Weekly Issues Recap: 4 Isu Pop Culture yang Jadi Sorotan Pekan Ini 

Di era media sosial, pop culture bergerak semakin cepat. Tak hanya melahirkan tren baru, tetapi juga memicu diskusi tentang teknologi, representasi, hingga strategi marketing.

Dalam sepekan terakhir, perhatian publik diwarnai berbagai isu, mulai dari demam “The Odyssey” dan perdebatan soal IMAX 70 mm,tren makeup Naykilla, keputusan BTS mundur dari Grammy Awards 2027, hingga method dressing Zendaya yang mencuri perhatian.

Melalui Weekly Issues Recap, RadVoice Indonesia merangkum isu-isu tersebut untuk Anda. 

Baca juga: Weekly Issues Recap: Saat Profesionalisme Dipertanyakan Publik

“The Odyssey” Bikin Bioskop Penuh, Akses IMAX Jadi Sorotan

Film “The Odyssey” membuktikan daya tarik pengalaman sinematik premium, sekaligus menyoroti pentingnya pemerataan infrastruktur agar inovasi perfilman dapat dinikmati lebih luas. (Foto oleh Magnific)

Summary

Film “The Odyssey” yang disutradari oleh Christopher Nolan tayang serentak di bioskop Indonesia sejak 15 Juli 2026 dan langsung meledak. 

Berdasarkan data Cinepoint per 26 Juli 2026, dalam sepekan film ini mengumpulkan lebih dari 1 juta penonton di Indonesia. Angka ini menjadikan The Odyssey sebagai film terlaris yang sedang tayang, unggul dari film lain seperti Petaka Gunung Welirang dan Moana.

Secara global, film ini meraih 264,1 juta dolar AS atau sekitar Rp4,74 triliun di opening week. Ini merupakan rekor pembukaan global terbesar sepanjang karier Nolan, melampaui The Dark Knight, The Dark Knight Rises, hingga Oppenheimer.

Dikutip dari CNN Indonesia, Cinema XXI bahkan membuka penjualan tiket IMAX tambahan untuk periode 22 sampai 26 Juli 2026. Hanya butuh sekitar dua jam sebelum tiket tersebut ludes terjual. 

Namun, antusiasme penonton untuk menyaksikan film yang dibintangi Tom Holland itu juga dibarengi perdebatan tentang “The Odyssey” yang dianggap terlalu “elitis”.

Pasalnya, film ini direkam sepenuhnya menggunakan kamera IMAX 70mm, tetapi hanya 41 bioskop di dunia yang memiliki proyektor untuk menayangkannya sesuai format asli. Indonesia sendiri belum memiliki proyektor IMAX 70mm, sehingga penonton hanya bisa menyaksikan versi digital.

Why It Matters

Kesuksesan The Odyssey menunjukkan bahwa pengalaman menonton di bioskop masih menjadi daya tarik utama di era streaming. Terutama ketika didukung oleh reputasi sutradara dan inovasi teknologi. 

Namun, perdebatan soal akses terhadap format IMAX 70 mm juga membuka diskusi tentang apakah kemajuan teknologi perfilman justru menciptakan kesenjangan pengalaman menonton bagi sebagian audiens.

Di Indonesia, diskusi ini turut menyoroti kondisi proyektor IMAX 70 mm di Teater Keong Mas TMII. Dalam diskusi bersama pihak pengelola, sutradara Anggi Noen mengungkap, proyektor IMAX 70 mm disebut masih ada, tetapi sudah tidak dapat digunakan karena kerusakan pada lampu. 

Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah Indonesia perlu berinvestasi kembali pada infrastruktur bioskop agar pengalaman sinematik premium bisa diakses oleh lebih banyak penonton di Tanah Air.

Key Insight

Penayangan “The Odyssey” menunjukkan bahwa inovasi teknologi dalam perfilman tidak hanya soal kualitas visual, tetapi juga soal akses bagi penonton.

Keterbatasan infrastruktur menunjukkan bahwa tidak semua penonton dapat menikmati film sesuai format yang dirancang pembuat film

Hal ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi perfilman perlu diimbangi dengan investasi pada fasilitas bioskop agar pengalaman sinematik premium dapat diakses lebih luas.

