Budaya membaca di Jakarta sedang mengalami pergeseran yang menarik. Jika dulu perpustakaan identik dengan ruang sunyi yang kaku, kini membaca hadir sebagai bagian dari gaya hidup yang kembali diminati banyak anak muda.
Fenomena seperti bookstagram, komunitas membaca, book cafe, hingga tren berburu perpustakaan estetik menunjukkan bahwa aktivitas yang dulu terasa niche kini perlahan menjadi bagian dari kultur populer.
Namun di tengah tren tersebut, Sheilla Njoto, co-founder Margin: Library and Third Space, melihat adanya sesuatu yang lebih dalam dari sekadar estetika membaca. Menurutnya, banyak orang sebenarnya sedang mencari ruang untuk kembali merasa dekat dengan rasa penasaran mereka sendiri.
Berawal dari Kelelahan Akan Dunia yang Terlalu Cepat
Lahirnya Margin berangkat dari keresahan yang cukup personal. Sheilla dan kedua co-founders lainnya yang bekerja di bidang riset merasa lelah dengan rutinitas yang terus menuntut produktivitas, tetapi sering kali terasa kosong secara emosional maupun intelektual.
“Informasi itu banyak sekali, semua hal bekerja di saat yang sama, but we never inspired,” ungkap Sheilla.
Baginya, banyak orang hidup di tengah kultur yang sangat overstimulating, tetapi jarang benar-benar memiliki ruang untuk menikmati rasa ingin tahu secara terbuka.
Membaca buku, menonton film, bahkan mengenal orang lain sering kali dilakukan karena takut tertinggal tren, bukan karena ketertarikan yang benar-benar personal.
Dari keresahan itu, ia menghadirkan Margin sebagai perpustakaan juga ruang untuk memberi tempat bagi curiosity yang sering kali terpinggirkan oleh rutinitas sehari-hari.
Baca juga: Bagaimana Peran Pendidik Bergeser di Era ChatGPT Menurut Johan Purnama
Membaca Terasa Semakin Personal
Menurut Sheilla, meningkatnya tren membaca juga tidak bisa dilepaskan dari kelelahan digital yang semakin banyak dirasakan orang hari ini.
Di tengah dunia yang dipenuhi algoritma, AI, dan konsumsi informasi cepat, aktivitas yang bersifat analog justru mulai terasa lebih dekat dan personal.

Hal-hal seperti membaca buku fisik, bergabung dengan komunitas baca di akhir pekan, atau sekadar menghabiskan waktu di perpustakaan perlahan menjadi pengalaman yang kembali dicari. “Anything yang tidak digital itu jadi curiosity yang bernilai, bahkan jadi luxury,” jelasnya.
Membaca menjadi bagian dari cara baru masyarakat sekarang membangun kedekatan dengan diri mereka sendiri dan lingkungan sekitar.
Menghadapi Ritme yang Serba Cepat
Di tengah tren tersebut, Sheilla juga melihat tantangan baru. Ketika membaca mulai menjadi bagian dari lifestyle, tidak sedikit ruang baca yang akhirnya lebih fokus menjual suasana dibanding membangun diskusi yang hidup.
Bagi Sheilla, ketertarikan terhadap budaya membaca tentu merupakan hal yang positif. Namun bersama Margin ia tetap ingin menjaga agar pengetahuan tidak berhenti sebagai estetika atau simbol intelektualisme semata.
“Margin dibuat bukan untuk meromantisasi buku atau membuat knowledge terasa eksklusif,” jelas Sheilla.
Karena itu, Margin dihadirkan sebagai ruang yang tidak hanya dipenuhi rak buku, tetapi juga percakapan. Pengunjung diperbolehkan berdiskusi, bertukar perspektif, hingga mengikuti berbagai program yang dikurasi berdasarkan tema tertentu setiap kuartalnya.

Mulai dari isu gender, sejarah, hingga dekonstruksi kapitalisme, seluruh program tersebut dirancang untuk mendorong pengunjung tetap dekat dengan rasa ingin tahu mereka.
Baca juga: Bagaimana Dea Riskika Putri Membangun Ruang Aman dan Akses Untuk Pemberdayaan Perempuan Indonesia
Radical Curiosity dan Ruang untuk Bertanya
Di Margin, rasa penasaran tidak selalu harus hadir lewat teks atau teori yang berat. Dari situlah muncul konsep radical curiosity yang menjadi pondasi ruang ini.
Sheilla menggambarkannya sebagai rasa ingin tahu yang tetap hidup bahkan ketika dunia terasa semakin sibuk dan bising. Karena itu, program-program yang disediakan bersama komunitas-komunitas hadir dari berbagai pilar mulai dari musik, film, seni, sampai puisi.

“Yang paling penting adalah menciptakan ruang yang tidak membuat orang takut terlihat tidak tahu sehingga orang datang ke Margin bukan karena mereka sudah yakin dengan knowledge yang mereka punya, tapi justru karena mereka ingin tahu lebih banyak,” jelas Sheilla.
Pendekatan ini juga menjadi cara Sheilla menghindari gatekeeping pengetahuan yang sering membuat ruang literasi terasa eksklusif atau mengintimidasi.
Alih-alih menempatkan pengetahuan sebagai sesuatu yang harus dipamerkan, ia ingin menjadikannya sebagai proses belajar bersama yang lebih terbuka dan manusiawi.
Baca juga: Cerita Penerjemah Arsip Fina Andriani Menjaga Makna Sejarah
Menjaga Kejujuran dalam Rasa Ingin Tahu
Bersama tren yang terus berkembang, Sheilla melihat bahwa yang sebenarnya dicari banyak orang hari ini mungkin bukan hanya tempat membaca.
Lebih dari itu, orang-orang sedang mencari ruang untuk berdialog, berpikir lebih detail dan dalam, dan merasa aman untuk mempertanyakan banyak hal.
Baginya, perpustakaan bukan tentang seberapa banyak koleksi yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana sebuah ruang bisa membuat seseorang nyaman untuk terus penasaran.
Di tengah dunia yang menuntut orang untuk selalu terlihat tahu segalanya, rasa ingin tahu yang jujur justru menjadi sesuatu yang semakin berharga.
Wawancara dengan Sheilla Njoto dilakukan pada tanggal 11 Mei 2026. Percakapan dengan Sheilla telah diedit agar lebih ringkas.