Bagaimana Dea Riskika Putri Membangun Ruang Aman dan Akses Untuk Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Berangkat dari pengalaman personal hingga melihat langsung ketimpangan akses bagi perempuan di daerah, Dea Riskika Putri, atau biasa dipanggil Dea, membangun Women Foundation Indonesia (WFI) sebagai ruang aman sekaligus platform pemberdayaan.

Organisasi ini tidak hanya fokus pada bantuan, tetapi juga membangun kapasitas perempuan agar mandiri secara ekonomi, percaya diri, dan mampu menentukan masa depannya sendiri.

Dea, yang juga bekerja sebagai Account Executive di RadVoice Indonesia, menceritakan bagaimana pengalaman personalnya membentuk visi WFI dan program-programnya yang berdampak nyata.

Bagaimana perjalanan personal tersebut membentuk visi organisasi dan bagaimana program-programnya memberi dampak nyata? RadVoice telah mewawancarai Dea untuk mendengarkan ceritanya.

Berikut selengkapnya.

Baca juga: Dari Reporter ke Kreator Kuliner Malang: Cerita Atikah Winahyu Membangun Hopsek.id

Dari Pengalaman Personal ke Misi Pemberdayaan

Dea dalam kegiatan advokasi #berbuatbaik WFI. (Semua foto oleh Dea Riskika Putri).

Perjalanan Dea membangun WFI tidak lepas dari pengalaman hidupnya sebagai perempuan yang tumbuh di tengah berbagai tantangan sosial.

Sebagai individu yang aktif di dunia akademik, profesional, dan sosial, ia melihat langsung bahwa masih banyak perempuan, terutama di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan, ekonomi, serta ruang aman untuk berkembang.

Pengalaman di dunia bisnis dan komunikasi juga membuka perspektif lain. Ia melihat bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai agent of change, tetapi sering kali tidak memiliki wadah, dukungan, maupun kepercayaan diri untuk berkembang secara optimal.

Lebih personal lagi, Dea juga melihat secara langsung pengalaman trauma, termasuk melihat orang terdekat mengalami kekerasan dalam rumah tangga tanpa memiliki daya untuk bangkit atau bersuara.

Dari situ muncul kesadaran bahwa banyak perempuan berada dalam situasi serupa, tetapi tidak memiliki ruang untuk bangkit lagi. “Dari pengalaman tersebut, aku mencoba mengubahnya menjadi kekuatan, turning trauma into power,” ujarnya.

Proses ini menjadi fondasi utama dalam membangun WFI, bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai ruang aman yang memahami dan merangkul perempuan dari berbagai latar belakang.

Dari sinilah, visi utamanya adalah menciptakan ekosistem pemberdayaan agar perempuan dapat bertumbuh, mandiri secara ekonomi, dan berdaya dalam menentukan masa depan melalui pendidikan.

Baca juga: Cerita Pustakawan Diona Septia: Mengelola Emosi, Informasi, dan Ekspektasi Publik

Program Berbasis Dampak, Bukan Sekadar Bantuan

Dea dengan WFI saat berkunjung ke Lelogama, NTT.

Salah satu program yang paling berdampak adalah Women’s Economic and Culture Growth, yang berfokus pada pemberdayaan mama-mama di Lelogama, Nusa Tenggara Timur.

Program ini tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga pendampingan kelompok tenun dan penguatan kapasitas ekonomi.

Lebih dari sekadar peningkatan pendapatan, program ini juga berperan dalam melestarikan budaya lokal, khususnya kain tenun sebagai identitas daerah.

Hasil monitoring menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kondisi ekonomi peserta. Dampaknya bahkan sampai ke keluarga, di mana peningkatan kapasitas seorang ibu berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan anak dan stabilitas rumah tangga.

Selain itu, ada program MinFi Are Here! yang hadir sebagai ruang aman bagi korban kekerasan, sekaligus jembatan untuk menghubungkan mereka dengan lembaga bantuan hukum seperti Komnas Perempuan dan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

Di sisi lain, kegiatan edukatif seperti webinar dan kampanye sosial menjadi pintu masuk bagi perempuan muda untuk memahami isu kesetaraan gender, self-development, dan pemberdayaan diri secara lebih luas.