Makeup Naykilla Jadi Tren, Promosi Lagu Ikut Meluas

Naykilla menunjukkan bahwa identitas visual yang kuat dapat mengubah tren beauty menjadi promosi organik yang memperluas jangkauan sebuah lagu di media sosial. (Foto oleh @qheylazv, @inayatulzein dan @ma.rinpo).

Summary

Penyanyi hip-dut Naykilla kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bukan hanya karena lagunya, tetapi juga gaya makeup yang ia tampilkan dalam video musik terbaru, “MMG (My Mine Gueh)”.

Makeup tersebut menampilkan konsep cheerful dan standout, lengkap dengan warna-warna cerah, face sticker, dan jepit rambut warna-warni. 

Tidak butuh waktu lama, beauty influencer di media sosial ramai-ramai menirukan tampilannya. Banyak yang mengatakan, gaya makeup Naykilla ini mengingatkan mereka pada Gyaru, sebuah style dan makeup asal Jepang.

Ciri khasnya terletak pada kombinasi warna-warna berani, mulai dari eyeshadow magenta di area alis, kuning dan hijau di kelopak mata, winged eyeliner, bulu mata yang kelihatan tebal, hingga tambahan fake freckles dan face sticker sebagai pelengkap.

Yang menarik, dikutip dari Beautynesia, tren ini tak hanya viral di Indonesia, tetapi juga mulai menarik perhatian kreator konten di luar negeri. Ini pun memperkuat posisi Naykilla sebagai trendsetter di kalangan Gen Z, setelah sebelumnya ikut mempopulerkan kembali tren Y2K dan aksesori tooth gems.

Why It Matters

Tren makeup Naykilla menunjukkan bahwa promosi lagu kini tidak lagi bergantung pada musik semata. Elemen visual seperti makeup, fashion, dan estetika video musik semakin berperan dalam mendorong partisipasi pengguna di media sosial melalui recreation content atau konten tiruan.

Di saat yang sama, fenomena ini memperlihatkan bagaimana beauty dan musik semakin saling memengaruhi. Sebuah tampilan yang mudah dikenali dapat memperpanjang umur percakapan seputar lagu dan memperluas jangkauannya di luar komunitas musik.

Key Insight

Keberhasilan Naykilla membuktikan bahwa identitas visual yang kuat dapat menjadi strategi pemasaran yang efektif untuk memperkuat promosi sebuah lagu di era media sosial.

Di sisi lain, ketika beauty influencer ikut mengadopsi tren tersebut, promosi tidak lagi hanya datang dari musisi, tetapi juga didorong secara organik oleh komunitas kreator lintas niche sehingga mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

Grup K-pop BTS Pertanyakan Kategori Baru Grammy, Lakukan Aksi Boikot

Keputusan BTS memboikot Grammy 2027 memicu perdebatan tentang apakah kategori khusus untuk musisi Asia mendorong inklusivitas atau justru memperkuat sekat berdasarkan bahasa dan wilayah. (Foto oleh @bts.bighitofficial)

Summary

Grup K-pop BTS mengumumkan tidak akan mengajukan lagu terbaru mereka untuk  Grammy Awards 2027. Keputusan tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial para anggotanya.

Dalam pernyataannya, BTS mengatakan mereka berharap musik dapat didengar dan dicintai apa adanya, tanpa dibagi berdasarkan wilayah atau bahasa.

Keputusan ini muncul sekitar satu bulan setelah Recording Academy memperkenalkan kategori baru Best Asian Pop Music Performance. 

Namun, aturan kategori tersebut mengharuskan lagu menggunakan bahasa Asia secara signifikan, sementara lebih dari 80% lirik album comeback BTS, Arirang, menggunakan bahasa Inggris sehingga tidak memenuhi syarat.

Meski begitu, BTS sebenarnya diprediksi menjadi salah satu kandidat kuat di kategori utama seperti “Album of the Year” dan “Song of the Year berkat” album Arirang dan single “Swim”, yang berhasil menduduki peringkat pertama tangga lagu di Amerika Serikat.

Keputusan BTS memicu perhatian karena dinilai sebagai bentuk kritik terhadap sistem penghargaan yang masih mengelompokkan musik berdasarkan wilayah dan bahasa. 

Sebelumnya, kategori baru tersebut juga menuai kritik dari sebagian penggemar K-pop yang menilai langkah itu justru mengecilkan musisi Asia, alih-alih mendorong persaingan di kategori utama.

