5 Tips Wawancara Narasumber untuk Artikel Profil, Wajib Diperhatikan!

Wawancara narasumber yang tepat akan memberikan informasi yang tepat pula, terutama pada artikel profil. Tujuan mewawancarai narasumber tidak lepas dari tujuan jurnalistik itu sendiri, yakni untuk mendapatkan informasi secara eksklusif dari sudut pandang orang tersebut. 

Menurut laman Masterclass, narasumber dalam jurnalisme adalah seseorang, publikasi, atau dokumen yang memberikan informasi pada berita atau cerita. Secara umum, informasi tertulis memang disampaikan secara to the point, namun berbeda dengan wawancara langsung.

Konten hasil wawancara langsung yang Anda buat seharusnya menyediakan informasi, wawasan (insight), hingga sumber pada pembaca. Bahkan dalam proses interview-nya saja, Anda dan narasumber membangun hubungan saling percaya dan memperluas koneksi demi informasi mendalam. 

Anda ingin wawancara lebih langsung dan menerbitkannya dalam bentuk artikel, siniar (podcast), atau konten carousel di media sosial? Bagaimana tips melakukan wawancara narasumber untuk artikel profil? Mari bahas!

Kriteria Wawancara Narasumber

Mewawancarai narasumber sebenarnya butuh banyak persiapan.

Walaupun Anda dapat melakukannya dalam durasi singkat, namun pemilihan narasumber yang tepat akan berdampak besar pada proses produksi tulisan. 

RadVoice Indonesia merangkum kriteria-kriteria wawancara narasumber sebagai berikut. 

1. Narasumber Relevan dengan Topik Wawancara

Kriteria pertama: Anda perlu mencocokkan ulang apakah narasumber yang Anda pilih sesuai dengan topik wawancara. 

Relevansi narasumber dengan isu, topik, dan keterampilan yang dikuasai diperlukan untuk menghindari wawancara dengan informasi yang setengah-setengah dan kurang mendalam. 

Di samping itu, narasumber juga perlu dipilih sesuai keahlian mereka, agar wawasan yang disampaikan lebih objektif dan profesional. 

2. Narasumber Dipilih Berdasarkan Kredibilitas

Kriteria kedua adalah Anda harus memilihnya berdasarkan kualitas. 

Menurut laman Tempo Institute, terdapat lima urutan narasumber berdasarkan kredibilitas. 

  • Pelaku: narasumber yang berperan sebagai aktor dalam peristiwa penting. Akses wawancaranya bisa saja terbatas dan tidak bebas. Namun tulisan Anda dinilai tinggi ketika berhasil mendapatkan keterangan langsung. 
  • Korban: narasumber yang terlibat dalam peristiwa penting. Sama dengan pelaku, akses wawancaranya terbatas dan tidak bebas, bahkan privasinya wajib dilindungi. Namun, tulisan Anda dinilai tinggi ketika berhasil mendapatkan keterangan langsung. 
  • Saksi mata: narasumber yang melihat peristiwa langsung yang memiliki informasi dan mungkin tidak dimiliki pelaku dan korban.
  • Pihak berwenang: narasumber yang berwenang dan terkait dengan peristiwa, dan dianggap mampu memberi informasi lengkap, legal, dan menyeluruh. 
  • Pengamat: narasumber yang ahli dan berpengalaman yang mampu melihat peristiwa atau kejadian berdasarkan pola, teori, atau pengalaman tertentu. 

3. Narasumber Memiliki Analisis yang Tajam

Kriteria ketiga yakni memiliki analisis yang tajam. Sebagai orang yang dipercaya untuk memberikan keterangan langsung, setidaknya narasumber harus memiliki analisis tajam terhadap persoalan atau isu tertentu. 

Menurut laman Detik.com, alasannya, narasumber yang memiliki kemampuan tersebut mampu menarik perhatian media untuk diwawancarai secara langsung secara umum atau eksklusif.

Tidak hanya itu, narasumber yang tajam menganalisis juga mampu menarik minat masyarakat untuk mendalami informasi. 

4. Narasumber Berani, Runut, dan Berwawasan Luas

Kriteria keempat: narasumber harus berani, berpikiran runut, dan berwawasan luas.

Narasumber yang berani mampu mengungkapkan kebenaran, fakta, dan data demi kepentingan publik. Meski begitu, ia harus dapat menyampaikannya secara runut, logis, dan mudah dimengerti. 

Ditambah lagi, narasumber tersebut haruslah berwawasan luas dan inklusif agar informasi yang disampaikan ke masyarakat mudah dipahami. 