Baca juga: Strategi Personal Branding Disconesia di Balik Kebangkitan Musik Lawas Indonesia di Amerika Serikat

 Tantangan Mengangkat Isu Perempuan di Media

Dea dengan mama-mama berdaya di Lelogama, NTT.

Berdasarkan pengalaman advokasi Dea, menyuarakan isu pemberdayaan perempuan tidak selalu mudah.

Salah satu tantangan utama adalah bahwa isu ini belum selalu dianggap sebagai prioritas oleh media, sehingga ruang publikasinya terbatas.

Selain itu, cerita perempuan dari daerah sering kalah dengan isu yang lebih viral dan belum banyak dikemas dengan storytelling yang kuat.

Isu sensitif seperti kekerasan seksual, KDRT, dan ketimpangan gender juga membutuhkan pendekatan yang empatik agar dapat diterima oleh audiens luas.

Untuk mengatasi hal tersebut, WFI memperkuat storytelling berbasis dampak dan human interest.

Pendekatan yang digunakan tidak hanya informatif, tetapi juga edukatif dan inspiratif, agar audiens tidak hanya memahami isu, tetapi juga merasa tergerak untuk bertindak.

Salah satu cerita yang paling membekas datang dari seorang peserta program di Lelogama yang disebut sebagai Mama Ratna.

Ia memiliki dua anak, salah satunya masih di sekolah dasar dan juga menjadi anak binaan program.

Sebelumnya, keluarga mereka hanya mengandalkan penghasilan dari berkebun, dengan keterbatasan akses terhadap keterampilan dan pengelolaan ekonomi.

Setelah bergabung dalam program tenun Neka’ Mese, ia mulai belajar dasar keuangan, teknik tenun dengan variasi baru, hingga memahami kualitas produk.

Perlahan, ia mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai jual.

Tidak hanya itu, ia juga mulai aktif dalam kelompok dan berani menyuarakan pendapat, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

Dampaknya terasa langsung pada keluarga. Peningkatan penghasilan membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mendukung pendidikan anak-anaknya.

Bagi Dea, cerita seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang nyata dan berdampak.

Baca juga: Cerita Jurnalis Liputan6 Tira Santia Meliput CEO Indonesia di Australia

Strategi Media Sosial untuk Menjangkau Audiens

Dea bersama anak-anak di Lelogama, NTT.

Di era digital, media sosial menjadi channel utama bagi WFI, khususnya Instagram.

Platform ini dipilih karena paling relevan dengan target audiens dan lebih mudah dioptimalkan dibandingkan dengan website yang masih dalam tahap pengembangan.

Konten yang dibagikan mencakup program berjalan, edukasi singkat, serta highlight kegiatan yang dikemas secara visual dan storytelling.

Salah satu strategi yang efektif adalah kolaborasi melalui fitur collab post dengan komunitas, organisasi, dan media partner.

Dengan cara ini, jangkauan konten menjadi lebih luas karena menjangkau audiens dari kedua pihak.

Selain itu, keterlibatan sebagai media partner dalam berbagai kegiatan juga membantu memperkuat eksposur sekaligus membangun ekosistem kolaboratif dalam menyuarakan isu perempuan.

Baca juga: Ketika Hobi Justru Membantu Praktisi PR Tiffany Diahnisa Bekerja Lebih Baik

Kesimpulan

WFI lahir dari pengalaman personal yang diubah menjadi kekuatan untuk membantu perempuan lain. Dari titik inilah, pendekatan yang dibangun tidak berhenti pada bantuan, tetapi berfokus pada pembangunan kapasitas dan kemandirian jangka panjang.

Di sisi lain, peran media dan media sosial menjadi kunci dalam memperluas cerita dan dampak tersebut.

Dengan storytelling yang kuat dan konsisten, kisah seperti Mama Ratna tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas.

Wawancara dengan Dea Riskika Putri dilakukan pada tanggal 27 Maret 2026. Percakapan dengan Dea telah diedit agar lebih ringkas. 

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.