Musik AI Semakin Marak, Ini Tantangan Jadi Komposer dan Produser Bagi Farhan Sarasin 

Selama bertahun-tahun menempuh studi S1 dan S2 di Amerika Serikat dan Spanyol, Farhan Sarasin telah membangun kariernya sebagai komposer dan produser. 

Namanya mungkin lebih dikenal lewat karya-karyanya di skena Virtual Youtuber, khususnya untuk Hololive ID, cabang Indonesia dari agensi Vtuber asal Jepang tersebut. 

Kini, ia juga menggarap industri film Indonesia, seperti musik untuk film layar lebar Ambyar Mak Byar, My Annoying Brother, Modal Nekad, hingga yang paling terkini, serial Netflix Luka Makan Cinta.

Jelas, ia tahu betul bagaimana musik seharusnya terdengar.

Namun belakangan, ada sesuatu yang mulai mengusik telinga para pelaku industri: musik yang dihasilkan bukan oleh manusia, melainkan oleh Artificial Intelligence (AI).

RadVoice Indonesia berkesempatan untuk berbincang dengan Farhan tentang fenomena yang kini semakin sulit diabaikan.

Baca juga: Bagaimana Peran Pendidik Bergeser di Era ChatGPT Menurut Johan Purnama

Ketika Musik AI Sudah Ada di Sekitar Kita

Sebagai produser musik, Farhan bisa langsung menangkap sesuatu yang janggal saat mendengar lagu dibuat oleh AI. (Foto oleh Farhan Sarasin)

Bagi Farhan, fenomena tersebut bukan sekadar perdebatan yang terjadi di industri.

Ia mengaku pernah menjumpai musik yang diduga dibuat AI secara langsung saat berada di ruang publik.

Hal itu terjadi saat Tahun Baru 2026, saat sedang sarapan di hotel, terdengar alunan musik yang disetel di ballroom. Farhan menyadari ada yang janggal pada musik tersebut. 

“Liriknya terkesan monoton dan cheesy, dan dari banyaknya lagu yang dimainkan oleh penyanyi terdengar sama,” ujarnya.

Ia juga kesulitan mendeskripsikan kejanggalan tersebut secara teknis. Namun, sebagai seorang produser, telinganya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres pada kualitas vokalnya.

“Vokal di lagu-lagu tersebut terdengar ‘in your face‘ dalam waktu yang cukup lama… terdengar seperti si vokalis mempunyai napas yang tidak habis-habis,” jelasnya.

Dampaknya pun terasa di ruangan. Bukan hanya Farhan yang terganggu, ia menyadari orang-orang di sekitarnya pun merasakan hal yang sama.

“Saat saya lihat ke sekitar saya, mereka pun terlihat kurang menikmati waktu sarapan mereka,” ujarnya.

Pengalaman Farhan bukan anomali. Menurut data dari Hollywood Reporter, sekitar 50.000 lagu AI diunggah ke layanan streaming musik Deezer setiap hari. 

Meski jumlahnya terus meningkat, penerimaan publik masih beragam. Sebanyak 52% responden mengaku tidak tertarik mendengarkan musik yang dibuat oleh AI, sementara 66% mengatakan mereka belum pernah mendengar musik yang mereka ketahui dibuat oleh AI.

Perkembangan kualitas teknologi ini juga menjadi perhatian para pelaku industri musik. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh The Verge, Harvey Mason Jr., CEO Recording Academy, mengatakan bahwa sekitar 18 bulan lalu musik buatan AI masih relatif mudah dikenali. 

Kini, menurutnya, perbedaannya semakin sulit untuk dideteksi. Hal tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Recording Academy, organisasi yang mewakili lebih dari 30.000 profesional musik.

Baca juga: Keseruan Content Creator Fathia Fairuza Meliput WWDC 2025 dan Bertemu CEO Apple

Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan dari AI Musik

Menurut Farhan, AI bisa menjadi pisau bermata dua dalam industri musik. (Foto oleh Farhan Sarasin)

Farhan mengakui bahwa AI memiliki sisi yang bermanfaat bagi para pelaku musik, khususnya dalam proses produksi.

