Di kolom komentar berita mungkin Anda pernah melihat komentar yang mengkritik artikel tersebut tidak “cover both sides”.
Selain itu, prinsip ini juga menjadi salah satu pelajaran pertama yang diajarkan pada para calon jurnalis sebelum mereka terjun ke lapangan.
Namun, jika diterapkan secara mentah-mentah, ternyata prinsip jurnalistik yang satu ini malah bisa menjadi bumerang bagi media itu.
Dirangkum dari beberapa sumber, RadVoice menyajikan penjelasan lengkap soal cover both sides dalam jurnalistik termasuk cara penerapannya.
Apa yang Dimaksud Cover Both Sides?

Istilah cover both sides menjadi hal yang umum dibicarakan dalam dunia jurnalistik. (Foto oleh Magnific)
Di dalam dunia jurnalistik, istilah cover both sides menjadi hal yang umum didengar dan dibahas. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, cover both sides memiliki arti meliput dari dua sisi.
Lebih luas lagi, menurut blog Tempo Institute cover both sides merupakan salah satu prinsip dalam jurnalisitk yang berarti memastikan sebuah berita disajikan tanpa memihak.
Hal ini berarti, sebuah artikel berita tidak boleh hanya mengungkap keterangan dari satu pihak saja.Sebuah berita harus berimbang dengan menghadirkan penjelasan dari pihak-pihak yang saling berlawanan.
Diharapkan masyarakat yang membacanya bisa menilai sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan dari para narasumber.
Baca juga: Apa Itu Jurnalisme Investigasi? Ini 6 Tahapan Awal yang Perlu Dilakukan Sebelum Liputan
Keuntungan Cover Both Sides
Sebagai salah satu prinsip jurnalistik, cover both sides memiliki beberapa manfaat atau keuntungan.
Dirangkum dari blog Tempo Institute dan Binus University, berikut adalah keuntungan dari prinsip jurnalistik ini.
Mencegah Bias Informasi
Sebuah media massa harus bisa memastikan bahwa berita yang disajikannya tidak menggiring opini publik oleh satu pihak.
Menyajikan berita yang disertai dari berbagai narasumber berlawanan membantu agar laporan itu tidak terkesan seperti pengumuman atau produk hubungan masyarakat (humas).
Selain itu, pemberitaan yang disajikan juga tidak terkesan mendukung satu pihak saja dengan memberi kesempatan pihak lainnya untuk bersuara.
Menjaga Objektivitas
Media massa merupakan tempat sumber informasi untuk disampaikan kepada masyarakat. Sumber informasi yang dimaksud tidak sekadar pengumuman tapi juga berisi penjelasan yang mencerdaskan masyarakat.
Prinsip cover both sides bisa melindungi objektivitas sebuah laporan berita dan membuat berita menjadi lebih transparan.
Masyarakat kemudian bisa menilai dan mengambil keputusan berdasarkan informasi dari pihak-pihak yang disuarakan.
Melindungi Kredibilitas
Memberikan kesempatan pihak berlawanan untuk berbicara juga bisa melindungi kredibilitas suatu media dan wartawan. Sebab, media serta wartawan yang bekerja di dalamnya sudah bekerja sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Selain itu, menyajikan laporan berita yang berimbang bisa meningkatkan kepercayaan publik terhadap media tersebut.
Hal ini disebabkan karena cover both sides menunjukkan media itu memberikan kesempatan untuk semua pihak berbicara.
Baca juga: Memahami Istilah Jurnalisme Konstruktif: Dari Sensasi ke Solusi
Cover Both Sides Jangan Sampai Jadi Bothsideism