Langkah BTS menambah daftar musisi yang pernah memboikot Grammy Awards, menyusul nama-nama seperti The Weeknd, Drake, Frank Ocean, Morgan Wallen, dan Will Smith, yang sebelumnya juga mengkritik sistem penghargaan tersebut karena berbagai alasan.

Why It Matters

Keputusan BTS menunjukkan bahwa perdebatan di industri musik global kini bukan hanya soal representasi, tetapi juga bagaimana penghargaan internasional mengategorikan musisi berdasarkan identitas budaya dan bahasa.

Di sisi lain, langkah ini dapat memperkuat diskusi mengenai apakah kategori khusus seperti Best Asian Pop Music Performance benar-benar membuka peluang bagi musisi Asia, atau justru semakin memisahkan mereka dari persaingan di kategori utama.

Key Insight

Keputusan BTS menegaskan bahwa pengakuan global tidak selalu diukur dari keikutsertaan dalam ajang penghargaan, tetapi juga dari keberanian mempertanyakan sistem yang dinilai tidak lagi relevan.

Di sisi lain, Recording Academy menghadapi tantangan untuk membuat sistem penghargaan yang lebih inklusif tanpa menciptakan batasan baru bagi musisi dari kawasan tertentu.

Baca juga: Weekly Issues Recap: Dari PHK TikTok Sampai Kontroversi Kolaborasi Brand

Method Dressing Zendaya Ubah Promosi Film Jadi Panggung Fashion

Method dressing Zendaya menunjukkan bahwa fashion kini menjadi bagian penting dari strategi promosi film, memperkuat cerita sekaligus menciptakan percakapan di media sosial. (Foto oleh @elleusa dan Page Six)

Summary

Aktris papan atas Zendaya, kembali mencuri perhatian lewat rangkaian penampilannya selama tur promosi The Odyssey dan Spider-Man: Brand New Day. 

Bersama stylist pribadinya, Law Roach, Zendaya menghadirkan penampilan yang mengusung konsep method dressing, yaitu mengenakan busana yang terinspirasi langsung dari tema film yang dipromosikan.

Untuk The Odyssey, Zendaya tampil dengan gaun-gaun yang terinspirasi Yunani Kuno, mulai dari rancangan khusus Jacquemus hingga gaun Schiaparelli bercahaya yang baru saja debut di Paris Couture Week. 

Model kelahiran 1996 itu juga mengenakan beberapa busana dari brand ternama seperti Matières Fécales dan Alberta Ferretti, yang dipadukan dengan aksesori bergaya gladiator.

Sementara untuk Spider-Man: Brand New Day, Zendaya mengenakan sejumlah busana bertema jaring laba-laba dari koleksi vintage Armani, Versace, hingga John Galliano. 

Salah satu penampilan yang paling ramai dibicarakan adalah saat ia mengenakan kaus Spider-Man oversized. 

Law Roach juga mengatakan kaus tersebut dibeli di eBay seharga US$34,99 atau Rp634.931, lalu dipadukan dengan sepatu Christian Louboutin. 

Menurut USA Today, konsistensi Zendaya dalam memadukan koleksi couture terbaru, busana arsip, dan item bernilai terjangkau menunjukkan bahwa tur promosi film kini telah berkembang menjadi medium untuk bercerita lewat fashion, bukan sekadar ajang tampil di karpet merah.

Why It Matters

Penampilan Zendaya menunjukkan bahwa tur promosi film telah berevolusi menjadi bagian dari strategi pemasaran. Lewat method dressing, busana tidak hanya berfungsi sebagai fashion statement, tetapi juga memperkuat narasi film dan menciptakan percakapan di media sosial.

Pendekatan ini mencerminkan bagaimana selebritas memanfaatkan fashion sebagai medium storytelling untuk membangun keterlibatan penggemar jauh sebelum film dirilis.

Key Insight

Kesuksesan method dressing Zendaya membuktikan bahwa fashion dapat menjadi alat pemasaran yang sama efektifnya dengan trailer atau kampanye promosi lainnya.

Namun, perpaduan busana couture, koleksi arsip, dan item yang terjangkau menunjukkan bahwa dampak sebuah penampilan tidak selalu ditentukan oleh harga, melainkan oleh cerita dan konsep yang dibangun di baliknya.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.