bersama. (Foto oleh Anglila Sandyakala)

Namun bagi Angli, keberhasilan sebuah art space tidak berhenti pada jumlah orang yang datang atau program yang terlaksana.

“Kalau seseorang keluar dari ruang tersebut dengan pengalaman, cerita, perspektif, atau rasa ingin tahu yang sebelumnya nggak mereka punya, menurutku ruang itu sudah punya makna beyond sekadar tempat memajang karya,” katanya.

Dampak tersebut juga tidak selalu langsung terlihat. Seseorang mungkin datang untuk pertama kalinya lalu mulai rutin mengunjungi pameran. Pengunjung lain bisa menjadi lebih menghargai proses seniman, atau bahkan terdorong untuk membuat sesuatu sendiri.

Baginya, kemungkinan-kemungkinan inilah yang membuat sebuah art space menjadi ruang yang hidup, bukan sekadar tempat berlangsungnya pameran.

Dengan kata lain, nilai sebuah art space tidak hanya terletak pada apa yang ditampilkan di dalamnya, tetapi juga pada apa yang terjadi setelah seseorang berinteraksi dengan ruang tersebut.

Pandangan ini menjadi semakin relevan ketika orang kini bisa menemukan dan menikmati karya seni dengan mudah melalui media sosial.

Baca juga: Gen Z Semakin Privat di Media Sosial, Apa Artinya bagi Brand?

Di Era Media Sosial, Apa yang Masih Dicari Orang dari Ruang Seni?

Media sosial membuat karya lebih mudah ditemukan. Bagi Angli, perubahan ini tidak berarti peran ruang seni hilang, tetapi justru bergeser.

Ruang seni kini perlu menawarkan pengalaman yang tidak berhenti pada karya yang dipajang. Kurasi, program edukasi, ruang berdiskusi, hingga kesempatan bertemu langsung dengan seniman menjadi bagian dari nilai yang bisa diberikan.

“Jadi menurutku peran art space sekarang tidak hanya menjadi perantara antara karya dan pasar, tetapi juga menjadi ruang yang membantu membangun experience, connection, dan ekosistem di sekitar seni,” kata Angli.

Salah satu sudut dari Achieve Art Space yang Angli bangun. (Foto oleh Anglila Sandyakala)

Angli berbagi, salah satu pengalaman yang sulit dipindahkan ke media sosial adalah kesempatan untuk melihat dan merasakan sebuah karya secara langsung.

Dengan pertemuan fisik, publik bisa memahami skala, tekstur, material, detail, hingga bagaimana sebuah karya berhubungan dengan ruang di sekitarnya.

Selain berinteraksi dengan karya, keberadaan fisik sebuah art space juga membuka peluang bagi pengunjung untuk bertemu dengan orang lain.

Dari sebuah art space juga Angli percaya, setiap orang yang datang bisa memiliki atau membuat konektivitas baru dengan orang-orang yang juga hadir di dalamnya sehingga menciptakan hubungan yang lebih dekat, nyata, dan jujur dibandingkan melalui media sosial.

“Ruang digital bisa membantu seseorang menemukan seni, sementara art space memberi kesempatan untuk mengalami dan terhubung dengannya.”

Baca juga: Cerita Dian Naren Membangun Karier sebagai Content Creator hingga Rutin Mendapat Endorse

Tantangan Membangun Sebuah Art Space

Menjaga ruang seni tetap hidup menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Angli. Di satu sisi, ruang seni perlu menghadirkan program yang eksperimental, mudah diakses, dan memiliki nilai budaya.

Di sisi lain, ada biaya ruang, produksi pameran, sumber daya manusia, pemasaran, hingga operasional yang harus terus berjalan.

“Menurutku tantangan art space itu menemukan model bisnis yang memungkinkan idealisme dan sustainability berjalan bersama, bukan memilih salah satunya.”

Bagi Angli, tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat seni dari satu sisi.

Dibutuhkan cara berpikir untuk menggabungkan nilai artistis, pengelolaan bisnis, dan kemampuan untuk membangun relasi dengan berbagai pihak.

Karena itu, Angli selalu mengedepankan kolaborasi, sebab seni tidak bisa hanya berdiri sendiri. Selain kolaborasi, ia juga tidak ragu untuk kembali ke ruang kelas.

Mempertahankan dan menghidupkan ruang seni membutuhkan dedikasi yang serius. (Foto oleh Anglila Sandyakala)

Selama dua tahun terakhir, Angli fokus menjalani MBA di UGM dengan konsentrasi Strategic Management. “Aku mau memperdalam ilmu sehingga nanti ketika kembali bersama Achieve aku bisa mengeksplorasi lebih banyak kesempatan dan format untuk membawa seni lebih bisa dinikmati,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan tersebut menjadi bagian dari proses untuk mempersiapkan langkah berikutnya bersama Archive. Pengalaman di ruang kelas dan keterlibatannya dalam dunia seni menjadi dua hal yang saling melengkapi dalam membangun cara pandangnya sebagai artpreneur.

Ruang Seni Untuk Semua Orang

Pemikiran tersebut kemudian dibawa Angli pada visi yang lebih besar, yaitu bagaimana ruang seni tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya program, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang membuka lebih banyak kesempatan bagi orang lain.

Masa depan dunia seni perlu menawarkan lebih banyak akses dan pilihan bagi generasi muda. Ekosistem seni tidak hanya membutuhkan seniman, tetapi juga kurator, peneliti, pengelola seni, pendidik, hingga artpreneur.

Karena itu, ruang seni dan proyek yang dibangun Angli ada untuk membuka akses terhadap pengetahuan, jaringan, kesempatan bereksperimen, dan ruang untuk berkembang.

Ruang seni untuk generasi muda bukan hanya tentang pameran, melainkan juga sebuah pintu untuk berbagai kesempatan. (Foto oleh Anglila Sandyakala)

Karier di dunia seni juga seharusnya menjadi pilihan yang nyata, bukan sesuatu yang hanya terbuka bagi mereka yang sudah memiliki privilese atau jaringan tertentu.

“Aku tidak ingin hanya membangun satu ruang seni yang berhasil. Aku ingin ikut membangun ekosistem di mana lebih banyak orang bisa menemukan tempatnya sendiri di dunia seni,” kata Angli.

Visi Angli menunjukkan bahwa membangun ruang seni bukan hanya tentang menciptakan tempat untuk menikmati karya. Lebih dari itu, ruang tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal seni, membangun koneksi, menemukan kesempatan, dan melihat bahwa mereka juga punya tempat di dalam ekosistemnya. 

Pada akhirnya, ruang seni untuk generasi muda bukan hanya tentang pameran, melainkan tentang membuka pintu agar lebih banyak orang merasa dekat dan relevan dengan seni itu sendiri. 

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.