Di tengah ramainya konten kuliner di media sosial, ada satu pendekatan yang semakin menonjol: storytelling lokal. Bukan sekadar menunjukkan makanan enak atau tempat yang estetik, tetapi menghadirkan pengalaman yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens.
Pendekatan itu yang dilakukan Atikah Ishmah Winahyu melalui Hopsek.id, akun konten kuliner Malang yang ia kembangkan di Instagram dan TikTok.
Sebagai kreator kuliner sekaligus digital marketing specialist, Atikah mencoba menggabungkan informasi, pengalaman personal, dan cerita-cerita kecil dari tempat makan di Malang.
Kepada RadVoice, Atikah bercerita, perjalanan Hopsek.id tidak dimulai dari strategi besar atau rencana matang. Semuanya berawal dari eksperimen sederhana.

Hasrat Bercerita yang Tertunda
Ketertarikan Atikah pada dunia konten sebenarnya sudah muncul sejak lama, bahkan sebelum ia aktif di media sosial seperti sekarang. Saat masih kuliah, ia sudah memulai menjadi kreator kuliner dengan mencoba membuat akun bernama nguliner.id.
Pada masa itu, konten kuliner di media sosial belum sebanyak sekarang. Namun keterbatasan waktu dan biaya membuat ide tersebut tidak berkembang lebih jauh.
“Hasrat membuat konten itu sebenarnya sudah ada dari dulu. Waktu kuliah sempat membuat akun kuliner, tapi karena masih mahasiswa dan uang jajan juga terbatas, akhirnya tidak jalan,” kata Atikah.
Kesempatan itu datang kembali ketika ia tidak lagi bekerja formal sebagai reporter dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga.
Dari aktivitas sederhana seperti mencoba kafe atau makan di luar rumah, ia mulai merekam video dan mengunggahnya ke media sosial. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Namun tanpa disangka, konten-konten tersebut mulai menarik perhatian audiens.
“Ternyata ada followers-nya,” ujarnya.
Dari situlah Hopsek.id perlahan berkembang dan Atikah mulai dikenal sebagai kreator kuliner yang mengulas berbagai tempat makan di Malang.
Baca juga: 9 Cara Membuat Konten Storytelling yang Berkesan Bagi Pembaca
Menemukan Cerita di Balik Sebuah Tempat Makan
Bagi Atikah, membuat konten kuliner bukan sekadar menunjukkan menu makanan. Ia selalu berusaha menemukan sisi unik dari setiap tempat yang dikunjungi.
“Biasanya saya cari yang unik atau menarik dari tempat itu,” jelasnya.
Misalnya ketika mengulas kafe yang berada di pinggir rel kereta. Alih-alih hanya menampilkan kopi atau interior kafe, ia menonjolkan pengalaman menikmati kopi saat kereta melintas.
Begitu pula ketika mengulas tempat makan dengan ciri khas aneka sambal. Cerita yang diangkat bisa berfokus pada proses sambal yang diulek atau karakter rasa pedasnya.
Detail-detail kecil seperti ini membuat sebuah tempat terasa lebih hidup dalam cerita yang disampaikan kepada audiens.
Meski sudah aktif membuat konten, Atikah mengakui bahwa ia masih dalam proses menemukan gaya storytelling yang paling cocok untuk Hopsek.
Kadang ia membuat video tanpa voice over dan hanya mengandalkan suara alami dari suasana tempat. Di lain waktu, ia menggunakan narasi suara atau mengikuti tren audio yang sedang populer di media sosial.
Pendekatan ini ia anggap sebagai proses trial and error.
“Masih mencoba-coba style yang cocok. Terkadang kontennya memakai voice over, lain waktu hanya dengan suara asli dari tempatnya, juga sekali dua kali memasukan sound yang lagi viral,” katanya.

