Bukan Pamer Pencapaian, Begini Cara Timothy Warokka Membangun Personal Branding di LinkedIn

Gen Z saat ini berada di berbagai tahap kehidupan. Ada yang baru memulai kuliah, sedang menjalani magang, baru lulus, hingga mulai membangun karier. 

Meski jalannya berbeda-beda, hampir semua memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun rekam jejak berisi prestasi, pengalaman organisasi, magang, dan pekerjaan yang dapat menjadi modal untuk peluang berikutnya.

Di sinilah LinkedIn berperan. Bagi banyak Gen Z, platform ini bukan sekadar tempat mencari kerja, tetapi juga ruang untuk mendokumentasikan perjalanan profesional dan membangun personal branding.

RadVoice Indonesia berkesempatan mewawancarai Timothy Warokka, atau yang akrab disapa Timmy, gen Z asal Manado, Sulawesi Utara yang menempuh pendidikan sarjana di George Washington University, Amerika Serikat.

Bagi banyak mahasiswa, LinkedIn sering terasa seperti pamer pencapaian. Timmy juga pernah merasakannya. 

Berawal dari budaya kampus yang aktif menggunakan LinkedIn, ia sempat mencari validasi lewat platform tersebut, sebelum akhirnya menemukan cara memanfaatkannya tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Selama menjadi mahasiswa di sana, Timmy mulai memberanikan diri membagikan pencapaian, pengalaman organisasi, hingga perjalanan kariernya di LinkedIn. 

Dari sana, ia merasakan langsung bagaimana konsistensi dalam membangun profil profesional dapat membuka berbagai kesempatan.

Berawal dari Ikut-ikutan, Berujung Jadi Ungkapan Syukur

Timmy mulai aktif di LinkedIn karena pengaruh lingkungan, tetapi bertahan karena ingin membagikan pelajaran dari setiap kesempatan yang ia peroleh, bukan sekadar pencapaian. (Semua foto oleh Timothy Warokka)

Timmy mengaku tidak pernah ada niat untuk aktif di LinkedIn setelah membuat akun. Tetapi pikiran itu berubah saat ia melihat lingkungan pertemanannya di kampus menggunakan platform tersebut secara intens. 

Bisa dibilang, dorongan awalnya hanya ikut-ikutan, bukan strategi karier yang sudah dipikirkan matang-matang. Namun, seiring waktu, alasan itu berubah. 

Sebagai orang yang lahir dan besar di Manado, kota yang menurutnya tidak sebesar kota-kota besar lain, Timmy mulai memandang setiap kesempatan magang, organisasi, atau proyek yang ia dapatkan sebagai sesuatu yang tidak semua orang dari latar belakangnya bisa peroleh.

Perubahan cara pandang ini juga menurutnya penting dipahami siapa pun sebelum mulai aktif di LinkedIn. Menemukan alasan yang jelas, kata Timmy, membuat penggunaan platform ini terasa lebih bermakna dan tidak sekadar ikut-ikutan.

“Yang jauh lebih berharga itu bukan sekadar menunjukkan apa yang kita sudah capai, tapi membagikan apa yang kita pelajari dari setiap pengalaman itu,” jelasnya.

Baca juga: Dari Isu Artis ke Bisnis, Begini Cara Nadiyas Utami Pratiwi Bikin Berita Ekonomi Jadi Lebih Ramah Dibaca

Koneksi Tak Terduga dari Cerita-cerita Sederhana

Berawal dari ikut-ikutan berkembang menjadi ruang bagi Timmy untuk membagikan pembelajaran dari setiap pengalaman.

Bagi Timmy, manfaat membagikan pengalaman di LinkedIn jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan saat pertama kali aktif bersosialisasi di platform tersebut. 

Banyak obrolan ringan, mulai dari coffee chat, diskusi, hingga ajakan kolaborasi, yang berawal dari unggahan sederhana lalu berubah menjadi hubungan profesional yang masih ia jaga sampai sekarang.

Arah kontaknya pun tidak selalu satu arah. Kadang, orang lain yang lebih dulu menyapa setelah membaca unggahannya, tapi tidak jarang pula Timmy sendiri yang mengirim pesan lebih dulu kepada orang-orang yang pengalamannya menarik perhatiannya. Ia menegaskan bahwa tidak semua pesan yang dikirim akan berbalas dan itu wajar saja.