5. Narasumber Mudah Dihubungi dan Paham Jurnalistik

Kriteria terakhir, narasumber sebaiknya mudah dihubungi dan memahami jurnalistik.

Mengapa? Alasannya agar narasumber dapat dimintai keterangan sesegera mungkin untuk merespons peristiwa atau isu. 

Tidak hanya itu, dalam keadaan genting dan segera, narasumber perlu memahami jurnalistik agar mudah ditemui, dimintai keterangan, dan menyampaikan pernyataan yang nantinya akan membantu jurnalis untuk mengolahnya.

Tips Wawancara Narasumber untuk Artikel Profil

Pada dasarnya, melakukan wawancara narasumber butuh persiapan baik dari segi informasi hingga mental.

Menurut laman Universitas Columbia, interview narasumber fokus pada satu individu. Sudut pandang atau pasak berita (news peg) yang sering digunakan adalah untuk membenarkan profil narasumber. 

Masih dari laman Universitas Columbia, agar wawancara narasumber berjalan efektif, Anda mempersiapkan diri dengan hati-hati dan mengajukan pertanyaan yang mendorong narasumber dapat berbicara dengan luwes. Lima tips berikut dapat membantu Anda. 

1. Pelajari Sebanyak-Banyaknya Seputar Narasumber

Tips wawancara narasumber yang pertama adalah pelajari narasumber.

Narasumber adalah individu kunci sebuah informasi. Sebelum melakukan wawancara, Anda wajib mempelajari sebanyak-banyaknya informasi, baik dari segi biografi, sepak terjang, hingga kontroversi atau publikasi. 

Tujuan mendalami pesona narasumber adalah agar Anda mudah mengajukan pertanyaan yang mampu mengarahkan narasumber untuk memberikan informasi penting. Selanjutnya, Anda dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan interview

Bagaimana cara mempelajarinya? Anda dapat menggali informasinya di media sosial. Laman International Center for Journalists memberi tips, yakni lakukan identifikasi dan cari points of commonality atau kesamaan atau sesuatu yang menarik. 

Bila perlu, Anda dapat menggali informasi yang menggambarkannya secara kuat dari segi keotentikan hingga kualitas sebelum wawancara narasumber.

Jika memungkinkan, Anda dapat mempraktikkan small talk atau mengobrol sebagai titik untuk memulai wawancara. 

Always research your subject beforehand.” 

– Damian Radcliffe, International Center for Journalists, Amerika Serikat

2. Bangun Hubungan dengan Narasumber

Tips wawancara narasumber yang berikutnya adalah bangun hubungan dengan narasumber.

Laman Writer’s Digest menyatakan, menjadi pewawancara yang baik adalah menjadi seseorang yang mudah didekati, membumi, dan penuh perhatian. Cara ini membuat narasumber lupa bahwa Anda sedang mewawancarainya.

Masih dari laman Writer’s Digest, saat melakukan wawancara narasumber, pastikan Anda gunakan pertanyaan terbuka (open-ended question).

Jenis pertanyaan seperti ini membuat narasumber leluasa untuk bercerita secara lengkap. Narasumber pun dapat menunjukkan keotentikannya sebagai individu. 

Tidak hanya itu, Anda juga wajib menjadi pendengar yang baik. Tunjukkan gestur Anda tertarik dengan cerita dan mengapresiasinya.

Salah satunya, pertanyaan terbuka, bukan yes/no question, dapat membantu Anda menyelami informasi lebih empatik namun juga berimbang.

Selama sesi, pastikan proses berjalan dengan santai dan tidak terburu-buru. Biarkan diri Anda menjadi yang bijak.

Jika Anda tidak memahami pembicaraan narasumber, tanyakan atau hentikan sesi, biarkan narasumber menjelaskannya. Bila perlu, lakukan sesi wawancara dalam waktu singkat. 

3. Pertimbangkan untuk Jeda selama Wawancara Panjang

Tips wawancara narasumber yang terakhir adalah pertimbangkan jeda selama wawancara panjang.

Rasa lelah yang intens dan sulit konsentrasi akan terasa selama wawancara. Hal tersebut akan menyebabkan kesalahpahaman selama berinteraksi dengan narasumber. 

Sama halnya dengan fokus menulis konten, istirahat juga dibutuhkan selama wawancara narasumber.

Saat interview, Anda melakukan banyak tugas dalam satu waktu, mulai dari mendengarkan, mengolah informasi, mencatat, merekam, hingga memastikan diri tetap in line dengan obrolan narasumber. 

