Di era ketika siswa bisa belajar dari YouTube, mengikuti diskusi di TikTok, hingga bertanya langsung ke ChatGPT, peran guru sebagai pendidik mulai dipertanyakan. Apakah mereka masih relevan di tengah akses terhadap informasi yang begitu cepat?
Menurut Johan Purnama, kepala SMKS Purnama Depok, yang diwawancarai RadVoice Indonesia, perubahan ini memang ada.
Meski baru sekitar empat tahun aktif memimpin sekolah, Johan tumbuh dekat dengan dunia pendidikan karena berasal dari keluarga pendidik dan yayasan sekolah yang telah lama bergerak di bidang tersebut.
Namun, bukan berarti peran guru akan tergantikan. Justru, peran itu sedang berubah menjadi sesuatu yang lebih mendasar.
Baca juga: Dari Liputan ke Liburan: Cerita Mantan Jurnalis Nur Azizah yang Kini Jadi Travel Content Creator
Sekolah Masih Tertinggal dari Dunia Digital

Meski perubahan cepat, Johan menilai sekolah masih kesulitan beradaptasi dengan era digital di tengah tingginya penggunaan AI dan tekanan sosial baru. (Foto oleh Johan Purnama)
Meski perubahan terjadi begitu cepat, Johan menilai sekolah belum sepenuhnya siap menghadapinya.
“Dengan berat saya bilang sekolah hari ini sangat terseok-seok untuk bertransformasi serta beradaptasi dengan pendidikan era digital yang serba cepat,” jelasnya.
Hal ini juga terlihat dari penggunaan teknologi di kalangan pelajar, di mana 86,21% responden pelajar (SMA dan mahasiswa) mengaku menggunakan bantuan AI setidaknya sekali dalam sebulan untuk menyelesaikan tugas, menurut survei Tirto bersama Jakpat tahun 2024.
Ia melihat berbagai persoalan mulai muncul, dari konflik relasi di sekolah hingga meningkatnya tekanan mental pada siswa dan guru.
“Kegagapan sekolah dalam isu-isu psikologis sosial menambahkan persoalan baru pada era sekarang,” ucapnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana menghadapi dampak sosial dan psikologis yang menyertainya.
Baca juga: Peran Komunikasi Publik bagi Antariksa Akhmadi sebagai Pustakawan di Era Digital
Otoritas di Kelas Mulai Berubah

Perubahan akses informasi juga berdampak pada dinamika di dalam kelas, termasuk soal otoritas guru.
Johan mempertanyakan kembali apakah otoritas memang diperlukan dalam proses mencari pengetahuan.
“Apakah otoritas seperti itu sejak awal memang dibutuhkan dalam mencari ilmu pengetahuan atau kebenaran? Sejatinya sih tidak, karena kebenaran itu tidak terikat oleh otoritas tunggal,” jelasnya.
Namun, ia mengakui bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih belum sepenuhnya lepas dari pola tersebut.
Karena itu, guru perlu beradaptasi dengan cara menjadi lebih terbuka terhadap diskusi dan masukan, termasuk dari siswa.
“Tugas utama guru saat ini harus bisa menjadi pembimbing dan mengarahkan siswa dalam proses mencari kebenaran mereka masing-masing,” ucapnya.
Baca juga: Ngobrol Bahasa Korporat bersama Dosen Antropologi Budaya Annisa Arum
Guru Harus Melek Digital dan Rendah Hati
Meski peran guru tetap penting, Johan mengakui bahwa tuntutan terhadap profesi ini semakin besar.
Ia menilai guru tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi.
“Yang pertama tentu harus melek digital itu sendiri; itu sudah mutlak dan tidak terbantahkan lagi,” tuturnya.
Selain itu, guru juga perlu menyadari bahwa mereka bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan.
“Guru harus menjadi lebih rendah diri dan memiliki kesadaran penuh bahwa dirinya lah bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan utama.”
Menurutnya, sikap terbuka untuk terus belajar, bahkan bersama siswa, menjadi kunci agar guru tidak tertinggal di era digital.
Baca juga: : Cerita Pustakawan Diona Septia: Mengelola Emosi, Informasi, dan Ekspektasi Publik
Dari Memberi Jawaban ke Membimbing

Di tengah banjir informasi, Johan menilai peran guru justru semakin penting, terutama dalam membentuk cara berpikir siswa.
“Justru peran guru saat ini krusial, bukan hanya untuk memilah benar dan salah dalam mendapatkan informasi,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa guru perlu mendorong siswa untuk berpikir kritis dan tidak langsung menerima informasi mentah-mentah.
“Harus selalu bersikap ragu atau curiga terhadap informasi yang diperoleh,” ujarnya.
Bagi Johan, proses mencari pengetahuan dan bersikap kritis menjadi hal utama dalam pendidikan saat ini.
Baca juga: Pendekatan Jurnalis CNN Indonesia Lidya Kembaren saat Menulis Berita Ekonomi
Guru Tidak Bisa Digantikan Teknologi
Johan menilai akses terhadap pengetahuan kini jauh lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.
Tetapi menurutnya ada aspek yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu relasi manusia.
“Guru harus bisa lebih menjalankan perannya dengan pendekatan nilai-nilai humanis, bukan semata-mata hadir secara ketubuhan atau fisik yang nampak ada, tapi harus bisa hadir dalam bentuk kedalaman,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya kehadiran guru sebagai sosok yang mampu memahami emosi siswa, menjadi pendengar, serta membangun hubungan yang sehat di dalam kelas.
Menurutnya, di tengah hubungan siswa dengan teknologi yang semakin kuat, ada risiko berkurangnya kemampuan manusiawi yang justru perlu dijaga oleh guru.
“Maka dari itu, meski saat ini tugas guru terlampau berat, peran guru tidak akan bisa tergantikan sampai kapan pun dan oleh teknologi mana pun,” jelasnya.
Baca juga: Bagaimana Dea Riskika Putri Membangun Ruang Aman dan Akses Untuk Pemberdayaan Perempuan Indonesia
Kesimpulan
Perubahan teknologi tidak menghapus peran guru, tetapi menggesernya.
Dari yang sebelumnya menjadi pusat pengetahuan, kini guru berperan sebagai pembimbing dalam proses belajar.
Di tengah dunia yang penuh informasi, kehadiran guru tetap dibutuhkan untuk menjaga sisi manusiawi, membangun relasi, dan membantu siswa berpikir lebih kritis.
Wawancara dengan Johan Purnama dilakukan pada 3 Mei 2026. Percakapan dengan Johan telah diedit agar lebih ringkas.