Cover both sides bisa berakhir menjadi bothsidedism jika diterapkan mentah-mentah. (Foto oleh Magnific)
Di samping manfaat dari prinsip cover both sides, ternyata jika diterapkan mentah-mentah bisa berbahaya bagi media itu sendiri dan masyarakat.
Cover both sides yang salah kaprah dikenal sebagai bothsideism.
Menurut Democracy Toolkit, bothsideism terjadi ketika seseorang atau media berdalih menyajikan dua pandangan sebagai objektivitas, tapi tidak memikirkan kebenaran pendapat itu.
Di dalam bothsideism, yang penting adalah menyajikan dua pendapat yang berseberangan, sementara kebenaran atau faktanya tidak diperhitungkan.
Mantan jurnalis The Washington Post, Geneva Overholser, yang pernyataannya dimuat oleh Remotivi, mengatakan banyak jurnalis yang terlalu keras menghindari peluang bias dalam laporannya.
Menurutnya, banyak jurnalis memaksakan menggunakan sumber dari pihak berlawanan yang sebenarnya tidak mempunyai data dan fakta untuk mendukung pendapatnya.
Selain berbahaya bagi media itu sendiri yang kehilangan kredibilitasnya, bothsideism juga bisa berbahaya bagi masyarakat.
Jika pendapat yang tidak sesuai fakta dan data disampaikan, bukan tidak mungkin justru menjadi sesuatu yang dipercaya oleh publik.
Penerapan Cover Both Sides Supaya Tidak Salah Langkah
Supaya prinsip cover both sides tidak berakhir menjadi bothsideism, seorang wartawan harus memahami penerapan yang tepat.
Dikutip dari blog Itimes, berikut ini cara agar penerapan cover both sides lebih bermanfaat untuk media dan publik.
Hati-Hati dengan Narasumber yang Berusaha Menutupi Fakta

Jurnalis harus memahami konteks isu secara keseluruhan sebelum wawancara narasumber. (Foto oleh Magnific)
Seorang jurnalis harus peka dan memahami konteks isu secara keseluruhan ketika mencari informasi dari narasumber. Sebab, tidak sedikit narasumber yang berupaya menutupi fakta sehingga memberi informasi yang menyesatkan atau tidak sesuai.
Pernyataan yang didapatkan dari satu sumber pun tidak bisa disajikan mentah-mentah.
Sebelum menyajikan artikel berita, wartawan harus manyaring informasi yang ia terima serta didukung oleh fakta dan data. Diharapkan, pada akhirnya meski ada pernyataan meragukan, publik tetap bisa mengetahui data dan fakta di lapangan.
Baca juga: Apakah Koreksi, Klarifikasi, dan Takedown Berita di Media Dapat Dilakukan?
Kumpulkan Data yang Terverifikasi
Supaya prinsip cover both sides tetap bermanfaat dan tidak terjerumus pada bothsideism, wartawan harus memiliki data kuat terverifikasi.
Di dalam jurnalisme ekonomi, data yang terverifikasi akan menjaga integritas pemberitaan. Sehingga, meskipun laporan berita memiliki beberapa narasumber dengan berbagai pendapat, data tersebut tetap bisa berbicara.
Menjaga Etika dan Akurasi
Di dalam konteks jurnalisme hiburan, cover both sides tetap harus dijalankan. Namun, tentunya dengan menjaga etika dan akurasi.
Berita di jurnalisme hiburan sering kali membahas tentang pribadi figur publik. Pemberitaannya juga kerap dipengaruhi oleh opini atau rumor tentang figur publik itu.
Oleh karenanya, seorang wartawan isu hiburan harus tetap menjaga etika ketika mencari informasi.
Kesimpulan
Tak bisa dipungkiri, cover both sides merupakan prinsip penting dalam dunia jurnalistik. Akan tetapi, dalam penerapannya ternyata tidak bisa dilakukan tanpa pertimbangan.
Jika cover both sides semata-mata dipahami dengan menyajikan dua pendapat berlawanan, ditakutkan informasi menyesatkan justru akan beredar di masyarakat.
Pendapat yang berlawanan itu memang penting untuk membuka pemikiran, tetapi harus disertai dengan data yang mendukung.
Selain menyajikan informasi dari keterangan narasumber, jurnalis juga dituntut untuk mampu memberikan data dan fakta yang terverifikasi.
RadVoice terus berkomitmen untuk memberikan dukungan bagi brand melalui narasi dan inisiatif yang berdampak. Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan untuk membuka eksposur yang lebih luas, segera hubungi RadVoice!