“AI menurut saya bisa jadi pisau bermata dua,” ujarnya.

Ia mencontohkan dua teknologi yang menurutnya sudah terbukti membantu: restorasi audio untuk membersihkan noise dari rekaman di lokasi syuting yang bising, dan stem separation untuk memisahkan instrumen atau vokal dari lagu yang sudah jadi, yang berguna untuk remixing maupun edukasi.

Namun, di sisi lain, ada generative AI musik yang kini tengah menjadi kontroversi hangat di kalangan pelaku industri. Teknologi ini memungkinkan pembuatan lagu hanya dari text prompt atau audio prompt. 

“Saya melihat bahwa penggunaan Gen AI masih terasa tabu di industri kreatif karena berlawanan dengan asas kreativitas itu sendiri. Kita membiarkan kreativitas dihasilkan dari mesin daripada buah pikiran manusianya sendiri,” jelasnya.

Farhan pun mengingatkan soal risiko yang lebih besar jika penyalahgunaan ini dibiarkan.

“Yang butuh diwaspadai adalah penyalahgunaan AI, terutama Generative AI, yang bisa menimbulkan masalah legal di kemudian hari, atau mungkin bisa membelah industri kreatif itu sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Medsos Menunjang Karier Humas Asti Candramaya dan 120.000+ Pengikutnya

Jangan Takut pada AI, tapi Juga Jangan Menutup Mata

Generative AI masih bergantung pada data yang dibuat sebelumnya, maka dari itu, Farhan mendorong komposer untuk mempertajam musikalitas dan originalitas. (Foto oleh Farhan Sarasin)

Kelebihan AI yang banyak dibicarakan saat ini adalah kemampuan menghasilkan karya musik dengan kecepatan instan. 

Walau demikian, Farhan menegaskan bahwa human sense dalam kreativitas masih sering kali diperlukan dalam berkarya dan memecahkan masalah. Ia menyarankan agar komposer fokus pada apa yang belum bisa dilakukan AI.

“Daripada mengkhawatirkan apakah pekerjaan ini akan lenyap karena AI, komposer bisa fokus pada hal apa yang AI belum punya,” ujarnya.

Karena Generative AI masih bergantung pada data yang dibuat sebelumnya, Farhan mendorong komposer untuk mempertajam musikalitas dan originalitas, sekaligus memperluas koneksi ke pelaku industri kreatif lainnya.

Menurutnya, fleksibilitas adalah kunci. Komposer masa kini dan mendatang perlu mahir di berbagai genre dan bidang, serta terus memperbanyak pengalaman dengan mengerjakan musik yang variatif dan out-of-the-box.

“Ikuti perkembangan teknologi, terutama yang dapat membantu menaikkan kualitas produksi,” ujarnya.

Kesimpulan

Di era teknologi AI, kemampuan untuk tetap relevan, fleksibel, dan setia pada suara kreatif masing-masing menjadi hal yang paling menentukan. (Foto oleh Freepik)

Di masa  perkembangan teknologi yang pesat, musik AI kini tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak bagi para pelaku industri. 

AI sudah hadir di ruang-ruang publik, di platform streaming, bahkan dalam pengalaman mendengar sehari-hari yang sering kali tidak disadari.

Bagi Farhan, tantangan terbesar bukanlah keberadaan AI itu sendiri, melainkan bagaimana para komposer dan produser musik merespons perubahan tersebut tanpa kehilangan identitas kreatif mereka.

Pada akhirnya, Farhan melihat bahwa industri musik tidak sedang bergerak menuju penggantian manusia oleh AI, melainkan menuju perubahan cara kerja yang menuntut adaptasi. 

Dalam perubahan ini, kemampuan untuk tetap relevan, fleksibel, dan setia pada suara kreatif masing-masing menjadi hal yang paling menentukan.

Wawancara dengan Farhan Sarasin dilakukan pada Juni 8 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.


Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.