Setiap pekan, berbagai isu di dunia bisnis, teknologi dan media sosial memicu perbincangan yang memengaruhi persepsi publik terhadap perusahaan, brand, maupun institusi.
Pekan ini perhatian publik tertuju pada tiga isu yang ramai diperbincangkan di media sosial, mulai dari kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Tiktok-Tokopedia, kontroversi kolaborasi Teazzi dengan Nagita Slavina, dan pemblokiran akun Instagram Cabinet Couture oleh Komdigi.
Ketiganya menunjukkan bagaimana persepsi publik dapat berkembang cepat dan berdampak pada reputasi organisasi maupun figur publik.
Melalui Weekly Issues Recap, RadVoice Indonesia merangkum isu-isu tersebut untuk Anda.
PHK TikTok-Tokopedia Jadi Sorotan di Tengah Gelombang Efisiensi Industri Teknologi

Summary
Isu PHK di TikTok-Tokopedia menjadi perhatian publik setelah muncul laporan yang menyebutkan bahwa hingga 90% karyawan Tokopedia terdampak restrukturisasi pascaintegrasi kedua perusahaan.
Menanggapi kabar tersebut, TikTok dan Tokopedia membantah adanya PHK massal. Perusahaan menjelaskan bahwa proses yang berlangsung merupakan internal mobility, di mana sebagian karyawan berpindah ke unit bisnis lain, sementara sebagian lainnya memilih mengambil paket kompensasi. TikTok-Tokopedia juga menyatakan masih membuka lebih dari 100 lowongan kerja di Indonesia.
Why It Matters
Kabar tersebut cepat menyebar karena angka “90%” memicu kekhawatiran publik akan gelombang PHK baru di industri teknologi. Bahkan, DPR turut memanggil manajemen TikTok dan Tokopedia bersama Menteri Ketenagakerjaan untuk meminta klarifikasi terkait kabar tersebut.
Di sisi lain, kekhawatiran publik juga dipengaruhi oleh kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip dari Jakarta Globe, lebih dari 23.470 pekerja di Indonesia terkena PHK dari Januari sampai Mei 2026.
Meski ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan di atas 5%, ekonom menilai gelombang PHK yang terus berlanjut berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
Key Insight
Kasus ini menunjukkan bahwa isu ketenagakerjaan menjadi salah satu topik yang sangat sensitif di tengah kondisi ekonomi saat ini. Ketika informasi mengenai PHK beredar, perusahaan perlu memberikan klarifikasi secara cepat dan konsisten agar spekulasi tidak berkembang menjadi krisis reputasi yang lebih besar.
Teazzi Tuai Kritik usai Kolaborasi dengan Nagita Slavina

Summary
Teazzi Indonesia menjadi sorotan di media sosial setelah kolaborasinya dengan Nagita Slavina menuai kritik dari sejumlah warganet.
Bahkan, sebagian pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap merek minuman asal Taiwan tersebut.
Menurut laporan Suara.com, protes tersebut mengajak warganet untuk memboikot Teazzi. Menanggapi hal tersebut, Teazzi mengklarifikasi bahwa kolaborasi “Nagita for Teazzi” telah berakhir pada April 2026 dan meminta maaf atas kebingungan yang terjadi.
Why It Matters
Kontroversi ini tidak terlepas dari sentimen publik terhadap Nagita Slavina yang belakangan menjadi bahan perbincangan karena kedekatannya dengan lingkaran pemerintahan. Akibatnya, sebagian konsumen menilai kolaborasi tersebut tidak sejalan dengan sentimen publik saat ini.
Di sini lain, sebagian warganet mengapresiasi langkah Teazzi yang segera memberikan klarifikasi dan menjelaskan bahwa produk White Peach merupakan menu reguler, bukan bagian dari kolaborasi yang masih berlangsung.
Key Insight
Kontroversi ini menunjukkan bahwa kolaborasi dengan figur publik kini tidak lagi dinilai semata dari potensi pemasaran. Brand juga perlu mempertimbangkan -persepsi dan sentimen masyarakat terhadap figur publik tersebut.
Brand perlu melihat nilai yang direpresentasikan oleh figur publik, serta potensi risiko reputasi yang dapat muncul ketika sentimen publik berubah.
Cabinet Couture Diblokir oleh Komdigi, Tetap Aktif Lewat Akun Baru

Summary
Akun Instagram Cabinet Couture, merupakan akun Instagram yang dikenal mengunggah identifikasi merek serta perkiraan harga pakaian dan aksesori yang dikenakan pejabat beserta keluarganya. Kontennya kerap menjadi bahan diskusi mengenai gaya hidup pejabat di media sosial. tiba-tiba dibatasi bagi pengguna di Indonesia.
Pekan ini akun yang memiliki lebih dari 100.000 pengikut itu dibatasi bagi pengguna di Indonesia, meski sejumlah pengguna di luar negeri melaporkan bahwa akun tersebut masih dapat diakses.
Why It Matters
Menurut laporan AFU.id, pembatasan tersebut dilakukan Instagram untuk mematuhi permintaan hukum dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), meski tidak dijelaskan konten maupun dasar hukum spesifik yang menjadi alasan pembatasan.
Tak lama setelah pembatasan tersebut, muncul akun baru bernama @cabinetcouture_season2 yang mengklaim sebagai akun pengganti.Pengelola akun juga menyatakan telah melaporkan pembatasan tersebut kepada SAFEnet.
Key Insight
Kasus ini kembali memunculkan diskusi mengenai transparansi dalam moderasi konten di platform digital.
Meski Meta menjelaskan bahwa pemerintah dapat meminta pembatasan akses terhadap konten yang diduga melanggar hukum di suatu negara, alasan spesifik di balik permintaan tersebut tidak selalu dipublikasikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transparansi komunikasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap proses moderasi konten.
Meski berasal dari konteks yang berbeda, ketiga isu pekan ini menunjukkan bahwa persepsi publik berkembang sangat cepat dan dapat memengaruhi reputasi perusahaan, brand, maupun institusi. Di era media sosial, komunikasi yang cepat, transparan dan konsisten menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan publik ketika sebuah isu mulai berkembang.