Dengan jumlah pengikut yang masih terus berkembang, Atikah memilih untuk terus bereksperimen sambil membaca respons audiens terhadap setiap konten yang ia buat.
Dalam membuat konten Reels atau TikTok, Atikah berusaha menjaga agar cerita tetap informatif meski dalam durasi yang singkat.
Salah satu prinsip yang ia gunakan adalah memastikan konten menjawab unsur 5W1H.
Informasi yang biasanya ia tampilkan antara lain menu yang tersedia, harga makanan atau minuman, rasa makanan, lokasi tempat, hingga pengalaman saat berkunjung.
“Kalau orang melihat konten kuliner, biasanya yang pertama mereka penasaran itu harga, menunya apa saja, sama rasanya bagaimana,” ujarnya.
Bahasa yang digunakan pun dibuat ringan dan mengikuti gaya percakapan di media sosial agar terasa lebih dekat dengan audiens.
Ketika Konten Sederhana Membawa Dampak Nyata
Bagi Atikah, ukuran keberhasilan konten seorang kreator kuliner tidak hanya dilihat dari jumlah penonton, meskipun angka tersebut tetap menjadi indikator penting bagi kreator.
Jika sebuah video mencapai lebih dari 5.000 penonton, ia sudah merasa senang.
Namun pengalaman yang paling berkesan justru datang ketika kontennya benar-benar membantu pelaku UMKM.
Salah satu contohnya ketika ia membuat konten tentang pedagang yang berjualan di teras rumah di dalam gang kecil. Awalnya ia sempat ragu karena tempatnya sangat sederhana.
Namun video tersebut ternyata ramai ditonton.
Beberapa waktu setelah diunggah, pemilik usaha mengirim pesan bahwa pembeli mulai berdatangan, baik melalui layanan pesan antar maupun datang langsung.
“Senang banget kalau ada owner yang mengabarkan seperti itu,” katanya.
Ia juga pernah membuat video santai saat makan durian yang akhirnya viral hingga ratusan ribu penonton. Ketika kembali ke tempat tersebut, penjual mengatakan ada pembeli yang datang setelah melihat konten miliknya.
Bagi Atikah, itulah salah satu bentuk keberhasilan storytelling yang paling nyata.
Baca juga: 5 Ide Konten dan Live TikTok Tanpa Wajah untuk Bisnis Anda
Menjaga Kejujuran dalam Konten Promosi
Sebagai kreator kuliner yang juga bekerja sama dengan UMKM, Atikah menyadari bahwa kepercayaan audiens adalah hal yang sangat penting.
Karena itu, ia berusaha menjaga keseimbangan antara promosi dan kejujuran dalam kontennya.
Jika sebuah makanan benar-benar sesuai dengan seleranya, ia tidak ragu menyebutnya enak. Namun jika rasanya biasa saja atau kurang cocok, ia menghindari penggunaan kata-kata yang berlebihan.
“Kalau aku bilang enak, berarti memang benar-benar enak menurutku,” katanya.
Jika tidak, ia akan mendeskripsikan rasa secara lebih netral, misalnya gurih, asin, atau pedas, tanpa melebih-lebihkan.
Pendekatan yang sama juga ia lakukan ketika mengulas kafe atau tempat nongkrong. Jika minuman tidak terlalu istimewa, ia akan menyoroti hal lain yang menarik, seperti suasana tempat atau kenyamanan untuk bekerja.

Sebagai digital marketing specialist, Atikah juga melihat storytelling dari sudut pandang strategi. Menurutnya, langkah pertama sebelum membuat konten adalah menentukan audiens yang ingin dituju.
Misalnya ketika membuat konten tentang hotel yang memiliki fasilitas playground. Dalam kasus seperti itu, target audiensnya adalah keluarga yang memiliki anak.
Dari situ kreator dapat menentukan kata kunci yang relevan, seperti “hotel ramah anak” atau kids friendly hotel. Setelah itu, riset terhadap konten lain yang sudah ada juga penting untuk memahami gaya konten yang paling menarik perhatian audiens.
“Jadi sebelum membuat konten, kita harus tahu dulu audiensnya siapa,” jelasnya.
Pengalaman Atikah sebagai mantan reporter juga memengaruhi cara pandangnya terhadap storytelling. Menurutnya, storytelling dalam jurnalisme dan storytelling dalam marketing memiliki pendekatan yang berbeda.
Storytelling jurnalistik lebih menekankan fakta yang berimbang serta bersifat informatif dan edukatif. Sementara dalam storytelling marketing, fakta produk tetap menjadi dasar cerita, tetapi penyampaiannya perlu dikemas lebih menarik dan menghibur.
“Storytelling marketing itu bagaimana cara menyampaikan pesan supaya audiens tidak bosan dan merasa produk yang kita ceritakan sesuai dengan yang mereka cari,” katanya.
Melalui Hopsek.id, Atikah mencoba menemukan titik temu antara dua pendekatan tersebut, yaitu menghadirkan cerita yang tetap faktual, tetapi dikemas dengan cara yang lebih ringan dan dekat dengan audiens.
Baca juga: Strategi Marketing Ramadan 2026 dengan TikTok agar Brand Anda Viral
Tantangan Membaca Selera Penonton
Di dunia konten digital, selera audiens terus berubah. Hal ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi kreator kuliner seperti Atikah.
Pada awalnya, konten yang rapi dan estetik cenderung lebih banyak ditonton. Namun belakangan tren justru bergeser ke arah konten yang terasa lebih natural.
Beberapa kreator bahkan membuat video dengan editing minimal, yaitu hanya menunjukkan perjalanan menuju warung, suasana makan, dan percakapan santai.
Menariknya, justru konten seperti itu yang banyak diminati karena terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perubahan tren ini membuat Atikah mulai menyesuaikan gaya kontennya, termasuk lebih berani menampilkan dirinya dalam video.
Kesimpulan
Perjalanan Atikah melalui Hopsek.id menunjukkan bagaimana storytelling sederhana bisa menjadi jembatan antara kreator kuliner, audiens, dan pelaku usaha lokal.
Dengan pendekatan yang jujur dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, konten kuliner tidak hanya menjadi hiburan di media sosial, tetapi juga bisa membawa dampak nyata bagi UMKM yang diperkenalkan.
Baginya, selama cerita yang disampaikan terasa autentik dan relevan, konten sekecil apa pun tetap punya peluang untuk menggerakkan orang datang, mencoba, dan mengenal lebih dekat sudut-sudut kuliner di Malang.
Wawancara dengan Atikah Ishmah Winahyu dilakukan pada Selasa, 27 Januari 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.