Dari Liputan ke Liburan: Cerita Mantan Jurnalis Nur Azizah yang Kini Jadi Travel Content Creator

nur azizah

Bermula dari konten video tentang bekerja dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di masa Covid-19, Nur Azizah kini dikenal sebagai travel content creator yang aktif membagikan cerita perjalanan di akun media sosialnya.

Berbekal pengalaman sebagai jurnalis di sejumlah media, Azizah tak cuma menampilkan visual yang estetik tapi juga cerita yang kuat soal perjalanannya.

Meski pada realitanya, tak semua konten travel yang ia unggah berhasil menarik perhatian. Ada kalanya konten yang diunggah minim penonton. Namun tak jarang kontennya viral hingga diundang bekerja sama dengan brand besar.

Baca juga: 10 Tips Menulis Artikel Travel yang Menghidupkan Suasana

Kini jumlah pengikutnya mencapai hampir 50 ribu di Instagram. Azizah masih rutin membagikan cerita perjalanannya tak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri.

Apa saja yang membuat perjalanannya kini berbeda dari saat masih menjadi jurnalis? RadVoice Indonesia telah mewawancarai Azizah untuk menyimak cerita lengkapnya.

Berbekal pengalaman sebagai jurnalis di sejumlah media, Azizah tak cuma menampilkan visual yang estetik tapi juga cerita yang kuat soal perjalanannya. (Semua foto oleh Nur Azizah)

Beralih dari Jurnalis ke Travel Content Creator

Rasa penasaran menjadi salah satu hal yang mendorong Azizah dalam membuat konten traveling. Ia tak hanya tertarik pada keindahan visual suatu tempat, tetapi juga cerita di baliknya.

Baginya, memahami sejarah atau kisah lokal justru lebih menarik dibanding sekadar menikmati pemandangan. Pengalamannya sebagai jurnalis juga mendorongnya untuk banyak bertanya dengan mewawancarai warga atau narasumber lain yang relevan saat membuat konten.

“Gue selalu tertarik dengan behind story dari tempat yang gue kunjungi. Kadang cerita atau sejarahnya lebih menarik daripada visualnya. Jadi banyak tanya sampai mikir, ‘nanya mulu kayak wartawan’,” selorohnya.

Hal itu pula yang akhirnya membentuk cara Azizah dalam membuat konten. Ia berupaya agar konten yang dibagikan lebih informatif, sehingga penonton juga mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat.

Baca juga: Jurnalis DestinAsian Indonesia Christina Andika Berbagi Tips Membuat Konten Travel Memikat

Bersaing dengan Algoritma

Azizah menyadari bahwa tidak semua konten informatif selalu mendapat respons yang diharapkan. Seperti misalnya saat ia membuat konten video tentang ibadah umrah mandiri. Ternyata video tersebut tak diminati banyak penonton.

“Pernah juga buat konten terkait tradisi dan budaya di Toraja tapi ternyata viewers-nya rendah. Padahal menurut gue itu unik dan punya value,” katanya.

Dalam situasi tersebut, Azizah kerap menyiasatinya dengan menyisipkan konten yang lebih ringan dengan durasi singkat atau mengikuti preferensi algoritma.

Setelah performa akun kembali stabil, ia pun kembali menghadirkan konten yang lebih mendalam dan informatif.

Azizah menyadari bahwa tidak semua konten informatif selalu mendapat respons yang diharapkan.

Sebagai mantan jurnalis, Azizah juga terbiasa mencari angle unik dan membuat storyline terlebih dulu sebelum membuat konten. Hal itu yang menurutnya membedakan dengan content creator lain.

“Karena content creator tuh banyak banget dan tempatnya kadang itu aja, jadi kita harus cari yang beda. Tempat boleh sama, tapi ide dan angle beda. Kayak wartawan, peristiwa sama tapi angle berita pasti beda,” tuturnya.

Baca juga: Tips Membangun Media Relations Efektif untuk Bisnis Travel

Overexposure Tempat Wisata

Di sisi lain, harus diakui bahwa keberadaan travel content creator kerap kali berujung pada viralitas suatu tempat wisata. Destinasi yang semula sepi pengunjung, mendadak ramai setelah muncul konten dari para content creator di bidang traveling tersebut.

Azizah sendiri mengakui bahwa keberadaan travel content creator ibarat dua mata pisau. Di satu sisi mereka bermanfaat untuk mempromosikan suatu tempat wisata, tapi di sisi lain keberadaannya bisa berakibat overexposure suatu tempat.

“Alhasil tempat itu belum siap menampung banyak orang. Atau memang pengelola yang nggak bisa memprediksi fenomena seperti ini,” katanya.

Menurut Azizah, keberadaan travel content creator ibarat dua mata pisau yang dapat berdampak positif maupun negatif pada tempat wisata.

Hal ini kadang juga terjadi karena banyak content creator yang sekadar ikut-ikutan membuat konten di tempat viral. Misal content creator A membuat konten di suatu tempat hingga viral dan diikuti banyak content creator lain di tempat yang sama. Sementara, menurut Azizah, masih banyak tempat lain yang juga butuh promosi.

“Contohnya promosi 10 destinasi super prioritas. Gue merasa orang cuma fokus di Bali dan Labuan Bajo. Padahal ada Danau Toba dan tempat wisata lain yang juga bisa dieksplor lebih,” jelasnya.

Upaya tersebut, kata Azizah, juga mencegah penumpukan turis hanya di satu destinasi wisata seperti Bali karena berpotensi menimbulkan overtourism dan dampak negatif ke depan.

Realita di Balik Travel Content Creator

Meski terlihat menyenangkan karena membuat konten jalan-jalan, Azizah mengakui bahwa realitanya menjadi travel content creator memiliki sisi lain yang tak terlihat. Ia tak selalu sungguh-sungguh menikmati momen traveling tersebut. Di balik setiap perjalanan, otaknya terus bekerja memikirkan konten apa yang harus dibuat.

“Saat traveling tetap harus mikir, kira-kira bisa menghasilkan konten seperti apa, konten kayak gimana yang bakal oke,” ucapnya.

Azizah juga harus memikirkan proses di balik layar seperti mengedit hingga mengunggah konten foto atau video untuk terus menghidupkan akun media sosialnya.

“Karena medsos nggak boleh libur meskipun kita lagi liburan,” tuturnya.

Kesimpulan

Perjalanan Nur Azizah dari jurnalis hingga menjadi travel content creator menunjukkan pentingnya storytelling di era digital.

Berbekal pengalaman sebagai jurnalis, ia tidak hanya membagikan konten perjalanan yang menarik secara visual, tetapi juga menghadirkan cerita dan konteks yang lebih dalam di balik setiap destinasi.

Meski ia juga harus menghadapi realita industri konten yang dinamis, mulai dari ketergantungan pada algoritma, tantangan menjaga konsistensi, hingga dampak viralitas terhadap destinasi wisata.

Pengalamannya memperlihatkan bahwa menjadi travel content creator bukan sekadar soal jalan-jalan, tapi juga kerja kreatif yang menuntut riset dan strategi.

Wawancara dengan Nur Azizah dilakukan pada 27 April 2026. Percakapan dengan Nur Azizah telah diedit agar lebih ringkas.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.