Malcolm Gladwell, penulis buku best-seller, pelaku public speaking, dan jurnalis, dalam laman Masterclass, memberi tips saat melakukan wawancara panjang, yakni ambil jeda dan berhenti.

Setelahnya, ajukan follow-up question untuk melanjutkan wawancara narasumber keesokan harinya. 

4. Jangan Khawatir Lakukan Off-List

Tips wawancara narasumber yang tidak kalah penting: jangan khawatir melakukan off-list narasumber atau sesi wawancara. 

Laman Indeed mengatakan, adalah alami jika sesi wawancara tidak sekaku yang Anda rencanakan, bahkan untuk daftar narasumber sekali pun.

Anda dapat fleksibel, namun risikonya narasumber akan menyampaikan informasi yang tidak terduga, kurang relevan, atau bahkan lebih menarik untuk dijadikan berita. 

Dengan begitu, penting bagi Anda untuk mengarahkan percakapan wawancara tetap pada area relevan dan mencakup topik liputan yang Anda ajukan, sambil tetap memberi kebebasan pada narasumber. 

5. Jujurlah, Dipercaya, dan Otentik

Tips tambahan ketika wawancara, Anda perlu bersikap jujur, dipercaya, dan otentik. Sebab kamera atau tatapan mata narasumber akan terfokus pada diri Anda. 

Laman The Forge mengatakan, sikap tersebut dapat diidentifikasi oleh narasumber.

Jika terdapat tanda ketidakjujuran, kebosanan, atau sejenisnya, maka akan menghilangkan keterhubungan Anda dengan audiens, jika liputan tersebut disiarkan langsung melalui layar kaca atau video. 

“… you must believe what you are saying with complete conviction. Your emotions are transparent to the lens, so what you say must be honest and come from the heart.”

– The Forge.

Contoh Pertanyaan Wawancara Narasumber

Untuk mengetahui gambaran wawancara, berikut contoh-contoh pertanyaan bersama narasumber yang dirangkum dari berbagai referensi. 

  • “Sampai umur berapa kamu baru tahu bahwa kakek nenek kamu bukan orang tua kamu?” – oleh Andy F. Noya kepada Niatus Sholihah, kreator konten. (YouTube Metro TV)
  • “Banyak yang bilang sebenarnya utang kita dalam bentuk rupiah. Karena bentuk rupiah, kita aman Prof, sebagaimana Amerika [Serikat], banyak utang tapi utangnya dalam bentuk dolar. Dia sendiri memproduksi dolar, makanya aman. Bagaimana ini Prof [Faisal]?” – oleh mantan diplomat Indonesia, Aji Surya pada ekonom Faisal Basri. (YouTube kumparan).
  • “… cuman gua mau tau gimana prosesnya dari SMASH [diselingi tawa] sampai review seblak tuh gimana ceritanya?” – oleh Deddy Corbuzier pada personel SMASH asal Garut Jawa Barat, Rafael Tan. (YouTube Deddy Corbuzier).
  • “Gimana sih Dinda [reporter Project Multatuli] melihat kondisi dunia, terutama keresahan anak muda?” – oleh Joan Rumengan pada Permata Adinda. (YouTube Project Multatuli).

Kesimpulan

Melakukan wawancara narasumber butuh persiapan matang dan intelegensi yang kuat.

Pekerjaan ini membutuhkan banyak tugas, namun di satu sisi harus menjadi interviewer dan teman “ngobrol” yang bijak dan relevan, agar tidak terasa seperti wawancara. 

Secara umum, terdapat tiga insights mengenai wawancara narasumber, yakni sebagai berikut. 

  1. Mempelajari informasi seputar narasumber sebanyak-banyaknya
  2. Membangun hubungan yang empatik dan luwes dengan narasumber
  3. Mempertimbangkan jeda atau istirahat selama wawancara panjang

Itulah beberapa tips untuk wawancara profil yang bisa Anda lakukan. Semoga dengan insight di atas membantu Anda melakukan wawancara narasumber untuk produksi konten Anda.


RadVoice Indonesia dapat membantu Anda menulis dan mempublikasikan blog perusahaan Anda. Berbekal pendekatan bercerita dan standar konten yang tinggi, RadVoice Indonesia akan bekerja sama dengan Anda untuk menulis artikel yang edukatif dan membuat brand Anda semakin menonjol.

Jadwalkan konsultasi online dengan RadVoice Indonesia di sini. 100% gratis, tanpa komitmen.