“Tidak semua pesan akan mendapat balasan. But that’s the beauty of LinkedIn, yang penting kita berani mencoba,” ujarnya. 

Menurutnya, kelebihan LinkedIn justru terletak pada keberanian untuk terus mencoba menjalin koneksi, bukan pada jaminan bahwa setiap upaya akan mendapatkan hasil.

Meski begitu, Timmy mengatakan peluang yang ia dapatkan dari LinkedIn tidak selalu datang dalam bentuk tawaran kerja atau magang.  Salah satunya pernah ia dapatkan dari permintaan koneksi seseorang yang bekerja di bidang keamanan dan pertahanan. 

Rasa ingin belajar mendorongnya untuk mengirim pesan, yang kemudian berkembang menjadi beberapa kali coffee chat hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan di organisasi kepemudaan yang sama.

“LinkedIn lebih banyak membuka pintu ke hubungan, percakapan, dan kesempatan yang mungkin sebelumnya nggak akan pernah terjadi,” katanya.

Baca juga: Cerita Syahidah Asma Tentang Bertahan, Berkarya, dan Menjadi Ilustrator di Era AI

Dari Mencari Validasi ke Membangun Relasi

Bagi Timmy, LinkedIn sebaiknya menjadi ruang untuk membangun koneksi yang autentik dengan berbagi pembelajaran menggunakan suara sendiri, bukan tempat mencari validasi atau membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Timmy juga mengatakan bahwa memandang LinkedIn sebagai ajang mencari validasi adalah hal yang keliru, meski ia tidak mempermasalahkan bila ada yang memakainya dengan cara itu. 

“Butuh waktu juga untuk mindset aku berubah, dari menggunakan LinkedIn untuk mencari validasi, ke sekarang untuk membangun hubungan yang genuine,” katanya.

Tekanan untuk terlihat produktif dan berprestasi di LinkedIn bukan hal asing bagi Timmy. Ia mengaku pernah membandingkan pencapaian dirinya dengan teman-temannya yang keliatannya sudah jauh lebih sukses.

Menurut Timmy, merasakan hal seperti itu sangat manusiawi karena hampir semua pengguna aktif LinkedIn pernah mengalaminya.

Yang kemudian mengubah caranya untuk menghilangkan tekanan itu adalah kesadaran bahwa LinkedIn hanya menampilkan sepotong kecil dari kehidupan seseorang.

“Membandingkan proses hidup kita dengan highlight orang lain itu tidak pernah adil, dan kita yang akan lelah at the end,” tuturnya. 

Menyadari hal ini membuatnya mencoba melihat sudut pandang lain, dari merasa tertinggal menjadi mencari pelajaran dari perjalanan orang lain.

Soal menjaga sisi autentik di tengah budaya LinkedIn yang kerap penuh dengan istilah korporat, Timmy punya prinsip sendiri. 

Ia berusaha tidak menulis dengan gaya yang terlalu formal atau dipenuhi jargon korporat, karena menurutnya tulisan semacam itu justru terasa jauh dan sulit membangun koneksi personal dengan pembaca.

Baginya, ketika tujuan utama bukan lagi mencari validasi, seseorang akan lebih mudah menulis dengan suara yang benar-benar mencerminkan dirinya.

“Orang lebih mudah terhubung dengan cerita yang genuine, yang jujur, daripada tulisan yang terdengar sangat corporate,” ungkapnya.

Untuk anak muda lainnya yang baru mau mulai menguraikan pengalaman profesional mereka di LinkedIn, saran Timmy sederhana. Kenali dulu alasan pribadi di balik setiap unggahan. 

Jangan terjebak membandingkan proses sendiri dengan pencapaian orang lain yang hanya terlihat dari sisi terbaiknya. Terpenting, tetap gunakan suara sendiri saat bercerita, bukan meniru gaya orang lain agar terlihat lebih mengesankan.

Wawancara dengan Timothy Warokka dilakukan pada Senin, 13 Juli 2026. Percakapan telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.