Tidak semua isu penting mudah dipahami. Dalam banyak kasus, justru isu-isu yang paling krusial, terutama dalam konteks pembangunan, sering kali terasa jauh, kompleks, dan sulit dicerna oleh publik.
Bukan tanpa alasan. Isu-isu ini kerap dipenuhi data, istilah teknis, hingga konteks kebijakan yang tidak selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, sebagian di antaranya juga bersifat sensitif sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati.
Dalam konteks inilah storytelling mulai mengambil peran yang lebih strategis. Tak sekadar untuk menarik perhatian, tetapi juga sebagai cara untuk menjembatani kompleksitas sekaligus menjaga bagaimana sebuah isu disampaikan.
Eka Gona Putri, ahli komunikasi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di organisasi non-profit internasional memahami kebutuhan ini.
“Dalam konteks NGO internasional, storytelling memainkan peran krusial dalam media relations.”
Mengapa Isu Pembangunan Sulit Dikomunikasikan?
Isu pembangunan sering kali dinilai sensitif karena berada dalam spektrum yang tidak sederhana. Banyak di antaranya berbentuk proses jangka panjang, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, serta memiliki konteks sosial dan budaya yang berlapis.
Hal ini membuat pesan yang ingin disampaikan tidak selalu bisa diringkas menjadi satu narasi yang mudah dipahami dalam waktu singkat.
Selain itu, pendekatan komunikasi dalam isu pembangunan juga tidak selalu berangkat dari sesuatu yang kasat mata. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Gona.
“Berbeda dengan korporasi yang memiliki produk fisik atau jasa yang lebih mudah dipahami, ‘produk’ komunikasi kami sering kali berupa cerita dampak (impact stories), kisah humanis, riset, atau policy brief.”
Baca juga: Meliput Topik Sensitif dalam Pemberitaan: Pentingnya Etika dan Empati Jurnalis
Storytelling sebagai Jembatan Isu Kompleks Lebih Mudah Dipahami
Di tengah kompleksitas tersebut, storytelling berfungsi sebagai jembatan untuk isu yang kompleks menjadi sesuatu yang lebih dekat dan bermakna bagi audiens.
Gona menjelaskan, “Storytelling menjadi strategi utama dalam ‘mengonversi’ isu-isu pembangunan yang kompleks agar lebih relevan dan mudah dicerna oleh masyarakat, media, serta pembuat kebijakan.”
Pendekatan ini efektif karena storytelling mampu menghadirkan konteks manusia di balik data. Isu yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih nyata ketika dikaitkan dengan pengalaman individu atau komunitas.

“Kami tidak bisa sekadar menerbitkan laporan atau kebijakan tanpa membangun koneksi emosional dan relevansi dengan audiens,” kata perempuan yang meraih gelar Master of Public Policy and Management dari Monash University ini.
Hal ini juga sejalan dengan temuan Allison Keith dalam Journal of Public Relations yang menyebut bahwa storytelling dalam komunikasi mampu membangun koneksi emosional, memperkuat persepsi publik, dan mendorong keterlibatan audiens secara lebih dalam.
Storytelling Membuat Kompleksitas Menjadi Lebih Terukur
Namun, peran storytelling tidak berhenti pada membuat isu menjadi menarik. Dalam ruang kerja Gona yang dekat dengan isu sensitif, storytelling juga berfungsi sebagai alat untuk menjaga bagaimana sebuah pesan disampaikan.
Ia membagikan pengalamannya, mendetailkan bagaimana storytelling memungkinkan NGO untuk tetap menyampaikan isu penting tanpa harus mengekspos secara berlebihan atau menimbulkan risiko komunikasi.
“Storytelling membantu menjaga framing pesan, menghindari misinterpretasi, melindungi narasumber atau komunitas, serta tetap mempertahankan esensi isu utama pembahasan. Pendekatan komunikasi dalam isu sensitif juga lebih terkontrol dibandingkan isu umum,” terangnya.
Baca juga: Jangan Asal Wawancara! Ini 3 Alasan Anda Perlu Siapkan Pertanyaan dan Contohnya
Dari Data ke Cerita, Dampak Jadi Lebih Nyata
Melalui pengalamannya, Gona melanjutkan bahwa salah satu kekuatan utama storytelling terletak pada kemampuannya mengubah data menjadi pengalaman yang dapat dirasakan.

Ia memberikan contoh dalam konteks isu gender.
“Dalam advokasi isu gender, alih-alih hanya membagikan data statistik tentang ketimpangan, kami mengangkat kisah nyata seorang perempuan di pedesaan yang berhasil mengubah hidupnya melalui program pemberdayaan.”
Pendekatan ini membuat isu lebih cepat dipahami dan menjadi terasa lebih dekat. Cerita menghadirkan dimensi yang tidak dapat ditangkap oleh angka semata, yakni pengalaman, emosi, dan dampak nyata.
Baca juga: Bagaimana Dea Riskika Putri Membangun Ruang Aman dan Akses Untuk Pemberdayaan Perempuan Indonesia
Secara lebih luas, Gona menyampaikan jika storytelling juga berperan dalam mendorong perubahan, dengan membangun empati, sampai mendorong tindakan atau dukungan terhadap suatu isu terutama jika dikombinasikan dengan pemilihan media yang kredibel.
Pemilihan media menjadi salah satu aspek penting agar isu itu tersampaikan.
“Media memainkan peran penting dalam menghubungkan pernyataan kami dengan publik sehingga strategi komunikasi yang tepat sangat diperlukan untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan terhadap organisasi.”
Baca juga: Apa Itu Media Relations? Panduan Dasar untuk Bisnis yang Baru Memulai
Kesimpulan
Gona membagikan bahwa mengomunikasikan isu pembangunan pada akhirnya tetap harus memperhatikan kompleksitas dan sensitivitas yang melekat di dalamnya sehingga tentunya menuntut pendekatan yang lebih strategis.
Storytelling hadir sebagai solusi yang menjaga bagaimana pesan tersebut bisa diterima dan dipahami oleh audiens dengan baik.
Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam praktik komunikasi modern, terutama dengan isu-isu yang kompleks.
Wawancara dengan Eka Gona Putri dilakukan pada Rabu, 26 Maret 2025. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.